Dark/Light Mode
Dalang Wayang Politik
RM.id Rakyat Merdeka - Berbeda pendapat bukan hal yang tabu dalam demokrasi. Seperti kritik terhadap sebuah kebijakan harus dimaknai sebagai masukan perbaikan sebuah sistem. Demokrasi modern memerlukan penyeimbang dan kontrol yang sehat. Karena dalam berdemokrasi terjadi pertukaran ide secara bebas. Di sisi lain, kebebasan berpendapat merupakan fundamental kemajuan peradaban sebuah bangsa.
“Beda pendapat bukan berarti sebagai londo ireng, Mo?" celetuk Petruk sok tahu. Romo semar memilih diam tidak serta merta menanggapi komentar Petruk. Romo Semar sedang galau dan prihatin dengan maraknya pemberitaan media asing tentang karut-marut penanganan hukum kita.
Seperti biasa Romo Semar mengawali paginya dengan secangkir kopi pahit. Penganan pisang rebus dan uli bakar menambah semarak sarapan pagi Klampis Ireng. Kepulan asap rokok klobot membawa ingatannya ke zaman Mahabarata. Di mana, Narayana sebagai satria ireng diburu Kangsa Dewa karena dianggap sebagai musuh kerajaan.
Baca juga : Pesan Padmanaba Kepada Sang Juara
Kocap kacarito, Prabu Kangsa Dewa berniat merebut tahta kerajaan Mandura dengan cara illegal. Perebutan kekuasaan dengan jalan adu jago. Yaitu antara jago Kerajaan Mandura dengan jago Kangsa Dewa dari Kadipaten Sengkapura. Siapa yang menang dalam adu jago tersebut berhak atas tahta kerajaan Mandura.
Gonjang-ganjing Kerajaan Mandura berawal dari kesalahan Prabu Basudewa sendiri. Sebagai raja tidak waskita dan melakukan kesalahan fatal dengan mengakui Kangsa Dewa sebagai anak angkat. Padahal Kangsa merupakan anak biologis Prabu Gorawangsa, raja raksasa yang menyamar menjadi Prabu Basudewa. Basudewa gadungan berhasil masuk ke istana dan menggauli Dewi Maerah istri ketiga Basudewa. Hubungan gelap tersebut melahirkan anak haram Kangsa Dewa.
Sebagai anak angkat, Kangsa Dewa minta dilantik sebagai raja berkuasa penuh di Kerajaan Mandura. Karena Kangsa merasa khawatir kalau tidak segera dinobatkan sebagai raja, anak-anak Basudewa yang lain yaitu Narayana dan Kakrasana menuntut tahta Mandura.
Baca juga : Tumbangnya Kepiting Alengka
Basudewa memiliki tiga anak biologis dari kedua istri yang lain. Kakrasana dan Dewi Sumbadra merupakan anak Prabu Basudewa dari istri pertama Dewi Mahendra. Sedangkan Narayana adalah anak Basudewa dari istri kedua yang bernama Dewi Dewaki. Ketiga anak Basudewa sengaja dititipkan kepada Demang Sagopi di Widara Kandang. Hal ini dilakukan untuk menghindari ancaman pembunuhan Kangsa Dewa.
Narayana merupakan satria sejati memiliki warna kulit ireng cemani atau hitam manis. Narayana belajar ilmu kanuragan dengan Resi Padmanaba di pertapaan Untarayana. Narayana menjadi musuh utama Kangsa Dewa karena memilki kesaktian yang luar biasa.
Kangsa mengutus bala tentaranya untuk mencari keberadaan Narayana di Widara Kandang. Karena Narayana dianggap musuh dan sangat berpotensi sebagai rival dalam perebutan kekuasaan Mandura.
Baca juga : Wisanggeni Penyelamat Kerajaan Amarta
“Lalu hubungannya apa dengan Londo Ireng, Mo?" sela Petruk membuyarkan lamunan Romo Semar. “Sama-sama hitamnya, Tole," jawab Romo Semar pendek. "Warna kulit hitam tidak selamanya jelek perilakunya. Penyebutan Londo Ireng sudah tidak relevan lagi di era digital seperti sekarang ini. Sistem pemisahan ras berdasarkan warna kulit sudah dibubarkan sejak tahun 1990-an, “ papar Romo Semar sambil ngeloyor pergi. Oye
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.