Dark/Light Mode

5 Karakter Kepemimpinan Kepala Perpusnas dalam Buku Visi Anak Pasar

Selasa, 18 November 2025 07:03 WIB
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)
Kepala Perpusnas Prof. E. Aminudin Aziz (Foto: Dok. Perpusnas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Prof. E. Aminudin Aziz, resmi meluncurkan buku perdananya bertajuk Visi Anak Pasar: Catatan Kecil Kehidupan E. Aminudin Aziz, di Jakarta, Senin (17/11/2025). Peluncuran dilakukan dengan cara unik: memukul mangkuk bakso, simbol perjalanan hidupnya saat berjualan bakso ketika menempuh pendidikan di Department of Linguistics, Monash University, Australia.

Dalam buku tersebut, Prof. Amin mengisahkan masa kecilnya yang penuh keterbatasan—tidur di pasar, mengantar agar-agar, hingga dimarahi ketika dagangan jatuh. Namun, ia percaya kemiskinan tidak boleh menjadi batas seseorang meraih cita-cita.

“Saya pernah ditidurkan di pasar, menangis di pasar, mengantar agar-agar hingga jatuh dan dimarahi. Tapi kemiskinan bukan penghalang. Jangan pernah putus asa dengan cita-cita,” kisahnya.

Dalam sesi bedah buku, sastrawan sekaligus sosiolog Okky Madasari menilai karya itu bukan sekadar autobiografi, melainkan potret karakter kepemimpinan Prof. Amin. Ia menyebutnya, Prof. Amin Leadership, yaitu kepemimpinan yang mencerminkan lima karakter.

Baca juga : Sri Sularsih Berpulang, Perpusnas Kehilangan Pejuang Literasi Terbaiknya

Pertama, menyiasati tradisi. Prof. Amin mampu menghormati tradisi tanpa menjadikannya batasan.

“Menyiasati tradisi bukan membangkang atau melanggar aturan. Ini tentang mencari solusi terbaik dengan tetap memiliki visi ke depan. Contohnya ketika ia memilih kembali melanjutkan studi meski baru mendapatkan posisi pekerjaan,” ujarnya.

Kedua, siap pantang surut. Saat hidup menuntut biaya, Prof. Amin mencari jalan dengan berjualan bakso, mengantar agar-agar, dan pekerjaan apa pun yang bisa ia lakukan. “Kalau punya cita-cita, harus cari jalan,” lanjut Okky.

Ketiga, konsistensi. Menurutnya, tak ada pencapaian yang instan.

Baca juga : Cinta Laura, Curhat Sering Kesepian Dan Kehilangan Arah

“Ia menunjukkan konsistensi dalam belajar dan bekerja hingga menjadi salah satu profesor muda di Universitas Pendidikan Indonesia,” ungkapnya.

Keempat, bekerja melampaui target.

“Kalau hanya ingin selesai, kita tidak akan ke mana-mana,” jelas Okky. Ia menilai, Prof. Amin selalu berupaya memberikan yang terbaik, lebih dari sekadar memenuhi target.

Kelima, hidup yang tak terprediksi. Buku ini, kata Okky, menunjukkan bahwa ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti berusaha.

Baca juga : Mimpi Budi Arie Gabung Ke Gerindra Masih Gelap

Pengamat sosial sekaligus senior Prof. Amin di Monash University, Fachry Ali, turut hadir dalam peluncuran buku. Ia mengaku baru memahami kedalaman perjalanan hidup Prof. Amin setelah membaca kisah-kisah dalam buku tersebut. “Ada refleksi yang sangat personal dan menyentuh,” ungkapnya.

Prof. Amin mengatakan, buku ini awalnya hanya catatan pribadi untuk keluarga. Sebagian besar kisah adalah cerita yang biasa ia bagikan kepada istri, anak, menantu, dan cucunya.

“Saya selalu bilang kepada anak-anak saya bahwa apa yang mereka lihat hari ini tidak terjadi begitu saja. Ada perjuangan panjang. Saya lahir dari keluarga biasa. Tidak ada privilege apa-apa,” ujarnya.

Naskah awal yang berisi 31 bab berkembang seiring perjalanan hidupnya, termasuk penambahan bab tentang kepergian orang-orang terdekat. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada keluarganya yang terus mendukung, meski tidak tahu bahwa ia menulis di sela-sela kesibukan. “Tidak ada satu pun bab yang saya tulis pada jam kantor,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.