Sebelumnya
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, penanganan darurat bencana warga terdampak banjir telah dilaksanakan sesuai Standard Operating Procedure (SOP).
Penanganan sesuai SOP, seperti kesiapan makanan siap saji dan peralatan dan infrastruktur pendukung tanggap darurat bagi warga terdampak. Upaya penanganan ini telah berjalan otomatis tanpa perlu menunggu instruksi darinya.
Karena itu, Rano mengapresiasi upaya yang telah dilakukan setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan meminta mereka tetap mempertahankan seluruh proses penangan agar tetap sesuai SOP. Hal ini penting agar setiap tindakan yang dilakuan bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.
“Di sini ada sekitar 300 jiwa warga yang terdampak. Ada pengungsian di dua lokasi dan semua penanganan sudah sesuai SOP,” kata Rano, saat meninjau kawasan terdampak banjir Kali Grogol di Jalan Kamboja, RT 05/08, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (4/3/2025).
Baca juga : OJK Happy Sektor Jasa Keuangan Tetap Solid
Untuk mengatasi dan mengurangi dampak banjir, Pemprov telah menerapkan berbagai teknologi dan sistem pemantauan canggih. Langkah ini untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mempercepat respons, serta meminimalisir risiko bagi warga.
Pemprov telah mengembangkan berbagai teknologi digital untuk memantau, mendeteksi dan memberikan peringatan dini terhadap potensi banjir. Sistem ini mengintegrasikan sensor canggih, kecerdasan buatan, serta analisis data dalam satu platform digital.
Ada tiga teknologi utama yang digunakan untuk peringatan banjir di Jakarta. Pertama, Sistem Peringatan Dini Banjir (Early Warning System-EWS).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta telah memasang sistem peringatan dini banjir EWS berbasis digital di 90 titik lokasi rawan banjir yang tersebar di 73 kelurahan. Yakni Jakarta Pusat 4 titik di 4 kelurahan; Jakarta Utara: 13 titik di 13 kelurahan; Jakarta Barat: 16 titik di 10 kelurahan; Jakarta Selatan: 25 titik di 18 kelurahan dan Jakarta Timur: 32 titik di 28 kelurahan.
Baca juga : Real Sociedad Vs Manchester United, Setan Merah Ogah Kepleset Lagi
Kedua, Toa Peringatan Dini Banjir (Disaster Warning System-DWS). Sejak tahun 2021, BPBD Jakarta juga telah memasang DWS yang berfungsi sebagai alat pengeras suara untuk memberikan peringatan dini di daerah rawan banjir.
Sistem ini memberikan informasi kenaikan debit air dari Katulampa (Bogor), Krukut Hulu dan Pesanggrahan, dengan tingkat peringatan, yakni Siaga 3 (Waspada), Siaga 2 (Siaga) dan Siaga 1 (Awas).
Ketiga, Sistem Informasi Siaga Banjir. Selain sistem digital mitigasi banjir yang dimiliki BPBD Jakarta, Unit Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta juga mengelola berbagai alat pemantauan elektronik, seperti CCTV, alat pengukur tinggi muka air otomatis (Automatic Water Level Recorder-AWLR) dan alat pengukur curah hujan otomatis (Automatic Rainfall Recorder- ARR).
Hingga 2 Desember 2024, jaringan pemantauan banjir Jakarta mencakup 118 unit CCTV yang tersebar di 111 lokasi. Termasuk rumah pompa, pintu air dan pos pemantauan di Jabodetabek; 28 sensor tinggi muka air otomatis (TMA) yang terpasang di seluruh wilayah administrasi Jakarta.
Baca juga : Tenis Indian Wells Open 2025, Alcaraz Incar Gelar Ketiga
Kemudian, 2 unit di Bogor (Katulampa dan Cibalok) serta 1 unit di Depok (Jembatan Panus) dan 55 alat pengukur curah hujan otomatis (ARR) yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) dan Banten. [DRS]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.