BREAKING NEWS
 

5 Tantangan Penyakit Menular Haji/Umrah 2026

Sabtu, 22 November 2025 07:44 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 22 November 2025 ini, saya menjadi pembicara acara ilmiah 10 tahun Perhimpunan Dokter Kesehatan Haji Indonesia (PERDOKHI), bersama pembicara dari Malaysia dan Arab Saudi. Ada 5 hal yang saya sampaikan sehubungan tantangan penyakit yang perlu diantisipasi jemaah haji dan umrah, baik pada 2026 maupun tahun-tahun sesudahnya.

Pertama, saya mengutip ­artikel ilmiah berjudul Watch list of diseases and public health signals, Hajj-Umrah, 2025-2026 yang siap untuk publikasi pada Desember 2025.

Artikel ini menuliskan 15 penyakit/virus dan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai jemaah haji dan umrah pada 2026, yaitu virus Chandipura, Naegleria fowleri, Nipah virus, Rift Valley, cacing screwworm, Influenza H5N1, Influenza H9N2, Meningococcal disease, Mpox, Polio, Ebola, Dengue, Chikungunya, virus Campak, dan ancaman resistensi antimikroba (antimicrobial resistance).

Kedua, saya menyampaikan daftar risiko penularan penyakit di dunia. Data global menunjukkan bahwa ada 6,3 persen daerah di dunia dalam risiko tinggi penularan penyakit dan bahkan 3 persen berisiko amat tinggi.

Proporsinya masing-masing adalah di Amerika Latin (27,1 persen), Oseania (18,6 persen), Asia (6,9 persen), Afrika (5,2 persen), Eropa (0,2 persen), dan Amerika Utara (0,08 persen).

Baca juga : 10 Tantangan Tuberkulosis Di 2025

Selanjutnya, sekitar 20 ­persen penduduk dunia tinggal di daerah dengan risiko penularan ­penyakit menengah, dan 3 ­persen tinggal di daerah ­dengan risiko penularan tinggi dan ­sangat tinggi.

Ketiga, saya menyampaikan 9 penyakit yang menjadi prioritas WHO dengan kemungkinan risikonya untuk menjadi wabah dan bukan tidak mungkin pandemi, dengan mempertimbangkan kemungkinan penelitian dan pengembangannya.

Kesembilan penyakit ini adalah Covid-19, Crimean-­Congo haemorrhagic fever, Ebola dan Marburg, Lassa fever, Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), penyakit Nipah dan henipaviral, Rift ­Valley fever, Zika, dan ‘Disease X’.

Keempat, saya menyampaikan risiko yang mungkin dihadapi oleh seseorang dalam kerumunan amat besar (mass ga­thering) seperti ketika menjalankan ­ibadah haji.

Adsense

Ada dua risiko yang perlu diantisipasi. Pertama, adalah penyakit menular, utamanya karena kerumunan orang, higiene yang tidak terjaga baik, masalah sanitasi, dan pergerakan manusia dalam jumlah besar.

Baca juga : Hari Kesehatan Dan Hari Pneumonia

Kedua adalah risiko penyakit tidak menular, antara lain karena cuaca panas, terjepit dalam kerumunan (stampedes), kerusakan lingkungan, dan tantangan situasi keamanan.

Kelima, saya menyampaikan tentang aturan baru yang lebih ketat dari Pemerintah Arab Saudi untuk Haji tahun 2026.

Berita media massa mengutip pernyataan Menteri Haji dan Umrah kita yang menyebutkan bahwa ada sejumlah penyakit dan kondisi yang dipastikan tidak memenuhi syarat istitha’ah, seperti gagal fungsi organ vital seperti gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah rutin, gagal jantung berat, kerusakan hati berat, dan penyakit paru kronis dengan kebutuhan oksigen terus-menerus.

Lalu penyakit saraf atau ­gangguan kejiwaan berat yang mempengaruhi kesadaran dan aktivitas, termasuk lansia ­dengan demensia. Juga keha­milan berisiko tinggi, terutama pada trimester ketiga.

Ditegaskan juga tentang ­penyakit menular aktif, seperti tuberkulosis paru terbuka dan demam berdarah. Selanjutnya termasuk juga kanker stadium lanjut atau pasien yang sedang menjalani kemoterapi, penyakit jantung koroner dan hipertensi tidak terkontrol, diabetes melitus tidak terkontrol, penyakit autoimun yang tidak terkendali, epilepsi dan stroke, serta ­gangguan mental berat.

Baca juga : Perhatikan Tuberkulosis Tanpa Gejala

Disebutkan bahwa calon jemaah 2026 dengan kondisi ­tersebut dipastikan tidak me­menuhi syarat kesehatan atau istitha’ah.

Upaya pengendalian kese­hatan jemaah haji dan umroh jelas merupakan komponen amat penting dalam penyelenggaraan kegiatan ibadah, dan perlu jadi prioritas penting.

Pengetahuan tentang penyakit-penyakit ini, bagaimana pencegahan dan penanganannya harus dikuasai oleh petugas kesehatan, dan juga tentunya oleh Kementerian Haji dan Umroh kita.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
-
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI /Adjunct Pro­fessor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024 - Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024-PERSI
- Penerima Penghargaan ­Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense