BREAKING NEWS
 

Dalam Perspektif Geopolitik: Membangun DKI Jakarta Menunaikan Kemerdekaan RI

Senin, 24 Agustus 2026 07:30 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

 Sebelumnya 
Jakarta harus menjadi tempat bertemunya modal, teknologi, pengetahuan, kebudayaan, dan inovasi tanpa kehilangan identitas kebangsaannya. Di sinilah pula konsep pembangunan harus dibebaskan dari jebakan pembangunan fisik semata. Infrastruktur memang penting, tetapi manusianya jauh lebih penting. Transportasi modern tidak akan berarti jika mobilitas warga miskin semakin tersisih. Investasi asing tidak otomatis menjadi kemajuan apabila tidak menciptakan nilai tambah bagi ekonomi nasional. Digitalisasi tidak menjadi kemajuan apabila memperlebar kesenjangan.

Perspektif geopolitik membuat hal-hal tersebut semakin penting. Jakarta adalah salah satu wajah Indonesia ketika investor, diplomat, pelaku bisnis, akademisi, wisatawan, dan masyarakat internasional berinteraksi dengan negeri ini. Stabilitas Jakarta akan memengaruhi persepsi mengenai stabilitas Indonesia.

Kota yang tertib, aman, produktif, inklusif, dan memiliki tata kelola yang kredibel akan memperkuat kepercayaan inter­nasional. Sebaliknya, konflik sosial yang membesar, ketidak­pastian kebijakan, kemacetan struktural, ketimpangan ekstrem, atau krisis pelayanan publik dapat menjadi sinyal kelemahan negara.

Baca juga : Indonesia Dihormati Dunia Setelah Kemerdekaan Karena Pendiri KAA Bandung

Dengan demikian, gubernur Jakarta sesungguhnya berada pada salah satu posisi ­strategis dalam arsitektur ketahanan nasio­nal. Ia memang bukan pengambil keputusan politik luar negeri, tetapi kebijakannya dapat memperkuat atau melemahkan fondasi domestik yang menopang politik luar negeri Indonesia.

Kepemimpinan Pramono ­Anung perlu dilihat bukan ­hanya dari seberapa banyak program pemerintah daerah yang dapat diselesaikan, melainkan dari kemampuan membangun Jakarta sebagai ruang strategis bagi ketahanan Indonesia. Kepemim­pinan yang taktis harus berpijak pada visi jangka ­panjang; ­pragmatisme harus tetap memiliki kompas moral; dan modernisasi kota harus berjalan seiring ­dengan keadilan sosial.

Kemerdekaan, dengan demi­kian, menemukan salah satu bentuk konkretnya di jalan-jalan Jakarta, di stasiun MRT, di pusat-pusat ekonomi, di ­kampung-kampung warga, di ­ruang publik, di sekolah, di ­pasar, dan di kantor-kantor pemerintahan. Merdeka ber­arti rakyat memiliki kesempatan hidup bermartabat; negara memiliki kemampuan menentukan kebijakannya sendiri; dan kota memiliki kapasitas untuk melindungi warganya dari gun­cangan zaman.

Baca juga : BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara

Maka membangun DKI ­Jakarta bukan sekadar membangun sebuah megapolitan. Ia adalah bagian dari ikhtiar menunaikan janji kemerdekaan. Jika Jakarta mampu menjadi kota yang kuat secara ekonomi, tangguh secara sosial, modern secara teknologi, adil dalam pembangunan, dan berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila, maka Jakarta bukan hanya menjadi kebanggaan Indonesia. Ia dapat menjadi salah satu jangkar yang menjaga Indonesia tetap berdaulat di tengah gelombang geopolitik dunia yang semakin tidak menentu.

Di situlah kepemimpinan dari kader PDI Perjuangan, Pramono Anung, memberi isyarat kepada kepemimpinan daerah lainnya bahwa mengurus kota dengan visi dan kesadaran, sesungguhnya, adalah ketahanan Nasional sebuah bangsa, untuk Indonesia Raya.

Prof. Dr. Drs. Ermaya Suradinata, SH, MH, MS, adalah Pemerhati ­Geopolitik, dan Geostrategi, serta ­Manajemen Pemerintahan. Dan Alumni US FACOM (sekarang INDO-PASIFIK) Tahun 2002.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense