RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengungkap lima faktor utama yang memicu tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Ibu Kota sepanjang 2025.
Penjelasan ini disampaikan oleh Staf Khusus Gubernur Bidang Komunikasi Publik, Chico Hakim, berdasarkan laporan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta DPAPP DKI.
“ada lima faktor utama yang sering jadi pemicu di Jakarta, terutama terkait tekanan hidup perkotaan, kemacetan, hingga perubahan pola keluarga," kata Chico, Senin (24/11/2025).
*Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Terbesar*
Pemprov mencatat bahwa tekanan finansial keluarga menjadi faktor dominan yang memicu kekerasan. Banyaknya pekerja migran yang hidup terpisah dari keluarga turut memperbesar risiko tersebut.
“Seperti pengangguran atau inflasi, sering memicu konflik rumah tangga yang berujung KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), memengaruhi perempuan dan anak sebagai korban utama," ujarnya.
Baca juga : Kekerasan Perempuan dan Anak di Jakarta Capai 1.917, Terus Melonjak Setiap Tahun
*Pola Asuh Tidak Optimal dan Kesibukan Orang Tua*
Kesibukan bekerja membuat sebagian orang tua kesulitan mengawasi anak. Hal ini memicu kekerasan emosional maupun fisik, dan mendorong anak mencari pelarian di luar rumah yang justru berbahaya.
“Paparan konten kekerasan di gadget atau medsos memengaruhi perilaku pelaku, terutama remaja," terang Chico.
Ketergantungan pada gadget di wilayah urban bahkan meningkatkan risiko bullying daring yang bisa berujung kekerasan fisik.
*Lingkungan Sosial yang Acuh*
Kondisi lingkungan turut mempengaruhi maraknya kekerasan. Chico menambahkan, berdasarkan survei nasional 2025, sebanyak 70% korban memilih tidak melapor karena takut stigma dan pembalasan.
Baca juga : Hujan Deras Rendam 16 RT di Jakarta
"Pencegahan harus dimulai dari keluarga, edukasi itu kunci," tegasnya.
Sebelumnya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno angkat bicara terkait data Kementerian Kesehatan yang menyebut angka depresi warga Jakarta berusia di atas 15 tahun mencapai 1,5 persen.
"Ya, tapi Jakarta kota bahagia, lho," ujar Rano Karno di Jakarta.
Sementara, Kementerian Kesehatan merilis data terbaru mengenai tingkat depresi warga di Indonesia. Dalam data tersebut, Jakarta tercatat memiliki angka depresi sebesar 1,5 persen.
"Enggak, enggak mungkin yang namanya clear, enggak mungkin. Itu yang namanya depresi itu wilayah, beberapa wilayah mungkin iya, tapi enggak bisa whole gitu. Harus kita survei itu," ujar Rano.
Rano justru menyoroti hasil survei internasional Time Out 2025 yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling bahagia ke-18 di dunia.
Baca juga : 5 Karakter Kepemimpinan Kepala Perpusnas dalam Buku Visi Anak Pasar
Lebih lanjut, Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di DKI Jakarta sepanjang 2025 menunjukkan peningkatan signifikan. Hingga akhir November 2025, jumlah laporan telah mencapai 1.917 kasus, angka yang hampir menyamai seluruh laporan pada tahun 2024.
“Kalau trennya naik memang setiap tahun, trennya naik dari jumlah data tahun lalu dengan tahun ini terlihat bulan ini saja sudah hampir menyamai di akhir tahun lalu di 2024, jadi memang trennya naik,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DPPAPP) DKI Jakarta Iin Mutmainah.
Untuk memperkuat penanganan, Pemprov DKI juga menempatkan tenaga ahli di berbagai wilayah. Saat ini terdapat 44 titik pos pengaduan yang dilengkapi konselor dan paralegal.
“Kami juga berikan 44 titik pos pengaduan yang ada 2 tenaga ahli, ada konselor dan paralegal yang kita tempatkan di 44 kecamatan atau RPTRA,” terangnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.