Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Tidak ada yang salah dengan berjoget. Karena joget merupakan angan-angan keindahan daya pikir manusia. Berjoget boleh saja asal tahu “empan papan”, kapan waktu yang tepat untuk berjoget. Aksi beberapa anggota DPR berjoget saat Sidang Tahunan 2025 memicu kegaduhan masyarakat. Para anggota dewan dinilai tidak peka terhadap kondisi rakyat yang sedang dilanda kesulitan ekonomi.
“Mungkin lain ceritanya kalau jogetnya bareng rakyat di lapangan, Mo,” celetuk Petruk prihatin. Romo Semar memilih diam tidak mau komentar banyak dengan euforia anggota dewan joget berjamaah di sela-sela acara kenegaraan. Romo Semar sedang galau dengan kegaduhan datang silih berganti ibarat tiada henti. Mulai kegaduhan ijazah, demo Pati, kisruh royalti dan yang terakhir tertangkapnya OTT wakil menteri dalam kasus pemerasan.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Kopi selain nikmat diseruput pagi hari, secangkir kopi dapat mengencerkan daya pikir. Penganan singkong bakar dan pisang rebus menambah nikmatnya sarapan pagi ala padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatan Romo Semar ke zaman Mahabarata. Di mana, Bethari Wilutama dan Dewa Bayu terkena kutukan Dewa Guru karena berjoget saat sidang paripurna di Khayangan Jongring Saloka.
Baca juga : Dirgahayu Hastina Merdeka
Kocap kacarito, Bethara Guru mengadakan sidang paripurna di Khayangan Jogring saloka untuk merumuskan kebijakan para titah di Arcapada. Di tengah acara sidang formal, Bethari Wilutama bergoyang ringan untuk menghilangkan kantuk dan kepenatan. Pakaian tipis tembus pandang yang dikenakan Wilutama mengundang mata nakal para dewa yang mengikuti sidang Khayangan.
Dewa Bayu yang dikenal sebagai dewanya angin, tergoda melihat pemandangan erotik lekuk tubuh Bethari Wilutama. Dengan kekuatan anginnya, Dewa Bayu berhasil menyingkap pakaian tipis yang melekat rapat tubuh Wilutama. Alhasil, kegaduhan terjadi di tengah jalannya sidang paripurna Khayangan.
Bethara Guru sebagai pemimpin sidang murka melihat kegaduhan yang disebabkan perilaku iseng Wilutama dan Dewa Bayu. Keduanya dipanggil Bethara Guru sebagai konsekuensi atas tindakan mereka berdua. Dewa Bayu dikutuk menjadi Raksasa sebesar gunung anakan. Sedangkan Dewi Wilutama dikutuk menjadi seekor harimau betina. Keduanya diusir dari Khayangan, karena dianggap tidak pantas sebagai wakil titah Arcapada.
Baca juga : Kisruh Upeti Tinggi Sang Bupati
Raksasa jelmaan Dewa Bayu bersemayam di tengah hutan Tribaksara. Dewa Bayu menjalani hidup sebagai kutukan dan menunggu satria Pandawa yang dapat meruwat dirinya. Kelak wujud Dewa Bayu pulih seperti sediakala setelah bertemu Bima.
Sedangkan wujud Bethari Wilutama kembali dari wujud harimau betina setelah bertemu dengan satria panengah Pandawa yaitu Harjuna. Konon, Harjuna tanpa sengaja ketemu seekor harimau di tengah perjalanan ke Padepokan Sapta Arga. Harimau tersebut dipanah dengan panah saktinya. Dan akhirnya berubah wujud sebagai Bethari Wilutama.
“Mungkin para anggota dewan yang berjoget perlu diruwat juga, Mo," sela Petruk cengengesan. Romo Semar mesem tidak serta merta menanggapi komentar Petruk.
Baca juga : Amnesti Untuk Kalanjaya Dan Kalantaka
“Seharusnya para anggota dewan berpacu menyumbangkan buah pikirannya yang inovatif," kata Romo Semar dengan suara gemetar. “Bukan malah melukai perasaan rakyat dengan perilaku nyleneh. Sebagai wakil rakyat, tunjukkan dengan keteladanan dan konsisten dalam ucapan dan tindakan, “ papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.