Sebelumnya
Menurut Kementerian Kesejahteraan Jepang, sistem pensiun Jepang juga menghadapi tekanan, dengan semakin sedikitnya pemberi kontribusi dan semakin banyak penerima manfaat. Dalam dua dekade terakhir, jumlah orang yang membayar iuran pensiun turun sekitar 3 juta, sementara jumlah penerima meningkat hampir 40 persen.
Baca juga : Pengerukan Sungai, Waduk Dan Saluran Air Di Jakarta Terkendala Jalan Sempit
Penurunan angka kelahiran yang terus berlanjut sebagian mencerminkan keengganan generasi muda untuk memiliki anak, meskipun ada upaya dari Pemerintah. Melanjutkan inisiatif pendahulunya, Perdana Menteri (PM) Shigeru Ishiba mendorong paket kebijakan pengasuhan anak senilai 3,6 triliun yen. Mencakup dukungan bagi calon orang tua serta perbaikan kondisi kerja bagi tenaga pengasuhan anak.
Baca juga : Tersangka Penembakan Di Mall Malaysia, Tewas Dalam Baku Tembak Dengan Polisi
Namun sayang, kebijakan tersebut jauh dari hasil yang diinginkan. Institut Nasional Penelitian Populasi dan Jaminan Sosial, lembaga yang didukung pemerintah itu sebelumnya memperkirakan jumlah kelahiran akan mencapai 779.000 pada 2024.
Baca juga : Peruri Libatkan UMKM Binaan Di Pelatihan Yang Digelar Kementerian BUMN
"Kita perlu menyadari bahwa tren penurunan angka kelahiran belum dapat ditahan. Namun, jumlah pernikahan mengalami peningkatan. Mengingat adanya hubungan yang erat antara jumlah pernikahan dan jumlah kelahiran, kita harus fokus pada aspek ini juga," pungkas PM Ishiba, dilansir Independent.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.