Dark/Light Mode
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Pada 9 November 2025, pemerintah menggelar kampanye penanggulangan tuberkulosis (TB) di berbagai acara Car Free Day di sejumlah kota di Indonesia. Kegiatan ini dikemas dalam acara bertajuk “Kick Off TOSS TB”, yang merupakan singkatan dari Temukan, Obati, Sampai Sembuh.
Untuk wilayah Jakarta, acara digelar di kawasan Bundaran HI dan dihadiri oleh menteri, wakil menteri, gubernur, serta para pejabat terkait lainnya. Tentu kita menyambut baik kegiatan ini. Diharapkan, gerakan ini dapat menjadi pemicu peningkatan program eliminasi TB, yang merupakan salah satu bagian dari Asta Cita.
Dalam momentum ini, penting diingatkan bahwa selain tuberkulosis yang sudah banyak dikenal masyarakat, dunia medis juga mengenal tuberkulosis tanpa gejala atau asymptomatic tuberculosis, yang juga disebut sebagai tuberkulosis subklinis.
Baca juga : Pentingnya Skrining Dan Pencegahan Dalam Penanggulangan Tuberkulosis
Angkanya tidak kecil. WHO bahkan menyatakan, dari berbagai penelitian, diperkirakan sekitar setengah dari kasus TB yang terdeteksi bakterinya pada survei prevalensi nasional ternyata tidak menunjukkan gejala klinis khas TB, seperti batuk menetap dan gejala umum lainnya. Karena jumlahnya bisa mencapai separuh dari kasus bergejala, maka pemerintah perlu memberi perhatian lebih terhadap TB tanpa gejala ini dalam berbagai program penanggulangan yang sedang berjalan.
Perlu diketahui bahwa dunia medis belum sepenuhnya memahami perjalanan alamiah (natural history) penyakit tuberkulosis. Selama ini dipahami bahwa tuberkulosis tanpa gejala merupakan tahapan antara seseorang yang baru tertular kuman TB, belum menunjukkan gejala, lalu kemudian baru muncul gejala klinis seperti batuk berkepanjangan, badan lemah, atau keringat malam. Namun, harus diakui bahwa pemahaman ini belum sepenuhnya memiliki dasar ilmiah yang kuat, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut yang mendalam.
Ada pula pandangan yang dikutip WHO bahwa jika seseorang dengan TB tanpa gejala dapat sembuh dengan sendirinya, maka beban kesakitannya (burden of illness) akan minimal. Namun di sisi lain, TB tanpa gejala yang tidak diobati dapat berlanjut menjadi kasus berat—misalnya, timbul kavitas atau lubang pada paru.
Baca juga : MBG Kita Dan Pengalaman India
Pertanyaan penting lainnya adalah bagaimana potensi penularan dari penderita TB tanpa gejala, termasuk berapa lama mereka bisa menularkan bila tidak mendapat pengobatan. WHO membagi TB tanpa gejala menjadi dua kategori: TB tanpa gejala dengan konfirmasi bakteriologis, dan TB tanpa gejala tanpa konfirmasi bakteriologis (bacteriologically unconfirmed). Disebutkan bahwa TB tanpa gejala yang bakterinya terkonfirmasi tentu memiliki potensi lebih besar untuk menularkan penyakit ke masyarakat.
Sebagai penutup, ada tiga hal penting dari WHO tentang TB tanpa gejala yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan kita semua. Pertama, analisis data penelitian dari 14 negara di Asia dan Afrika menunjukkan dugaan bahwa sekitar dua pertiga penularan TB di dunia terjadi dari kasus TB tanpa gejala.
Kedua, mereka yang memiliki TB tanpa gejala tentu tidak akan datang berobat ke fasilitas kesehatan. Satu-satunya cara menemukan mereka adalah dengan melakukan skrining menyeluruh di seluruh pelosok negeri. Hal ini sejalan dengan pentingnya kegiatan skrining tuberkulosis sebagaimana telah saya sampaikan dalam artikel di Rakyat Merdeka, 7 November 2025.
Baca juga : Hari Flu Sedunia, 1 November 2025
Ketiga, WHO juga menegaskan bahwa pengobatan bagi penderita TB tanpa gejala sama dengan regimen pengobatan pasien TB bergejala.
Mari bersama-sama kita tangani tuberkulosis di negeri ini, termasuk tuberkulosis tanpa gejala. Jangan lengah!
Oleh: Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Badan Pengawas Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI)
- Dewan Penasehat Stop TB Partnership Indonesia (STPI)
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI (April 2024) - Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.