Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Jurnal ilmiah internasional The Lancet baru-baru ini memuat artikel berjudul “Flooding and excessive rainfall risk respiratory health”. Uraiannya relevan sebagai rujukan dalam menangani masalah kesehatan paru dan pernapasan para pengungsi bencana di Sumatera saat ini.
Disebutkan bahwa banjir dan hujan deras berkepanjangan dapat berdampak buruk pada kesehatan pernapasan. Secara langsung, air banjir dapat mengandung berbagai kontaminan, seperti toksin, pestisida, serta patogen penyebab penyakit yang ditularkan melalui air (water-borne diseases). Ketika mengering, kontaminan tersebut bisa berubah menjadi debu dan mencemari udara sehingga terhirup ke dalam paru.
Baca juga : Penanganan Kesehatan Bencana Di Sumatera
Ada pula kajian terkait kemungkinan dampak jamur di lingkungan pascabanjir. Memang belum ada penelitian memadai mengenai dampak spesifik jamur pascabanjir terhadap paru. Namun, secara umum kita mengetahui beberapa penyakit paru akibat jamur, seperti aspergilosis.
Selain itu, berdasarkan penelitian jamur dalam lingkungan ruang (indoor environment)—paparan jamur dapat mencetuskan serangan asma, memperburuk bronkitis, menimbulkan batuk dan sesak, serta, meskipun jarang, berkaitan dengan Pneumonia Hipersensitif. Bila kelak tersedia bukti ilmiah yang lebih jelas, kewaspadaan terhadap dampak jamur pascabanjir perlu ditingkatkan.
Baca juga : Lima Anak Meninggal Di Riau Karena Influenza
Beberapa waktu terakhir, media juga menyoroti temuan mikroplastik dalam air hujan. Hal ini perlu diidentifikasi lebih lanjut untuk mengetahui apakah terjadi pula di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Selain artikel The Lancet tersebut, dikenal pula istilah refugee respiratory health, atau kesehatan paru dan pernapasan para pengungsi. Istilah ini mencakup pengungsi akibat perang, konflik, maupun bencana alam. Termasuk yang kini ada di Sumatera. Ada dua dampak utama yang harus diantisipasi.
Pertama, peningkatan penyakit infeksi, seperti ISPA termasuk Influenza. Terlebih saat ini dunia sedang menghadapi peningkatan kasus Influenza akibat H3N2, yang bukan tidak mungkin juga muncul di Sumatera. Sebaiknya Kementerian Kesehatan memberi penjelasan virus apa yang dominan dialami para pengungsi saat ini. Selain ISPA, dapat pula terjadi pneumonia, peningkatan kasus tuberkulosis, serta infeksi lain seperti Respiratory Syncytial Virus (RSV).
Baca juga : 5 Tantangan Penyakit Menular Haji/Umrah 2026
Kedua, kemungkinan meningkatnya penyakit tidak menular, seperti perburukan asma bronkial dan eksaserbasi Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Situasi pengungsian yang padat, stamina pengungsi yang menurun, dan stres akibat bencana menjadi faktor pemicu.
Kita tentu berharap lebih dari setengah juta pengungsi di Sumatera memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai, termasuk untuk kesehatan paru dan pernapasannya. Perlu diingat bahwa penanganan kesehatan bukan hanya mengobati yang sakit, tetapi menjaga agar para pengungsi yang sehat tetap sehat dan tidak jatuh sakit.
Semoga bencana di Sumatera dapat segera teratasi, dan saudara-saudara kita di sana dapat kembali menata kehidupan dengan baik.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University
- Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit, serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI;
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2025
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.