Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Serat Wedatama pupuh Pocung mengatakan; Ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara. Artinya Untuk mendapatkan sebuah ilmu sejati harus dengan belajar dan kemauan keras. Ilmu tidak dapat dibeli secara instan. Ilmu yang bermanfaat bukan saja dapat menyejahterakan rakyat. Akan tetapi dengan ilmu, perilaku jahat dan buruk dapat ditaklukkan.
“Kearifan pupuh Pocung tersebut apakah masih relevan saat ini, Mo?” tanya Petruk penasaran. Romo Semar memilih diam sambil menghela napas panjang tidak serta-merta mau menanggapi komentar Petruk. Romo Semar sedang galau dengan maraknya jual beli ijazah dan joki disertasi tanpa rasa malu lagi. Di sisi lain, meningkatnya angka pengangguran di negeri ini sudah mengkhawatirkan. Ibarat seribu lamaran kerja dibalas dengan seribu tolakan kerja.
Seperti biasa Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang rebus dan ubi jalar menambah nikmat sarapan pagi Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Pandita Durna menolak latar belakang pendidikan Karna.
Baca juga : Ketika Prabu Kresna Akhirnya Berpihak
Kocap Kacarito, Adipati Drestarastra menunjuk Pandita Durna sebagai guru para satria Pandawa dan Kurawa. Wilayah Sokalimo diberikan kepada Pandita Durna sebagai tempat belajar mengajar klan darah Barata. Kesaktian Pandita Durna tidak diragukan lagi. Khususnya di bidang olah pusaka dan strategi perang.
Adipati Drestarastra ingin melihat kemajuan pendidikan Kurawa dan Pandawa setelah belajar selama enam tahun. Pandita Durna menyambut baik usulan Adipati Drestarastra tersebut. Pandita Durna mengadakan ujian dan pendadaran siswa Sokalimo di alun-alun Kerajaan Hastina.
Satu per satu siswa diberi kesempatan unjuk keahlian menggunakan pusaka dan olah senjata. Bima dengan tangkas memainkan senjata gada bersama Duryudana. Arjuna prigel dan terampil melepas pusaka panah. Begitu pula Nakula dan Sadewa dengan lincah memainkan pusaka keris andalannya.
Baca juga : Wejangan Bima Dan Kehidupan Sejati
Saat terjadi adu kekuatan di blabar kawat, muncul anak muda dengan lantang menantang Arjuna. Karna memilih Arjuna sebagai lawan tanding, karena Arjuna dianggap paling sakti menggunakan senjata panah. Anak muda tersebut bernama Karna, anak angkat kusir Adirata.
Pandita Durna marah dan mengusir Karna keluar dari arena pendadaran siswa Sokalimo. Karna dianggap tidak level melawan satria Pandawa dan Kurawa. Sebagai anak kusir tidak sepantasnya mengikuti uji kesaktian yang diadakan klan Barata.
Sengkuni jeli melihat potensi dan kesaktian Karna. Dengan mengajak Karna bergabung, Kurawa dapat mengimbangi Pandawa. Tanpa panjang lebar, Duryudana mengangkat Karna sebagai adipati untuk wilayah Angga. Sehingga derajat dan kasta Karna seimbang dengan Arjuna.
Baca juga : Kawah Candradimuka Bergolak
“Adipati Karna akhirnya bergabung dengan Kurawa, Mo?” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Kurawa gagal dalam menuntut ilmu dan berguru kepada Pandita Durna. Kurawa kalah sakti dibanding Pandawa, sehingga Duryudana memilih jalan pintas. Karna diangkat sebagai adipati dan dijadikan joki untuk melawan Pandawa,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.