Dark/Light Mode

Hari Flu Sedunia, 1 November 2025

Sabtu, 1 November 2025 07:42 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Tanggal 1 November diperingati di seluruh dunia sebagai Hari Flu Sedunia (World Flu Day). Peringatan ini dimulai pada tahun 2018 melalui sebuah simposium internasional yang di­selenggarakan untuk memperingati 100 tahun pandemi Flu Spanyol 1918. Tujuan peringatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dunia tentang influenza, mendorong penelitian ilmiah agar tersedia vaksin flu universal, serta memperkuat kerja sama global dalam pencegahan dan pengendalian influenza.

Bagi kita di Indonesia, momentum ini sangat relevan karena saat ini kasus flu sedang meningkat, sebagaimana diberitakan di berbagai media massa. Pandemi Flu 1918 dikenal sangat dahsyat dan disebut sebagai “mother of all pandemics.” Jumlah kasusnya mencapai sekitar 500 juta orang, dengan 20 hingga 50 juta kematian. Dampaknya begitu besar hingga usia ­harapan hidup global sempat turun beberapa tahun. Jumlah korban meninggal bahkan melebihi mereka yang tewas dalam Perang Dunia I.

Yang menarik, pandemi flu 1918 bermula dari gelombang pertama yang ringan, kemudian disusul gelombang berikutnya yang jauh lebih menular. Artinya, walaupun peningkatan kasus saat ini belum bisa disebut sebagai wabah, kewaspadaan tetap harus dijaga.

Baca juga : Lima Saran Kesehatan

Secara historis, laporan pertama tentang Flu Spanyol muncul dalam Weekly Public Health Report pada 5 April 1918, yang mencatat 18 kasus berat dan 3 kematian di Haskell, Kansas, Amerika Serikat. Pada tahun 1933, para peneliti Smith, Andrewes, dan Laidlaw berhasil mengisolasi virus influenza A pada hewan percobaan. Tiga tahun ke­mudian, pada 1936, Francis berhasil mengisolasi virus influenza B.

Sejauh ini, dunia telah ­mengalami empat kali pandemi flu, yakni pada tahun 1918 akibat virus influenza A (H1N1), tahun 1957–1958 akibat virus influenza A (H2N2), tahun 1968 akibat virus influenza A (H3N2), dan tahun 2009 yang disebabkan oleh virus influenza A (H1N1pdm09). Selain itu, pada tahun 1977 juga sempat terjadi peningkatan kasus akibat virus influenza A (H1N1) yang dikenal sebagai “pseudo pandemic.”

Menurut WHO, pada tahun 2025 ini diperkirakan terdapat sekitar 1 miliar orang di dunia yang terinfeksi influenza setiap tahunnya. Sebanyak 3 hingga 5 juta di antaranya menga­lami gejala berat, dan sekitar 290.000–650.000 orang meninggal dunia akibat penyakit ini setiap tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa influenza tetap menjadi ­ancaman kesehatan global yang tidak bisa dianggap sepele.

Baca juga : Menuju Fakultas Kedokteran Internasional

Kondisi ini, ditambah me­ningkatnya kasus flu di Indo­nesia dan negara-negara ­tetangga, menjadikan pe­ringatan Hari Flu Sedunia ­sebagai momentum penting ­untuk memperdalam pemahaman masyarakat terhadap penyakit ini. Flu adalah musuh bersama yang selalu datang dari waktu ke waktu, atau ­seperti disebut Centers for ­Disease Control China (CDCC), “Be Aware of the Unavoidable Enemy.

Dalam rangka mempe­ringati Hari Flu Sedunia 2025, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyelenggarakan berbagai kegiatan di tingkat nasional dan daerah, mulai dari konferensi pers, webinar, hingga podcast. Topik yang dibahas mencakup pentingnya pencegahan flu, dampak influenza A terhadap paru dan saluran pernapasan, serta penanganan medis yang tepat. Dalam press release-nya, PDPI menyampaikan pesan penting: “Bersatu melawan influenza, lindungi diri sendiri dan orang di sekitar kita,” sesuai tema Hari Flu Sedunia 2025, yaitu “Unite Against Influenza-Protect Yourself, Protect Others.”

Selain PDPI, organisasi lain seperti Indonesia Influenza Foundation (IIF) juga turut berpartisipasi dengan menye­lenggarakan Simposium ­Hibrida dan menerbitkan booklet edukatif untuk mening­katkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya influenza.

Baca juga : Hari Dokter, FIMMA Dan Asta Cita

Sebagai penutup, WHO menegaskan bahwa vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah influenza. Karena itu, kita berharap pemerintah dapat memfasilitasi pemberian vaksin flu bagi masyarakat yang memerlukannya, seba­gaimana telah dilakukan di sejumlah negara tetangga.

Oleh: Prof Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Brisbane, Australia
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta Mantan Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024, Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 dari Persatuan Rumah Sakit se-Indonesia, dan Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.