BREAKING NEWS
 

Mitigasi Melambungnya Harga Plastik Pada Komoditas Pangan

Rabu, 15 April 2026 08:21 WIB
Tulus Abadi
Pengamat Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik

RM.id  Rakyat Merdeka - Dampak perang di Timur Tengah ternyata sangat kompleks dan eskalatif; bukan hanya pada harga energi (bahan bakar minyak/BBM dan gas elpiji). Dampak perang juga merambah ke harga plastik, karena bahan baku plastik berasal dari minyak bumi (minyak mentah). Dari minyak mentah (crude oil), diolah menjadi nafta, lalu menjadi bijih plastik, dan akhirnya menjadi produk plastik.

Pada akhirnya, kenaikan harga bahan plastik tersebut berdampak pada harga bahan pangan, baik makanan maupun minuman yang dikemas dengan plastik. Secara empiris, di era serba instan dan modern, sangat sulit menemukan makanan atau minuman tanpa kemasan plastik. Bahkan, kemasan plastik kerap diklaim sebagai temuan spektakuler dari sisi keamanan pangan. Tanpa plastik, pangan akan lebih mudah busuk, tercemar, dan tingkat keamanannya menurun.

Lalu, kebijakan dan perilaku apa yang perlu dilakukan untuk memitigasi agar dampak perang tidak terlalu memengaruhi harga pangan, khususnya yang menggunakan kemasan plastik?

Dari sisi hukum ekonomi, sulit menghindari dampak tersebut. Harga pangan hampir pasti naik karena kemasan plastik menjadi bagian tak terpisahkan dari fixed cost suatu produk. Bahkan, harga plastik disebut melonjak hingga 100 persen. Tidak banyak pilihan bagi industri makanan dan minuman selain menaikkan harga produknya akibat lonjakan tersebut.

Baca juga : Narasi Pemakzulan Prabowo Tak Berdasar, Inflasi dan Defisit Masih Aman

Konsumsi plastik masyarakat Indonesia mencapai 66 juta ton per tahun, atau sekitar 0,5 kg per orang per hari. Angka ini tentu memprihatinkan.

Dari sisi perilaku konsumen, kenaikan harga plastik yang diikuti kenaikan harga pangan seharusnya menjadi momentum untuk mengurangi atau mengendalikan konsumsi makanan dan minuman yang mengandung GGL (gula, garam, lemak) tinggi. Umumnya, produk dengan kandungan GGL tinggi dikemas dalam plastik, seperti minuman dalam kemasan (MBDK). Konsumen juga dapat mengurangi konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) atau air mineral botolan.

Dengan kata lain, kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk sekaligus menyelamatkan lingkungan, mengingat dampak negatif plastik yang besar.

Adsense

Selain itu, masyarakat dapat menerapkan pola refill (isi ulang) dan reuse (guna ulang). Misalnya, menggunakan tumbler untuk minuman yang dapat diisi ulang dari air galon. Saat berbelanja, konsumen juga dianjurkan membawa tas belanja sendiri agar tidak bergantung pada kantong plastik.

Baca juga : Pentingnya Penulisan Yang Jelas & Ringkas Dalam Komunikasi Publik

Untuk makanan basah seperti kue tradisional, pedagang dapat mulai beralih ke kemasan alami seperti daun pisang atau daun lainnya, tanpa perlu dilapisi plastik seperti selama ini. Bahkan, daun pisang dipercaya dapat menambah cita rasa makanan.

Dampak perang juga berpotensi memicu kenaikan harga rokok, terutama rokok filter yang menggunakan komponen plastik dan kertas. Jika harga rokok naik, hal ini justru berdampak positif bagi kesehatan. Momentum ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengurangi, bahkan menghentikan kebiasaan merokok. Tingginya konsumsi rokok berdampak ganda, yakni pada kesehatan dan ekonomi rumah tangga, terutama bagi kelompok menengah ke bawah.

Kenaikan harga plastik juga menjadi momentum untuk memitigasi dampaknya terhadap lingkungan. Plastik diketahui menghasilkan jejak karbon yang signifikan. Sayangnya, kebijakan Extended Producer Responsibility (EPR) yang menjadi mandat Undang-Undang Lingkungan Hidup belum diimplementasikan secara optimal oleh pelaku usaha, dan belum ada sanksi tegas dari pemerintah.

EPR merupakan mekanisme yang mewajibkan produsen menarik kembali sampah kemasan dari pasar guna mengurangi limbah, khususnya plastik. Termasuk di dalamnya sampah kemasan dan puntung rokok yang tergolong limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Baca juga : Masuki Kemarau Jaga Stok Pangan

Kenaikan harga plastik seharusnya menjadi pendorong bagi pemerintah dan produsen untuk berinovasi menciptakan bahan kemasan alternatif yang tidak berbasis minyak bumi. Pengembangan plastik berbahan nabati yang biodegradable menjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan.

Jika ketergantungan pada plastik berbasis minyak bumi terus berlanjut, maka risiko high cost economy akan semakin besar, mengingat cadangan minyak bumi yang terus menipis.

Dampak perang di Timur Tengah, yang belum jelas kapan akan berakhir, seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk melakukan transformasi menuju kehidupan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan—baik dari sisi sosial, ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense