Dark/Light Mode

WNI Dengan Kusta Di Rumania

Kamis, 18 Desember 2025 07:21 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Kantor Berita Reuters pada 12 Desember 2025 beberapa hari yang lalu menurunkan berita bahwa Rumania ­menemukan dua kasus kusta/lepra di kota Cluj negara itu. Dituliskan bahwa ini adalah kasus kusta pertama di Rumania sesudah lebih dari 40 tahun tidak pernah ada kasus kusta lagi disana, dan ironisnya kedua kasus ini adalah Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di sebagai tukang pijat (masseur) di Spa di kota itu.

Disebutkan juga bahwa salah satu dari dua kasus ini ter­nyata baru datang dari Asia, dia merawat Ibunya selama sekitar sebulan di rumah sakit dengan kusta pula. Memang berita ­Reuters tidak menyebutkan nama negaranya secara jelas dan hanya menyebut dari Asia, tapi yang pasti ini adalah orang Indonesia. Untuk ini akan baik kalau Kementerian Kesehatan kita kemudian menelusuri di Rumah Sakit mana ibu kasus ini dirawat, dan dicek juga pola penularannya karena ternyata menular ke anak si ibu dan lalu dibawa ke Rumania ini.

Sehubungan dengan temuan kasus kusta ini, maka otoritas kesehatan Rumainia dengan sigap melakukan setidaknya tiga hal. Pertama, dua kasus yang WNI kita itu sekarang sedang diobati pemerintah Rumania. Kedua, selain dua kasus positif kusta itu maka ada dua orang lagi yang sekarang sedang dalam pengawasan untuk mengetahui apakah sudah tertular kusat juga atau tidak, tidak dijelaskan kewarganegaraan dua orang dalam pengawasan ini.

Di sisi lain, berita media massa kita menyebutkan, ada tiga WNI lain yang sedang menjalani isolasi dan pengawasan medis karena melakukan kontak dekat dengan kedua WNI yang positif kusta itu. Ketiga, pemerintah setempat sekarang menutup sementara Spa tempat dua WNI kita yang dengan kusta itu bekerja, ­sambil menunggu investigasi lebih lanjut.

Baca juga : Pelayanan Rumah Sakit Pascabencana Banjir

Kusta memang masih menjadi salah satu masalah kese­hatan di negara kita, walaupun kita ­sudah lebih dari 80 tahun merdeka, dan penyakit kusta sudah ditemukan di dunia lebih dari 3500 tahun yang lalu. Penjelasan Kemente­rian Kesehatan menyebutkan, setidaknya masih ditemukan 10.450 kasus kusta baru di ­Indonesia pada tahun 2025, dan ini tersebar di seluruh 38 provinsi, tentu termasuk 3 provinsi yang sekarang sedang mengalami bencana banjir.

Negara kita adalah salah satu dari tiga negara dengan kasus kusta terbanyak di dunia, bersama Brazil dan India. Strategi Umum Pengentasan Kusta di negara kita adalah peningkatan penemuan kasus, agar dapat ­ditangani dengan baik.

Ini dilakukan mengingat setidak­nya ada tiga permasalahan yang perlu ditanggulangi. Pertama adalah masih rendah­nya ­penemuan kasus diban­ding estimasi jumlah kasus yang ada, yaitu baru 38,9 persen sesuai data tahun 2024. Kedua, cakupan kemoprofilaksis yang juga masih rendah, yaitu 13,9 persen di tahun 2024, apalagi kalau mengingat adanya ­target 80 persen. Ketiga, cakupan pengobatan selesai tepat waktu masih di angka 84 persen.

Perlu pula diketahui, kusta adalah penyakit yang tergolong dalam “Neglected Tropical ­Diseases - NTD” (Penyakit Menular Terabaikan), yaitu berbagai penyakit yang punya aspek kesehatan, sosial dan ­ekonomi. Pada umumnya ­penyakit tropik terabaikan memang banyak terjadi pada daerah yang sulit, dan atau juga berhubungan dengan kemis­kinan, sehingga pernah disebutkan sebagai “the disease begin when the roads end”. Tentu ada juga penyakit tropik terabaikan yang terjadi di perkotaan, walaupun memang lebih banyak di pedesaan.

Baca juga : Antisipasi Kemungkinan KLB Penyakit Pasca Banjir Besar

Ada beberapa masalah penya­kit tropik terabaikan di ­negara kita selain kusta ini. Salah ­satunya adalah Schistosomiasis, atau demam keong. Pada waktu Indonesia masih bergabung dalam WHO Asia ­Tenggara (South East Asia Regional ­Office – SEARO) maka hanya ada dua negara yang punya kasus Schistosomiaasis, yaitu Indonesia dan Timor Leste.

Analisa yang sudah pernah dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan, Indonesia sebenarnya sudah sangat dekat untuk eliminasi penularan Schistosomiasis, tetapi sampai kini memang masih belum terwujud, walau kasusnya tinggal sedikit. Memang pada dasarnya untuk eliminasi atau eradikasi suatu penyakit menular maka upaya penuntasan kasus-kasus terakhir (last mile elimination/eradication) itu seringkali amat sulit, tetapi jelas harus diupayakan maksimal.

Selain Schistosomiasis, maka kita juga masih punya beberapa penyakit tropik terabaikan lainnya, seperti kaki gajah (filariasis), kecacingan dan patek (frambusia). Untuk kaki gajah (filariasis), masih ada 236 Kabupatem/kota yang Endemis penyakit ini, dan sampai Mei 2025 baru ada 43 di antaranya yang sudah mencapai status eliminasi filariasis, artinya masih banyak kabupaten/kota yang perlu ditangani.

Sementara untuk penyakit patek (frambusia), dari 79 kabupaten/kota yang endemis penyakit ini maka baru ada 22 yang tersertifikasi bebas frambusia, atau sampai 80 tahun ­Indonesia merdeka ini masih ada 57 kabupaten/kota yang belum tersertifikasi bebas frambusia atau belum bebas “pateken”. Tentang kecacingan maka kita ingat kasusnya pernah heboh diberitakan beberapa waktu lalu.

Baca juga : Kesehatan Paru Dan Pernapasan Pengungsi Sumatera

Kusta dan berbagai penyakit tropik terabaikan di negara kita jelas merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang harus kita tangani. ­Semoga segera dapat diselesaikan ­dengan baik.

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit serta Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024 
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 - PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.