BREAKING NEWS
 

Geopolitik Indonesia Tetap Konsisten Nonblok, Asta Cita Menjadi Jalan Menuju Indonesia Raya

Senin, 14 September 2026 06:38 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto di Vladivostok, Rusia, pada 3 September 2026 kembali menegaskan satu garis penting politik luar negeri Indonesia: tetap nonblok, tidak bergabung dengan aliansi militer mana pun, tetapi terbuka membangun hubungan dan kerja sama dengan semua negara. Penegasan tersebut disampaikan ketika Presiden menjadi tamu kehormatan utama Eastern Economic Forum ke-11.

Dalam lanskap dunia yang semakin dipenuhi persaingan kekuatan besar, pernyataan itu bukan sekadar pesan diplomatik. Ia merupakan penegasan bahwa Indonesia ingin tetap menjadi subjek dalam percaturan dunia, bukan objek yang hanya mengikuti kehendak kekuatan lain. Pilihan ini memiliki akar sejarah yang panjang. Sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 dan kelahiran Gerakan Non-Blok, Indonesia menempatkan kemerdekaan dan kedaulatan sebagai dasar dalam menentukan sikap internasional.

Baca juga : Geostrategi Moneter Dalam Mengelola Stabilitas Fiskal Dan Etika Moral Kekuasaan

Politik luar negeri bebas-aktif bukan berarti Indonesia menjauh dari dunia, apalagi bersikap pasif. Bebas berarti Indonesia tidak mengikatkan diri kepada blok kekuatan tertentu, sedangkan aktif berarti Indonesia hadir memperjuangkan perdamaian, keadilan internasional, serta kepentingan nasional. Dalam pengertian itu, nonblok bukan sekadar posisi diplomatik, melainkan manifestasi dari amanat kemerdekaan.

Dunia hari ini kembali menghadapkan Indonesia pada ujian yang tidak sederhana. Kompetisi Amerika Serikat dan China semakin kuat, Rusia tetap mempunyai pengaruh strategis, sementara India, Jepang, Uni Eropa, Australia dan berbagai kekuatan regional terus memperluas kepentingannya. Tata dunia bergerak menuju multipolaritas, tetapi multipolaritas tidak otomatis berarti dunia semakin damai. Karena itu, keputusan Indonesia untuk tidak bergabung dengan aliansi militer tertentu justru memberikan ruang gerak strategis yang lebih luas.

Baca juga : Korupsi Masih Menghantui Indonesia Sampai 2045

Indonesia dapat membangun hubungan dengan Amerika Serikat tanpa harus bermusuhan dengan Rusia. Indonesia dapat memperkuat kerja sama ekonomi dengan China tanpa harus menjauh dari Jepang, India atau Eropa. Hubungan pertahanan dengan satu negara tidak harus diterjemahkan sebagai keberpihakan kepada blok tertentu. Diplomasi Indonesia harus mampu memisahkan kepentingan nasional dari tekanan geopolitik agar setiap hubungan internasional tetap berada dalam koridor kedaulatan.

Di sinilah Asta Cita memperoleh relevansi strategis. Asta Cita tidak seharusnya hanya dibaca sebagai agenda pembangunan domestik, melainkan sebagai fondasi geopolitik Indonesia. Politik luar negeri yang bebas-aktif membutuhkan negara yang kuat dari dalam. Asta Cita pertama menempatkan penguatan ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia sebagai salah satu dasar pemerintahan. Ini penting karena politik luar negeri Indonesia tidak boleh kehilangan identitas.

Baca juga : Potensi Geopolitik Dan Geostrategi Indonesia Jadi Energi Daya Tarik Dunia

Pancasila merupakan kompas yang membedakan politik bebas-aktif Indonesia dari politik keseimbangan kekuatan semata. Indonesia dapat bersahabat dengan siapa pun, tetapi tidak boleh kehilangan prinsip. Diplomasi harus mencerminkan kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, demokrasi permusyawaratan, serta keadilan sosial. Asta Cita juga menuntut penguatan pertahanan dan keamanan nasional. Politik nonblok akan kehilangan daya tawar apabila tidak disertai kemampuan mempertahankan kedaulatan.

Adsense

Indonesia tidak perlu membangun kekuatan militer untuk mengancam negara lain, tetapi harus memiliki kemampuan yang cukup untuk mencegah siapa pun meremehkan kepentingan nasional. Kekuatan pertahanan yang mandiri menjadi penyangga diplomasi bebas-aktif. Hal yang sama berlaku dalam bidang ekonomi. Kemandirian bukan berarti menutup pintu terhadap investasi asing. Indonesia tetap membutuhkan investasi, perdagangan dan teknologi global. Namun, keterbukaan harus diletakkan dalam kerangka kepentingan nasional. Investasi harus menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja, memperkuat industri nasional dan meningkatkan kemampuan teknologi.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense