Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Al-Biruni, yang bernama lengkap Abu al-Raihan Muhammad ibn Ahmad ibn al-Biruni, lahir di Kath, Khiva, sebuah kota di wilayah aliran Sungai Oxus (kini termasuk Uzbekistan), pada 4 September 973 M. Riwayat hidup masa kecilnya tidak banyak diungkapkan, bahkan tentang ayahnya pun sedikit sekali informasi yang tersedia.
Sekitar usia 20 tahun, Al-Biruni sudah mampu melahirkan banyak karya dalam bidang sains. Karena hidup sezaman dengan ilmuwan besar lainnya seperti Ibnu Sina, ia sering terlibat dalam berbagai dialog ilmiah.
Baca juga : Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Al-Fazari
Selain menguasai beragam cabang ilmu pengetahuan, Al-Biruni juga fasih dalam berbagai bahasa, antara lain Arab, Turki, Persia, Sanskerta, Ibrani, dan Suriah. Semasa muda, ia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur.
Al-Biruni dikenal sebagai pengembara ilmiah yang menjelajahi berbagai pelosok dunia untuk melakukan ekspedisi pengetahuan. Ia sangat terkesan ketika mengikuti perjalanan Sultan Mahmud dari Ghazni ke India, di mana ia mempelajari bahasa Sanskerta dan mendalami berbagai aspek kebudayaan India.
Baca juga : Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Al-Khawarizmi
George Sarton (1952) menyebutnya sebagai “Leonardo da Vinci-nya Islam”, sementara Ajram (1992) menilai bahwa Al-Biruni bahkan lebih hebat daripada da Vinci. Menurut Ajram, karya monumental Al-Biruni mencapai 13.000 halaman, belum termasuk karya-karya lain yang hilang. Ajram menyayangkan sikap dunia Barat yang sering menyembunyikan atau setengah hati memberikan pengakuan terhadap ilmuwan Muslim pada masa keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-14).
Yang lebih menyedihkan, sejumlah karya ilmuwan Muslim bahkan diplagiasi oleh ilmuwan Barat. Misalnya, Roger Bacon, yang kemudian kredibilitas ilmiahnya menurun drastis setelah diketahui bahwa sebagian besar karyanya merupakan terjemahan hampir penuh dari karya Optik Al-Haitsam.
Baca juga : Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Ibn Rusyd
Al-Biruni begitu mengesankan dunia keilmuan Barat sehingga ia pernah menerima berbagai gelar kehormatan akademik, termasuk “World’s First Great Experimenter.”
Salah satu kontribusi pentingnya di bidang fisika adalah pengukuran berat jenis (specific gravity) berbagai zat dengan hasil yang sangat cermat dan akurat. Lebih dari itu, ia menciptakan piknometer, alat untuk mengukur berat jenis cairan yang terbuat dari kaca berbentuk bulat—murah, sederhana, namun efektif.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.