Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Prof. Tjandra Yoga
Pemerhati Kesehatan
Pemerhati Kesehatan
RM.id Rakyat Merdeka - Tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) atau World No Tobacco Day. Kita mengenal perokok aktif, perokok pasif, maupun paparan rokok tersier.
Perokok aktif adalah mereka yang memang merokok. Perokok pasif adalah mereka yang tidak merokok, tetapi terpaksa menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. Sementara itu, rokok tersier adalah paparan sisa racun berupa nikotin dan partikel kimia yang menempel pada permukaan benda, ruangan, pakaian, dan lain-lain setelah seseorang merokok.
Kita juga sama-sama mengetahui bahwa kebiasaan merokok mengganggu kesehatan dan berhubungan dengan berbagai penyakit pada tubuh manusia.
Pada 2024, jurnal ilmiah internasional Pathogens mempublikasikan hasil penelitian dalam artikel berjudul Cigarette Smoking as a Risk Factor for Tuberculosis in Adults: Epidemiology and Aspects of Disease Pathogenesis. Dalam artikel tersebut disebutkan bahwa sejak 1918 telah banyak perdebatan mengenai hubungan antara tuberkulosis (TB) dan merokok.
Namun, berbagai bukti ilmiah dari studi epidemiologi dan meta-analisis kemudian menunjukkan bahwa perokok aktif maupun perokok pasif merupakan faktor risiko untuk lima hal terkait tuberkulosis. Pertama, infeksi TB.
Baca juga : Penghargaan Pada HUT Ke-58 PPTI
Kedua, terjadinya reaktivasi TB. Ketiga, perburukan TB primer. Keempat, peningkatan keparahan kasus TB dengan kavitas atau lubang di paru. Kelima, peningkatan risiko kematian akibat TB.
Selain melalui pendekatan epidemiologi, publikasi ilmiah tersebut juga memaparkan bukti dari penelitian klinis dan laboratoris. Ada dua mekanisme yang ditemukan.
Pertama, asap rokok ternyata mengganggu, bahkan menekan (suppress), peran makrofag alveolar yang merupakan bagian penting pertahanan tubuh terhadap kuman TB. Akibatnya, kemampuan tubuh untuk secara alamiah menangani infeksi kuman tersebut menjadi menurun.
Kedua, asap rokok juga berdampak pada kuman TB itu sendiri. Melalui proses mutasi genetik, asap rokok dapat memicu resistensi sehingga kuman TB berpotensi menjadi kebal dan tidak dapat dibunuh oleh obat anti-TB yang diberikan.
Sementara itu, pada 31 Mei 2022 WHO menerbitkan publikasi berjudul Tobacco Exposed: Poisoning Our Planet and a Key Driver for the TB Epidemic. Publikasi tersebut menjelaskan sedikitnya empat dampak kebiasaan merokok terhadap tuberkulosis.
Pertama, kebiasaan merokok merupakan faktor penting dalam epidemi tuberkulosis. Pada 2020 diperkirakan terdapat 730.000 kasus TB yang berhubungan dengan kebiasaan merokok.
Kedua, risiko terkena TB dua kali lebih tinggi pada mereka yang merokok, termasuk mereka yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif.
Ketiga, kebiasaan merokok memperlambat pemulihan pasien TB. Selain itu, merokok juga berdampak pada keberhasilan pengobatan, meningkatkan risiko kekambuhan, bahkan kematian.
Keempat, pasien TB yang masih merokok ternyata lebih sering mengalami keluhan gangguan paru walaupun telah menyelesaikan pengobatan TB.
Dari uraian tersebut, jelas diperlukan koordinasi antara program pengendalian tuberkulosis dan program pengendalian konsumsi rokok. Hal ini juga perlu diterapkan di Indonesia.
Baca juga : Kasus Hantavirus Meninggal Di Ketapang
Ketika masih bekerja di Poliklinik Paru RS Persahabatan pada era 1990-an, saya membubuhkan penanda khusus mengenai kebiasaan merokok pada dokumen medis pasien TB. Saat itu seluruh dokumen masih berbentuk kertas. Jika pasien TB ternyata merokok, maka ia segera dimasukkan ke dalam program berhenti merokok.
Di tingkat nasional, akan sangat baik apabila disusun program terintegrasi antara pengendalian TB dan pengendalian merokok, lengkap dengan modul serta sumber daya yang diperlukan untuk diterapkan di seluruh fasilitas kesehatan yang menangani TB di Indonesia.
Kerja bersama dan integrasi tersebut tentu akan berdampak positif bagi upaya eliminasi tuberkulosis di negara kita. Selain itu, langkah tersebut juga akan menjadi bagian penting dalam mendukung keberhasilan program Asta Cita.
Oleh: Prof. Tjandra Yoga Aditama
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia
- Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara
- Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit
- Mantan Kepala Balitbangkes.
- Penerima Rakyat Merdeka Award 2022 Bidang Edukasi dan Literasi Kesehatan Masyarakat
- Penerima Rekor MURI April 2024
- Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024-PERSI
- Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya