RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, tampil di panggung World Economic Forum (WEF) Davos sebagai representasi Indonesia di ranah strategis global, tempat para pemimpin dunia, ekonom internasional, dan pemikir peradaban berkumpul membaca arah masa depan umat manusia.
Forum tersebut adalah pertemuan geopolitik, ekonomi, dan moral global dalam satu ruang yang sama. Di forum inilah sebuah bangsa dinilai selain dari kekuatan ekonominya, yakni dari kedalaman visi, kematangan kepemimpinan, dan kejernihan arah peradabannya.
Pidato Presiden Prabowo tidak dimulai dari angka, grafik, atau statistik. Ia dimulai dari fondasi besar yang menjadi inti seluruh narasinya, yaitu perdamaian dan stabilitas. Ia menegaskan bahwa kemakmuran hanya dapat tumbuh di atas stabilitas, dan pertumbuhan hanya dapat berkelanjutan jika dibangun di atas kepercayaan.
Dari titik inilah bangunan pemikiran ekonominya disusun. Ekonomi diposisikan sebagai sistem kehidupan bersama yang menopang peradaban.
Kerangka yang dibangun Prabowo adalah ekonomi yang menyatu dengan tata kelola negara, kepastian hukum, legitimasi moral, dan arah kebijakan jangka panjang. Pertumbuhan dipahami sebagai proses berkelanjutan.
Pembangunan diposisikan sebagai perjalanan peradaban, bukan sekadar proyek kekuasaan. Negara hadir sebagai penjaga arah, pasar hadir sebagai mitra produktif, dan rakyat hadir sebagai tujuan utama.
Baca juga : Menperin: WEF Davos 2026 Jadi Momentum Penguatan Industri Nasional RI
Konsep pemikiran ekonomi yang ia sampaikan membentuk satu desain besar yang saling terhubung. Dari pembentukan Danantara sebagai sovereign wealth fund, penguatan tata kelola BUMN, efisiensi anggaran, industrialisasi, hingga penguatan human capital, pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, UMKM, dan pembangunan desa, semuanya tersusun dalam satu arsitektur kebijakan yang koheren, menjadi satu sistem pembangunan yang utuh dan menjadi arah besar negara.
Dalam kerangka itu, kebijakan sosial diposisikan sebagai investasi produktif. Program makan bergizi gratis (MBG) bagi anak-anak Indonesia, ibu hamil, dan kelompok rentan, yang dijalankan secara nasional, ditempatkan sebagai strategi pembangunan manusia sekaligus penggerak ekonomi.
Negara membangun kualitas generasi, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat melalui rantai pasok UMKM, koperasi, dan sektor produksi lokal. Inilah wajah ekonomi yang tidak hanya mengejar angka, tetapi membangun manusia.
Dalam perspektif hubungan internasional, pidato ini membentuk citra Indonesia sebagai negara yang matang secara geopolitik. Indonesia hadir sebagai mitra strategis global dan subjek kerja sama. Hubungan antar negara dibaca sebagai ruang kolaborasi. Inilah bentuk soft power ekonomi yang kuat, karena dibangun melalui konsistensi kebijakan, kredibilitas negara, dan kepercayaan jangka panjang.
Dalam ranah hubungan internasional, saya melihat pidato ini menyatukan ekonomi dan politik luar negeri dalam satu nafas besar. Ekonomi dijalankan sebagai instrumen perdamaian.
Diplomasi dijalankan sebagai arsitektur kepercayaan. Investasi dijalankan sebagai kemitraan peradaban. Negara memosisikan diri dalam logika kolaborasi. Dunia harus dilihat sebagai ruang perjumpaan kepentingan yang dapat disinergikan, bukan ladang untuk mengeruk dan mengeksploitasi tanpa batas.
Baca juga : Prabowo di WEF 2026 Davos: Satu Bulan Lagi, MBG Kalahkan McDonald
Di titik inilah makna politik ekonomi Prabowo menjadi sangat jelas. Ia menyampaikan dengan tegas sebuah prinsip geopolitik yang sederhana namun dalam. Presiden Prabowo mengatakan hal ini.
“Seribu kawan masih terlalu sedikit, satu musuh sudah terlalu banyak.”
Kalimat ini adalah filosofi kebijakan. Seribu persahabatan membangun stabilitas global, jaringan kerja sama, dan kepercayaan antarbangsa. Satu permusuhan saja cukup untuk meruntuhkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Di sinilah terlihat bahwa politik luar negeri yang ia bangun adalah politik relasi, politik persahabatan dan politik kepercayaan.
Prinsip ini menjelaskan mengapa ekonomi dalam pandangan Prabowo tidak dipisahkan dari perdamaian. Investasi membutuhkan stabilitas. Pertumbuhan membutuhkan kepercayaan. Kerja sama membutuhkan rasa aman. Semua itu hanya lahir dari relasi antarnegara yang sehat. Maka ekonomi baginya adalah instrumen peradaban.
Di tengah dunia yang dipenuhi turbulensi, polarisasi, dan kegaduhan global, Indonesia memilih jalan yang tenang, kokoh, dan bermartabat. Jalan damai. Jalan stabilitas. Jalan kolaborasi. Jalan pertumbuhan yang berkeadilan.
Pidato Prabowo di Davos memperlihatkan bahwa Indonesia sedang membangun sebuah paradigma besar, yakni politik ekonomi perdamaian. Sebuah arah pembangunan yang menempatkan manusia sebagai pusat, negara sebagai penjaga arah, pasar sebagai mitra, dan dunia sebagai ruang persahabatan.
Baca juga : Prabowo di WEF 2026 Davos: Tak Ada Iklim Investasi Tanpa Penegakan Hukum
Di sanalah ekonomi berhenti menjadi sekadar angka, dan berubah menjadi alat peradaban. Kekuasaan berhenti menjadi simbol, dan berubah menjadi tanggung jawab. Kepemimpinan berhenti menjadi jabatan, dan berubah menjadi pengabdian.
Dan disanalah Indonesia mengambil posisinya. Sebagai bangsa yang memilih damai sebagai strategi, stabilitas sebagai fondasi, dan persahabatan sebagai jalan masa depan dunia.
Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, S. Ag., M. Si, Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.