Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Koran Rakyat Merdeka edisi 5 Mei 2026 memuat artikel saya berjudul "Meninggalnya Para Dokter Internship Kita". Ketika itu, Forum Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Seluruh Indonesia (FIAKSI) menyebutkan bahwa ada empat orang teman sejawat dokter internship yang wafat sejak Februari hingga Mei 2026. Kejadian yang amat menyedihkan ini kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian Kesehatan, sebagaimana diberitakan Rakyat Merdeka/RM.id dengan judul "Menkes Benahi Sistem Internship - Dokter Muda Maksimal Kerja 40 Jam Seminggu".
Dalam berita tersebut, antara lain disebutkan bahwa pemerintah menemukan masih banyak persoalan dalam pelaksanaan program internship dokter di rumah sakit sehingga perlu dilakukan evaluasi besar-besaran.
Dikutip pula pernyataan Menteri Kesehatan yang menyebutkan, "Program internship harus menjadi ruang belajar yang aman dan sehat," serta, "Perlindungan peserta internship harus diperkuat agar lebih manusiawi."
Kini, kita kembali berduka. Berbagai media massa pada 22 Juli 2026 memberitakan bahwa ada lagi teman sejawat dokter internship yang meninggal dunia, kali ini dikabarkan terjadi di Lampung. Apabila informasi tersebut benar, berarti sudah ada lima dokter internship yang meninggal dunia dalam kurun Februari hingga Juli 2026, tentu dengan penyebab yang berbeda-beda.
Baca juga : Dokter Kita Kembali Meninggal, Amat Menyedihkan
Ada lima hal yang dapat disampaikan terkait kejadian tragis yang terus berulang ini. Pertama, meninggalnya para dokter internship tidak dapat dinilai hanya dari jumlah korban yang wafat. Peristiwa ini harus dipahami secara lebih luas, mendalam, dan manusiawi.
Kedua, tentu kita belum dapat mengambil kesimpulan mengenai penyebab kematian sebelum investigasi, bahkan mungkin juga autopsi, dilakukan. Namun, bagaimanapun juga, sungguh menyedihkan jika kita terus-menerus mendengar istilah "investigasi kematian dokter" terjadi berulang di berbagai daerah di negeri ini. Jelas diperlukan perhatian dan prioritas yang sangat serius terhadap situasi yang memprihatinkan ini.
Ketiga, kita semua mengetahui bahwa pekerjaan seorang dokter di klinik maupun rumah sakit merupakan pekerjaan yang berat. Tugas tersebut berhubungan langsung dengan kondisi kesehatan, bahkan keselamatan jiwa pasien yang ditanganinya. Beban kerja yang sudah berat tentu akan terasa semakin berat apabila lingkungan dan suasana kerjanya tidak mendukung.
Keempat, perlu pula disadari bahwa dokter juga manusia. Dokter, termasuk yang sedang menjalani internship, dapat saja jatuh sakit, membutuhkan waktu untuk beristirahat, serta memerlukan perhatian yang memadai di lingkungan kerjanya.
Baca juga : Buku Dari Warga untuk Warga di HUT ke-499 Jakarta
Apabila seorang dokter internship sakit, setidaknya ada dua langkah yang harus dilakukan. Langkah pertama adalah memastikan ia mendapatkan pengobatan yang tepat, baik di puskesmas atau rumah sakit tempat bertugas maupun, apabila diperlukan, dirujuk ke rumah sakit lain yang memiliki fasilitas lebih memadai. Artinya, pada dokter yang sakit—sebagaimana pada setiap pasien—harus ditegakkan diagnosis yang tepat dan diberikan pengobatan sesuai dengan diagnosis serta kondisi klinisnya. Jangan sampai ada yang terlantar.
Langkah kedua, apabila berdasarkan pertimbangan medis kondisi yang bersangkutan memang memerlukan istirahat, maka ia harus diberikan waktu istirahat yang layak.
Kelima, sebagai dokter alumni FKUI, saya mengutip unggahan akun Instagram @medicine_ui pada 22 Juli 2026 mengenai Pernyataan Duka Cita Dekan FKUI.
Dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa program internship berada di luar tata kelola langsung universitas. Namun, sebagai almamater dan bagian dari ekosistem pendidikan kedokteran, FKUI memiliki tanggung jawab moral untuk terus mengingatkan pentingnya komunikasi yang terbuka, pendampingan yang nyata, pembagian beban kerja yang wajar, serta budaya kerja yang saling menghormati dan saling menjaga.
Baca juga : Ujian Calon Dokter
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa kelelahan, tekanan, ataupun rasa kesepian tidak seharusnya dipandang sebagai hal yang biasa dalam perjalanan menjadi seorang dokter. Ketangguhan profesional tidak dibangun dengan mengabaikan kemanusiaan, melainkan melalui sistem yang mampu mendengar, melindungi, dan hadir ketika seseorang membutuhkan pertolongan.
Selain itu, ditegaskan pula bahwa setiap suara, pengalaman, dan keluhan dari dokter muda harus diterima sebagai bahan refleksi dan perbaikan bersama. Naskah ini sudah siap diterbitkan.
Jika akan dimuat di Rakyat Merdeka, saya juga bisa menyesuaikannya dengan gaya opini koran agar lebih mengalir, lebih tajam, dan lebih kuat dari sisi argumentasi.
Prof. Tjandra Yoga Aditama -Direktur Pascasarjana Universitas YARSI/Adjunct Professor Griffith University, Australia -Lulus dokter pada 1980 dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Kedokteran pada 2008. -Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat, Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 dari PERSI, serta Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.