Dark/Light Mode

Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (64)

Mengenal Ilmuwan Baitul Hikmah: Jabir Ibn Hayyan

Senin, 27 Oktober 2025 06:02 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Tulisan ini melanjutkan artikel taulitik sebelumnya. Edisi 22 Oktober 2025 yang lalu, memuat seri ke-63. Berikut adalah serial lanjutannya.

Jabir ibn Hayyan, yang di Barat lebih dikenal dengan nama Geber, memiliki nama lengkap Abû Musâ Jabir bin Hayyan al-Kufi al-Thusi al-Shufi al-Azadi. Ia lahir pada tahun 100 H/721 M di Khurasan, Iran, dari keluarga penganut Syiah yang bergelar al-Harrani dari kelompok Mawali.

Baca juga : Dekonsentrasi Dinasti Utsmani (Ottoman)

Jabir memiliki hubungan dekat dengan Imam Ja‘far ash-Shadiq, imam keenam dalam mazhab Syiah Dua Belas (Itsna Asyariyah) atau mazhab Ja‘fari. Selain dikenal sebagai pendiri mazhab hukum Syiah, Ja‘far ash-Shadiq juga merupakan tokoh penting dalam bidang pengetahuan spiritual dan esoteris. Pengaruh ajaran Syiah terlihat jelas dalam karya-karya Jabir, seperti dalam Mukhtar Rasa’il.

Ayahnya dikenal sebagai penjual obat-obatan di kota mereka. Hayyan sendiri berasal dari Syam, lalu pindah ke Thus, sebuah kota kecil sekitar 27 km di utara Masyhad, yang terkenal sebagai tempat persinggahan para pedagang dari berbagai negeri, terutama Baghdad, Turkistan, dan Cina.

Baca juga : Industri Kreatif Jadi Mesin Pertumbuhan

Jabir ibn Hayyan digambarkan bertubuh besar dan tinggi, dengan kumis dan janggut yang rapi. Namun, penampilannya jauh dari kesan kasar atau angkuh. Ia dikenal sangat santun dan rendah hati, sesuai dengan sifat seorang sufi yang gemar bertakhannus (menyepi) di malam hari.

Di rumahnya, Jabir memiliki bilik khusus yang dalam istilah tasawuf disebut khanqa, tempat ia berkontemplasi dan berdzikir, terutama pada malam hari. Dalam perenungannya, ia menyimpulkan suatu gagasan spiritual yang disebutnya alkimia, yakni bahwa jiwa yang kasar dan kotor dapat diangkat menjadi jiwa yang bersih dan suci melalui proses latihan spiritual seperti riyadhah dan mujahadah. Ia pun aktif memperkenalkan teori alkimia ini kepada masyarakat pada masanya.

Baca juga : Belajar Dari Baitul Hikmah: Pengaruh Kehancuran Baitul Hikmah

Pada siang hari, Jabir menghabiskan waktunya di laboratorium. Ia berobsesi membuktikan hasil kontemplasinya: bahwa logam dasar yang murah dapat diubah menjadi logam mulia (emas) melalui proses penempaan tertentu. Ketekunannya membuahkan hasil — ia berhasil membuktikan bahwa logam dasar memang bisa diubah menjadi logam mulia. Proses ini kemudian dikenal sebagai proses kimia, yang membuatnya kemudian dijuluki “Bapak Ilmu Kimia” (The Father of Chemistry) oleh Will Durant.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.