Dark/Light Mode

Tumbangnya Kepiting Alengka

Selasa, 14 Juli 2026 07:40 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Penanggalan tradisional Jawa 1 Sura jatuh pada hari Selasa dinamakan “Anggara Rekata”. Anggara adalah sebutan dalam bahasa Jawa untuk hari Selasa. Sedangkan Rekata artinya binatang “Yuyu” atau kepiting. Tahun ini, 1 Sura jatuh pada hari Selasa bertepatan dengan penanggalan Masehi 16 Juni 2026.

Ciri-ciri tahun kepiting ditengarai terjadinya perubahan cuaca yang begitu cepat atau “salah mongso”. Selain itu tahun Yuyu dapat mempengaruhi watak dan perilaku manusia. Biasanya perilaku mudah marah menghadapi permasalahan hidup sering dijumpai dalam kehidupan masyarakat. Di sisi lain, perilaku saling menyalahkan dan merasa dirinya paling benar merupakan dampak lain dari tahun kepiting.

“Pak Prabowo mengingatkan bahayanya bangsa kepiting minggu lalu di Cikampek, Mo,” celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar mesem tidak mau menanggapi lebih jauh komentar Petruk. Romo Semar prihatin melihat perilaku aparat penegak hukum saling capit-capitan dan saling menjatuhkan. Perilaku tersebut tidak ada bedanya dengan kepiting.

Baca juga : Wisanggeni Penyelamat Kerajaan Amarta

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit, walau bangunnya kesiangan karena habis nobar pertandingan perempat final Piala Dunia. Penganan pisang rebus dan uli bakar menambah nikmat sarapan di Padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke Zaman Ramayana. Di mana, Adipati Yuyu Rumpung berhasil merusak jembatan Situbanda.

Kocap kacarito, Hanoman kembali dari Kerajaan Alengka dalam rangka mencari keberadaan Sinta. Sinta diculik Rahwana di hutan Dandaka. Rama Wijaya bersama pasukan kera bersiap merebut kembali Sinta dari cengkeraman Rahwana.

Rama beserta pasukan kera yang dipimpin Sugriwa menuju Kerajaan Alengka. Namun pasukan kera terhalang hamparan samudera. Sehingga diperlukan sebuah jembatan untuk dapat melewati lautan yang membelah Alengka dan Pancawati.

Baca juga : Kritik Wibisana Kepada Rahwana

Prabu Rama minta Hanoman membuat jembatan raksasa yang dapat menghubungkan Pancawati dan Alengka. Batu sebesar gunung ditenggelamkan untuk fondasi jembatan. Pasukan kera yang berjumlah ribuan dikerahkan siang malam untuk membangun jembatan Situbanda. Prabu Rahwana marah besar mengetahui pasukan Prabu Rama berhasil membangun jembatan. Ancaman terhadap pertahanan Alengka sudah di depan mata. Rahwana memanggil Adipati Yuyu Rumpung untuk mengerahkan pasukannya dan merusak jembatan yang menghubungkan Pancawati – Alengka tersebut.

Adipati Yuyu Rumpung merupakan bangsa raksasa berwujud kepiting dan dapat menyelam ke dalam samudera. Dengan jumlah pasukan kepiting yang besar, jembatan Situbanda dapat dengan mudah dihancurkan.

Hanoman tidak menyadari kalau ada pihak musuh menghacurkan jembatan yang baru dibangunnya. Prabu Rama tersulut emosinya mendengar ada penyusup merusak jembatan Situbanda. Untung Wibisana datang untuk memberitahukan apa yang terjadi di dasar samudera.

Baca juga : Di Ambang Perang Besar Baratayuda

“Apakah Yuyu Rumpung dapat dikalahkan Hanoman, Mo," sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. "Betul, Tole. Yuyu Rumpung tewas oleh Hanoman," jawab Romo Semar pendek. “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, setiap perbuatan jahat dan kesombongan pasti dikalahkan oleh kebenaran,” papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.