Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Penanggalan Jawa satu Suro jatuh pada Jumat Kliwon 27 Juni 2025. Satu Suro jatuh pada hari Jumat dinamakan “Sukro Mangkoro” tahun kelabang. Kelabang atau lipan termasuk binatang berbisa bertubuh pipih seperti cacing berkaki banyak. Watak kelabang memiliki racun mematikan, sedikit banyak mempengaruhi perilaku manusia. Seperti ucapan para ulama dan kaum cendekia bertuah menjadi kenyataan. Namun di sisi lain, sumpah serapah terhadap pemimpin yang tidak amanah bakal terjadi di tahun kelabang.
“Ibarat tersengat kelabang, Pak Menteri Pendidikan terseret kasus pengadaan computer, Mo,” celetuk Petruk, cengengesan. Romo Semar mesem kecut menanggapi komentar Petruk. Romo Semar sejatinya sedang galau dengan perilaku menyimpang para pemimpin yang seharusnya menjadi penjaga moral dan adab anak bangsa, justru berhadapan kasus hukum.
Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Pisang rebus dan jadah bakar menjadi menu wajib sarapan paginya. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Ramayana, ketika Prabu Arjuna Sasrabahu melakukan introspeksi diri setelah berkonflik dengan Prabu Rahwana.
Baca juga : Kisruh Narasi Sejarah Tahta Hastina
Kocap kacarito, konflik terbuka antara kerajaan Maespati dan Alengka berlangsung cukup lama. Pemicunya adalah Arjuna Sasrabahu membendung sungai Narmada untuk memenuhi permintaan istri yang ingin berenang di aliran sungai. Luapan air sungai menyebabkan banjir bandang di ibu kota kerajaan Alengka. Rahwana marah besar atas perilaku egois Prabu Arjuna Sasrabahu tersebut.
Rahwana membawa pasukan lengkap ngeluruk ke Maespati. Patih Suwanda berusaha menahan serangan pasukan Alengka. Kekuatan pasukan Alengka jauh lebih besar dibanding kekuatan Maespati. Patih Suwanda gugur dalam pertempuran. Kematian Suwanda membuat Arjuna Sasrabahu marah dan membalas serangan ke Alengka.
Dalam pertempuran balasan, Prabu Arjuna Sasrabahu berhasil mengalahkan Rahwana. Bahkan Rahwana tangannya diborgol dan diseret kereta perang memutari alun-alun Alengka. Walaupun tubuh hancur, Rahwana hidup kembali karena memiliki ajian Pancasona.
Baca juga : Geger Rebutan Wilayah Tunggorono
Pertarungan antara Arjuna Sasrabahu dan Rahwana membuat goro-goro para dewa di Khayangan. Bethara Guru mengutus Dewa Narada dan Resi Pulasta untuk menghentikan peperangan. Resi Pulasta yang masih kakek buyut Rahwana minta Arjuna Sasrabahu mengampuni Rahwana. Arjuna Sasrabahu mau mengampuni Rahwana, dengan syarat bertobat dan tidak membuat kerusuhan lagi.
Prabu Arjuna Sasrabahu menyadari kekeliruannya setelah ditegur Dewa Narada. Sebagai raja gung binatara, tidak semestinya Arjuna Sasrabahu lebih mementingkan kepentingan pribadi di atas kepentingan orang banyak. Dan pada akhirnya dapat memicu konflik berkepanjangan dengan Prabu Rahwana.
“Kelak Prabu Arjuna Sasrabahu gugur oleh kapak Rama Bargawa, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Ibarat siapa menabur angin bakal menuai badai. Kekuasaan besar memerlukan tanggung jawab besar. Wewenang dan kekuasaan kalau disalahgunakan untuk kepentingan pribadi tinggal menunggu waktu saja. Seperti yang terjadi kepada Prabu Arjuna Sasrabahu,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya