BREAKING NEWS
 

Riset Kesehatan Dan Tambahan Anggaran Riset Oleh Presiden

Senin, 19 Januari 2026 07:49 WIB
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan

RM.id  Rakyat Merdeka - Pada 17 Januari 2026, Rakyat Merdeka menurunkan berita berjudul “Kumpulkan 1.200 Guru Besar, Prabowo Fokus Cetak SDM Berkualitas”. Berita tersebut mengutip pernyataan Mendikti Saintek yang menyampaikan bahwa Presiden menambah alokasi dana untuk riset dan inovasi seluruh perguruan tinggi hingga Rp 4 triliun.

Karena kita mengetahui ­bahwa kesehatan merupakan salah satu aspek utama kehidupan, maka tentu harapannya akan ada ­penguatan yang bermakna bagi riset kesehatan di negara kita. Untuk itu, perlu disampaikan usulan cakupan dan pendekatan riset kesehatan yang dapat dipertimbangkan oleh para penentu kebijakan.

Riset kesehatan setidaknya mencakup lima area penting. Pertama, mengukur besaran dan sebaran masalah kesehatan. Kedua, memahami berbagai kemungkinan penyebab suatu masalah kesehatan dengan determinan yang kompleks. Penyakit menular, misalnya, bukan hanya disebabkan oleh mikro­organisme (bakteri, virus, parasit, dan jamur), tetapi juga dipengaruhi oleh faktor perilaku, lingkungan, serta sosial ekonomi. Ketiga, meneliti dan menemukan solusi atau cara intervensi untuk pencegahan, mitigasi, dan pengobatan masalah kesehatan pada individu maupun masyarakat.

Baca juga : Super Flu Di Tahun Baru

Keempat, menemukan bentuk implementasi terbaik untuk ­mengatasi masalah kesehatan, termasuk merumuskan kebijakan dan program kesehatan yang tepat. Kelima, melakukan riset untuk mengevaluasi dampak implementasi berbagai solusi masalah kesehatan di berbagai tingkatan.

Adsense

WHO setidaknya menggunakan tiga pendekatan dalam riset kesehatan global yang juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia. Pendekatan pertama adalah mengantisipasi pergeseran ilmiah, teknologi, serta epidemiologi penyakit dan masalah kesehatan. Kita perlu mengantisipasi perkembangan teknologi riset dan penemuan alat diagnostik, obat, serta vaksin sejalan dengan perubahan epidemiologi penyakit di masyarakat. Untuk itu diperlukan penilaian menyeluruh secara sistematis (systematic horizon scanning) yang dilakukan secara ketat dan berkelanjutan. Ini merupakan pekerjaan besar bagi pe­nanggung jawab riset kesehatan di negara kita.

Selain itu, dibutuhkan penilaian prospektif terhadap inovasi sains dan teknologi, ­termasuk untuk mengiden­tifikasi secara dini potensi masalah dan bahaya kesehatan. Cakupannya harus luas, termasuk ­aspek genomik. WHO, misal­nya, memiliki WHO ­Advisory Committee on Deve­loping Global Standards for Governance and Oversight of Human Genome Editing yang menilai aspek ilmiah, etika, sosial, dan legal terkait genomik manusia, sesuatu yang juga sebaiknya dikembangkan di Indonesia.

Baca juga : Tonggak Pencapaian Pengendalian Penyakit Menular Dunia 2025

Pendekatan riset kesehatan kedua WHO adalah penyusunan agenda riset, penilaian kesen­jangan, serta penentuan prioritas untuk negara tertentu. Di Indonesia, sangat mungkin terdapat perbedaan pendekatan riset kesehatan antardaerah. Misalnya, antara perkotaan dan pedesaan, kawasan Barat dan Timur, atau wilayah pegunungan dan laut. Artinya, inovasi riset kesehatan perlu mempertimbangkan keberagaman wilayah, perilaku masyarakat, kesenjangan atau ketidaksetaraan (inequities) yang ada, serta berbagai aspek lokal spesifik lainnya. Dengan mempertimbangkan variasi masalah daerah secara tepat, riset kesehatan dapat memberikan manfaat optimal bagi kesehatan bangsa.

Pendekatan riset kese­hatan ketiga adalah menjamin mutu dan keandalan kegiatan ­ilmiah yang dilakukan. Hal ini ­sangat penting karena hasil riset ­kesehatan langsung dirasakan oleh masyarakat, terlebih pada situasi krisis seperti pandemi Covid-19. Bahkan pada kondisi seperti Super Flu saat ini.

Karena itu dibutuhkan pakar ilmiah yang andal dan tepercaya. Di tingkat WHO, para pakar tersebut tergabung dalam WHO Science Council. Pakar ber­pengalaman dengan reputasi ilmiah yang kuat akan men­jamin kredibilitas dan mutu riset kesehatan, sesuatu yang sangat dibutuhkan baik di tingkat global maupun nasional. Lima area riset kesehatan dan tiga pendekatan riset kesehatan WHO tersebut dapat disesuaikan untuk diterapkan di Indonesia, sebagai bagian dari upaya menyambut kebijakan penting Presiden terkait penambahan anggaran riset.

Baca juga : Tujuh Kemajuan Imunisasi Dunia 2025

Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit
- Mantan Kepala Balitbangkes
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024–PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense