BREAKING NEWS
 

Ngeri, Angka Kelahiran Di Jepang Di Rekor Terendah Dalam 125 Tahun

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Kamis, 27 Februari 2025 17:40 WIB
Ilustrasi jam sibuk di jalanan ketika orang pulang kerja di Shibuya, Jepang. (Foto Freepik)

RM.id  Rakyat Merdeka - Jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2024 berada di rekor terendah yang pernah tercatat sejak 125 tahun yang lalu, menandai penurunan selama sembilan tahun berturut-turut. 

Kementerian Kesehatan Jepang mengatakan,  jumlah bayi yang lahir di Jepang pada 2024 sebanyak 720.988.  Turun 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun pemerintahan mantan Perdana Menteri (PM) Fumio Kishida pada 2023 berupaya mengeluarkan kebijakan untuk menggenjot angka kelahiran.

Baca juga : Pengerukan Sungai, Waduk Dan Saluran Air Di Jakarta Terkendala Jalan Sempit

Sementara itu, jumlah kematian naik 1,8 persen dari tahun lalu menjadi 1,62 juta orang, yang berarti lebih dari dua orang meninggal untuk setiap bayi yang lahir. Angka ini rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan sejak 1899. 

Penurunan jumlah kelahiran dari tahun ke tahun menekankan masalah jangka panjang Jepang tentang populasi yang cepat menua dan menyusut. Kondisi ini berdampak serius terhadap ekonomi dan keamanan nasional negara tersebut.

Baca juga : Tersangka Penembakan Di Mall Malaysia, Tewas Dalam Baku Tembak Dengan Polisi

Dilansir Channel News Asia, Kamis (27/2/2025), sejak populasi usia kerja Jepang mencapai puncaknya pada 1995, persaingan pasar tenaga kerja tetap relatif ketat. Tingkat pengangguran saat ini di Negeri Sakura sebesar 2,4 persen.

Adsense

Angka tersebut terendah di antara negara-negara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD). Angka pengangguran di bawah 3 persen telah bertahan di selama hampir empat tahun.

Baca juga : Peruri Libatkan UMKM Binaan Di Pelatihan Yang Digelar Kementerian BUMN

Namun tak bisa dinafikan, Teikoku Databank menyebutkan, pada 2024, rekor 342 perusahaan Jepang bangkrut akibat krisis tenaga kerja. Parahnya lagi, Recruit Works Institute menyebut, Jepang diproyeksikan menghadapi kekurangan tenaga kerja sebanyak 11 juta orang pada 2040.

Masalah lain, biaya jaminan sosial Jepang terus meningkat seiring dengan semakin besarnya proporsi penduduk yang menua. Untuk tahun fiskal yang dimulai pada April, Pemerintah telah mengalokasikan 37,7 triliun yen atau Rp 4.140 triliun untuk jaminan sosial, meningkat hampir 20 persen dalam satu dekade terakhir.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense