Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Indonesia Dihormati Dunia Setelah Kemerdekaan Karena Pendiri KAA Bandung
Selasa, 18 Agustus 2026 07:15 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
RM.id Rakyat Merdeka - Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 merupakan pembebasan politik dari kolonialisme, lantaran kemerdekaan tidak otomatis melahirkan kehormatan. Sebuah bangsa dapat merdeka secara hukum, memiliki bendera sendiri, pemerintahan sendiri, dan wilayah yang diakui, tetapi tetap menjadi penonton dalam percaturan dunia apabila tidak memiliki gagasan, keberanian, dan kemampuan untuk menentukan arah sejarahnya sendiri.
Karena itu, makna kemerdekaan Indonesia sesungguhnya tidak berhenti pada Proklamasi. Kemerdekaan harus dibuktikan melalui kemampuan bangsa mempertahankan kedaulatan, membangun keadilan, menciptakan kemakmuran, sekaligus menghadirkan martabat Indonesia di tengah perubahan tata dunia.
Dalam tataran inilah, peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin, 17 Agustus 2026, menjadi momentum penting untuk kembali bertanya: apakah kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa telah benar-benar menjadikan Indonesia bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur?
Baca juga : BNI Catat Fundamental Bisnis Kokoh di Bawah Danantara
Tema nasional “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” yang mengiringi puncak peringatan melalui upacara kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, bukan sekadar slogan seremonial. Melainkan pula menjadi ukuran tentang seberapa jauh cita-cita kemerdekaan telah diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan dalam posisi Indonesia di dunia.
Sepuluh tahun setelah Proklamasi, Indonesia memberikan jawaban penting terhadap persoalan kehormatan bangsa melalui Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 18–24 April 1955. Di tengah dunia yang terbelah oleh Perang Dingin, Indonesia tampil bukan sebagai negara baru yang meminta belas kasihan atau sekadar mencari tempat dalam percaturan internasional.
Indonesia justru membuka ruang bagi bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk berbicara dengan suara sendiri. Bandung menjadi momentum ketika bangsa-bangsa yang selama berabad-abad mengalami kolonialisme menegaskan bahwa kemerdekaan bukan pemberian dari kekuatan besar, melainkan hak yang melekat pada setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri.
Karena itu, KAA tidak dapat dipahami hanya sebagai keberhasilan diplomasi Indonesia. Ia merupakan pernyataan politik dan moral bahwa bangsa-bangsa yang baru merdeka memiliki hak yang sama untuk ikut menentukan masa depan dunia. Di tengah persaingan dua blok besar, Indonesia menunjukkan bahwa dunia tidak harus selalu ditentukan oleh mereka yang memiliki senjata paling banyak, ekonomi paling besar, atau pengaruh politik paling luas.
KAA Bandung juga memperlihatkan bahwa kehormatan sebuah bangsa dibangun dari keberanian menawarkan gagasan. Para pendiri KAA membaca zaman dengan tajam. Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengusulkan gagasan konferensi Asia-Afrika dalam Konferensi Kolombo 1954, kemudian gagasan tersebut dimatangkan melalui Konferensi Bogor. Presiden Ir. Soekarno memberikan energi politik dan visi antikolonial yang kuat, sementara Roeslan Abdulgani bersama para diplomat Indonesia bekerja menerjemahkan gagasan besar itu menjadi forum internasional yang konkret.
Mereka tidak sekadar menyelenggarakan sebuah konferensi. Mereka sedang menguji pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah bangsa yang baru saja keluar dari kolonialisme harus menerima dunia sebagaimana dibentuk oleh kekuatan-kekuatan besar, atau memiliki hak untuk ikut membentuk tatanan dunia yang baru? Bandung memberikan jawaban yang tegas bahwa bangsa-bangsa yang pernah dijajah tidak boleh selamanya menjadi objek sejarah.
Dari sinilah kemerdekaan Indonesia memperoleh makna yang lebih dalam. Merdeka bukan sekadar terbebas dari penjajahan secara formal, melainkan memiliki kemampuan untuk berdiri sejajar dengan bangsa lain tanpa kehilangan identitas dan kepentingan nasional. Indonesia tidak memilih untuk menyerahkan kebebasan politiknya kepada salah satu kekuatan besar yang sedang bertarung dalam Perang Dingin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya