Sebelumnya
Kemandirian pangan dan energi juga merupakan bagian dari strategi geopolitik. Dalam dunia yang semakin rentan terhadap konflik dan gangguan rantai pasok, pangan dan energi bukan sekadar persoalan ekonomi. Keduanya merupakan instrumen kedaulatan. Negara yang tidak mampu menjamin kebutuhan pokok rakyatnya akan lebih mudah mengalami tekanan eksternal. Karena itu, pembangunan pertanian, perikanan, energi terbarukan, infrastruktur, industri pengolahan dan distribusi nasional harus ditempatkan sebagai bagian dari ketahanan negara.
Asta Cita harus diterjemahkan menjadi agenda memperbesar kemampuan bangsa untuk menciptakan, mengembangkan dan menguasai teknologi strategis. Kerja sama internasional harus menghasilkan transfer pengetahuan dan peningkatan kapasitas nasional, bukan ketergantungan permanen. Prinsip tersebut merupakan modal diplomasi yang sangat penting.
Baca juga : Geostrategi Moneter Dalam Mengelola Stabilitas Fiskal Dan Etika Moral Kekuasaan
Karena itu, diplomasi bebas-aktif harus bergerak dari diplomasi reaktif menuju diplomasi strategis. Indonesia tidak perlu ikut dalam setiap pertarungan geopolitik. Tidak setiap konflik harus memaksa Indonesia memilih kubu. Tetapi Indonesia juga tidak boleh diam apabila perdamaian, hukum internasional dan keadilan dunia terancam. Prinsip bebas-aktif justru memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjadi jembatan dialog ketika negara-negara lain terjebak dalam ketegangan.
Asta Cita juga mempunyai dimensi pemerintahan. Politik luar negeri yang bebas-aktif membutuhkan pemerintahan yang bersih, berwibawa dan memiliki legitimasi kuat. Korupsi, konflik kepentingan, lemahnya tata kelola dan ketimpangan sosial dapat menggerus daya tawar Indonesia dari dalam. Sebuah negara mungkin memiliki wilayah luas dan sumber daya melimpah, tetapi apabila institusinya lemah, maka kekuatan tersebut mudah berubah menjadi kerentanan.
Baca juga : Korupsi Masih Menghantui Indonesia Sampai 2045
Indonesia juga membutuhkan sumber daya manusia yang unggul. Bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus geopolitik. Indonesia Raya tidak dibangun hanya dengan gedung, jalan dan kawasan industri, tetapi juga dengan manusia yang mempunyai pengetahuan, karakter, kreativitas dan rasa kebangsaan. Dalam konteks inilah Asta Cita menjadi jembatan antara pembangunan manusia dan kekuatan negara. Indonesia Raya tidak cukup dibangun dengan kebanggaan atas sejarah, tetapi melalui kemampuan menentukan masa depan sendiri.
Dengan Pancasila sebagai kompas, kepentingan nasional sebagai orientasi, dan kerja sama global sebagai ruang perjuangan, Indonesia dapat berdiri tegak di tengah perubahan dunia: tidak menjadi satelit kekuatan mana pun, tetapi menjadi bangsa yang mampu memperbanyak sahabat, menjaga kedaulatan, dan ikut menentukan arah tata dunia menuju perdamaian, keadilan, serta kemakmuran.
Baca juga : Potensi Geopolitik Dan Geostrategi Indonesia Jadi Energi Daya Tarik Dunia
Itulah jalan menuju Indonesia Raya: bebas dalam menentukan sikap, aktif dalam membangun perdamaian, mandiri dalam membangun kekuatan, dan terbuka dalam menjalin persahabatan dengan seluruh dunia.
Ermaya Suradinata, adalah Pemerhati Geopolitik dan Geostrategi, DIREKTUR JENDERAL SOSPOL DEPDAGRI (1998-2001), dan Gubernur LEMHANNAS RI (2001-2005).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.