BREAKING NEWS
 

Tujuh Kemajuan Imunisasi Dunia 2025

Jumat, 26 Desember 2025 06:45 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Di akhir 2025 ini, dunia melaporkan tujuh kemajuan dalam pencegahan berbagai penyakit melalui imunisasi. Laporan tersebut disampaikan oleh Direktur Department of Immunization, Vaccines and Biologicals WHO di Jenewa. Tentu akan baik kalau kita menilai perkembangan dunia ini dengan aktivitas penanganan “penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)” di negara kita.

Hal pertama yang disampaikan WHO adalah kematian akibat campak di dunia turun 88 persen sejak tahun 2000, yang tentu utamanya karena makin luasnya cakupan imunisasi campak di berbagai negara. Sudah ada 96 negara yang mencapai status eliminasi campak, yang dapat terjadi karena setidaknya tiga hal: kuatnya komitmen politik, tingginya cakupan imunisasi campak, dan sistem surveilans yang resilien.

Di sisi lain, berbagai negara masih melaporkan peningkatan kasus campak, seperti pernah juga dilaporkan di negara kita. Rakyat Merdeka RM.id, 27 Agustus 2025, misalnya, menurunkan berita berjudul “Dinkes Bangkalan Madura Tetapkan Status Darurat, 548 Anak Kena Campak, 1 Wafat”. Untuk keadaan seperti ini, WHO menganjurkan tiga kegiatan utama, yaitu surveilans berkelanjutan, penanganan kejadian luar biasa, dan vaksinasi untuk mengatasi keadaan (catch-up vaccination).

Baca juga : Tuberkulosis Di Bencana Banjir

Kemajuan kedua adalah bahwa pada tahun 2025 dunia meluncurkan vaksin malaria. Di akhir 2025 sudah ada 24 negara di Afrika yang memasukkan vaksinasi malaria dalam program imunisasi nasional negaranya. WHO World Malaria Report 2025 menyebutkan empat komponen penting penanganan malaria, yaitu peningkatan akses pada vaksin malaria pada anak-anak yang merupakan intervensi utama, bersama dengan upaya penanganan kasus, pengendalian vektor, serta pemberian kemoprofilaksis. Untuk negara kita, masalah malaria terutama ada di Papua, serta juga di kawasan timur Indonesia.

Hal ketiga tentang imunisasi adalah makin majunya penelitian untuk mendapatkan vaksin baru tuberkulosis, untuk menggantikan vaksin BCG yang sudah berumur lebih dari 100 tahun. Pada November 2025 lalu, WHO telah mengeluarkan laporan kemajuan (milestone report) tentang hal ini. Indonesia merupakan negara penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak kedua di dunia, dan jika nantinya tersedia vaksin tuberkulosis yang baru, tentu ini menjadi kabar baik bagi kita.

Adsense

Hal keempat, tahun 2021 juga ditandai dengan kemajuan penting dalam upaya dunia memerangi meningitis. WHO telah menerbitkan pedoman global pertama untuk diagnosis meningitis, pengobatan, dan perawatannya. Negara-negara dunia juga berkomitmen menerapkan peta jalan penanggulangan meningitis hingga 2030, Defeating Meningitis by 2030. Dalam hal ini perlu pula dicatat vaksinasi streptokokus grup B untuk perlindungan ibu dan bayi baru lahir terhadap penyakit ini.

Baca juga : WNI Dengan Kusta Di Rumania

Kemajuan kelima, tahun 2025 menandai 25 tahun bebas polio di kawasan WHO Pasifik Barat (Western Pacific), yang kini juga mencakup negara kita. Artinya, selama 25 tahun tidak ada kasus akibat polio liar setempat (indigenous wild poliovirus), walaupun di Indonesia masih ditemukan kasus yang berhubungan dengan vaksin, atau vaccine-derived poliovirus (VDPV). Kita mengetahui bahwa pada tahun 2025 ini jemaah haji Indonesia harus mendapatkan imunisasi polio, antara lain karena adanya kasus VDPV di tanah air.

Hal keenam adalah tentang imunisasi demam kuning. International Coordinating Group memproses ketersediaan vaksin demam kuning secara darurat sebanyak 6 juta dosis. Selain vaksin sebagai respons cepat menangani peningkatan kasus, juga dilakukan vaksinasi pencegahan yang melindungi lebih dari 38 juta orang di negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo, Guinea-Bissau, Nigeria, dan Uganda.

Kemajuan ketujuh yang disampaikan WHO di akhir 2025 ini adalah kemajuan vaksinasi human papilloma virus (HPV). Pada tahun 2025, target memvaksinasi HPV pada 86 juta anak perempuan berhasil dicapai. Semakin banyak negara yang memasukkan vaksinasi HPV ke dalam program imunisasi nasional mereka, yang tentu mendukung visi global agar kanker serviks tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.

Baca juga : Pelayanan Rumah Sakit Pascabencana Banjir

Laporan WHO di akhir tahun ini sangat baik dan tentu akan lebih baik lagi jika Indonesia juga memiliki analisis serta laporan serupa.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI,
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense