Dark/Light Mode

Wisanggeni Penyelamat Kerajaan Amarta

Selasa, 30 Juni 2026 08:50 WIB
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
DR Ki Rohmad Hadiwijoyo
Dalang Wayang Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Tudingan adanya demo bayaran bukan saja dapat mendelegitimasi gerakan mahasiswa sebagai agen perubahan (Agent of change), namun justru dapat menutup jalur komunikasi antara mahasiswa dengan penguasa. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat. Sangat wajar jika mahasiswa menuntut kepada negara atas kebijakan-kebijakan yang dirasa membebani rakyat dan masa depan mereka. Bagaimana kelanjutan demo yang dilakukan mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran?

“Demo bayaran sama dengan nabok nyilih tangan, Mo," celetuk Petruk cengengesan. Romo Semar sebetulnya kurang semangat untuk membahas fenomena demo bayaran. Semar sedang galau dengan maraknya pemutusan hubungan kerja atau PHK yang terjadi di berbagai daerah. Dampak ekonomi global dan tidak adanya kepastian hukum usaha, disinyalir sebagai penyebab terjadinya PHK besar-besaran.

Seperti biasa, Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang rebus dan uli bakar menambah semarak sarapan pagi padepokan Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata, di mana Wisanggeni memimpin demo untuk mengingatkan perilaku Pandawa.

Baca juga : Kritik Wibisana Kepada Rahwana

Kocap kacarito, Amarta dikenal sebagai kerajaan gemah ripah loh jinawe. Namun karena pemimpinnya alpha dan tidak mengurus rakyatnya dengan baik, Amarta di ambang kebangkrutan. Amarta mengalami pagebluk dan bencana kelaparan. Keadaan semakin buruk diperparah dengan tidak adanya kepedulian Pandawa terhadap kawula.

Sebagai raja Amarta, Puntadewa memilih bergabung ke Hastina untuk memenuhi undangan Duryudana belajar kepada pandita baru, Begawan Lukmana. Pandita anyar yang belum teruji keampuhannya dipercaya sebagai guru spiritual. Padahal trah Barata sudah memiliki Pandita Durna sebagai guru Pandawa dan Kurawa.

Bima sebagai penjaga keamanan Amarta menyusul Puntadewa ke Hastina. Harjuna memiliki sifat penasaran tinggi terhadap pujangga baru. Maka begitu mendengar Hastina ada guru baru, Harjuna memilih berguru dan meninggalkan kewajiban praja. Kerajaan Amarta dibiarkan kosong dan tidak ada yang mengurus.

Baca juga : Di Ambang Perang Besar Baratayuda

Wisanggeni sebagai anak muda terpanggil melihat keadaan Amarta di ambang kehancuran. Sebagai anak Harjuna dari perkawinannya dengan Bethari Drestanala, Wisanggeni dikenal sebagai pemuda cerdas dan berani menyuarakan kebenaran.

Wisanggeni tidak sendirian dalam melakukan tugas mulia. Wisanggeni ditemani Gatotkaca dan Antareja yang ikut bergabung menjaga Amarta. Tugas utama Wisanggeni dan Gatotkaca adalah memboyong kembali Pandawa dari cengkeraman Duryudana dan Begawan Lukmana. Sedangkan Antareja menjaga ketenteraman dan keamanan Amarta.

Keberadaan Begawan Lukmana di Hastina sengaja untuk menghancurkan Pandawa. Hal ini dilakukan Duryudana agar Pandawa tidak menuntut kembalinya Kerajaan Hastina. Kedok Begawan Lukmana akhirnya terbongkar, Lukmana begawan gadungan jelmaan bethara Kala yang ingin membunuh Pandawa.

Baca juga : Politik Dadung Awuk & Kebo Danu

“Becik ketitik olo ketoro, niat jahat pasti terbongkar, Mo,” sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Betul, Tole. Seperti halnya dengan fenomena demo bayaran, tinggal menunggu waktu,” jawab Romo Semar pendek. "Semestinya penguasa mendengarkan substansi yang disuarakan para mahasiswa dalam menyuarakan kebenarannya," papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.