Tausiah Politik
RM.id Rakyat Merdeka - “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi. Kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakanlah makhluk, dan melalui-Ku mereka pun mengenal-Ku.” (Hadis Qudsi)
Di atas alam sudah tidak ada lagi alam, namun masih ada keberadaan (al-hadharat) yang tidak lagi disebut sebagai alam. Ia bukan bagian dari alam dan memang bukan alam, sesuai dengan definisi alam: segala sesuatu selain Allah (kullu ma siwa Allah/other than God). Yang ada hanyalah martabat atau maqam yang tidak bisa lagi disebut sebagai alam dalam arti apa pun selain Allah (ma siwa Allah). Martabat di atas alam Jabarut biasanya disebut sebagai entitas yang tidak berubah (al-A’yan al-Tsabitah/Immutable Entities).
Al-A’yan al-Tsabitah sudah masuk dalam level pembahasan yang tinggi (advanced) dan tidak banyak ditemukan dalam buku-buku tasawuf populer. Konsep terperinci tentang al-A’yan al-Tsabitah hanya dapat ditemukan dalam karya-karya Ibn ‘Arabi, seperti Fushush al-Hikam dan Futuhat al-Makkiyyah (4 jilid).
Selain pembahasannya yang amat rumit, boleh jadi juga dianggap tidak menarik karena sepintas tidak memberikan manfaat instan bagi pencari Tuhan pada level pragmatis. Namun justru materi-materi seperti ini amat dibutuhkan oleh mereka yang menginginkan kedalaman hakikat dan makrifah.
Baca juga : Apa Itu Kajian Teosofi?
Untuk mengenal Tuhan secara lebih mendalam memang tidak mudah. Menurut Jalaluddin Rumi, bukan Tuhan yang pelit memperkenalkan diri-Nya, melainkan “apa arti sebuah gelas untuk menampung samudra.” Kapasitas akal pikiran manusia sangat terbatas, diibaratkan seperti gelas untuk memuat ilmu Tuhan yang diumpamakan sebagai samudra. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.