RM.id Rakyat Merdeka - Bukannya surut, banjir Jakarta malah makin parah. Dalam sebulan ini, Jakarta sudah 5 kali diterjang banjir. Kamis (29/1/2026), 52 RT dan 17 ruas jalan terendam banjir usai Jakarta di landa hujan deras semalaman.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, hingga sore, banjir tersebar di 4 wilayah Jakarta dengan ketinggian air beragam.
Di Jakarta Barat, salah satu titik genangan terjadi di Jalan Tubagus Angke dengan ketinggian air mencapai 20-30 sentimeter (cm). Menyebabkan dua lajur tertutup, baik dari arah Jalan Daan Mogot menuju Tambora maupun sebaliknya.
“Sekarang hujan sebentar langsung banjir. Nggak biasanya separah ini,” ujar Budi (38), pedagang di ruas Jalan Tubagus Angke, Kamis (29/1/2026).
Genangan air juga menghiasi Jalan Jelambar III dengan ketinggian sekitar 20 cm. Sejumlah titik di ruas Jalan Daan Mogot turut dilaporkan terendam hampir sepanjang hari.
Baca juga : Minta Maaf Ke Rais Aam, Gus Yahya Dipulihkan Sebagai Ketum PBNU
Kondisi ini membuat banyak kendaraan bermotor melintas di jalur TransJakarta dekat Halte Taman Kota hingga Stasiun Pompa Daan Mogot Km 13. Bahkan, penumpang TransJakarta terpaksa turun dari bus lalu menaiki truk akibat kemacetan yang parah.
Di kawasan Bojong Kavling, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, banjir setinggi satu meter merendam ratusan rumah di RT 16 RW 04. Ketua RT setempat, Irah Rahayu, menyebut wilayah tersebut dihuni sekitar 450 kepala keluarga dengan lebih dari 350 bangunan.
“Sebagian besar rumah itu terendam, enggak lebih dari 50 rumah yang enggak (terendam),” kata Irah Rahayu, Kamis (29/1/2026).
Genangan air yang masuk hingga ke dalam rumah melumpuhkan aktivitas warga, termasuk para pelajar yang terpaksa mengurungkan niat untuk berangkat ke sekolah. Menurut Irah, banjir dipicu hujan lebat sejak Rabu malam hingga Kamis pagi, serta jebolnya tanggul kali di ujung kampung.
“Kemudian di ujung kampung ini ada tanggul yang pecah,” ujarnya.
Baca juga : OSO: 1 Suara Pun Tak Boleh Hilang
Banjir juga merendam permukiman warga di RW 04 Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Genangan dipicu luapan Kali Sunter yang membuat air naik sejak dini hari. “Di dalam sedada saya, kalau di luar seleher bawah, ya sekitar 120-130 sentimeter,” kata Mariam (60), warga setempat.
Ia mengungkapkan air sempat berangsur surut, namun terus memantau kondisi karena khawatir kembali naik. Untuk menghindari risiko, Mariam menyelamatkan anaknya ke lantai dua rumah dan memindahkan barang ke tempat yang lebih aman.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali melanjutkan normalisasi sungai sebagai upaya menekan risiko banjir. Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta Ika Agustin menyebut, jika bisa mengendalikan Ciliwung, maka bisa menyelesaikan persoalan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sebesar 40 persen.
Ika menjelaskan Sungai Ciliwung menjadi kunci dalam sistem pengendalian banjir di Jakarta karena menerima aliran air dari 13 anak sungai. “Jika Ciliwung berada dalam kondisi siaga, misalnya debit air tinggi akibat hujan deras, maka lima wilayah Jakarta akan ikut terdampak banjir,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Terpisah, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memutuskan kembali melakukan normalisasi Kali Cakung Lama dan Sungai Ciliwung sebagai upaya menekan banjir. Untuk normalisasi Kali Cakung Lama, kebutuhan anggaran pada Februari 2026 mencapai Rp 132 miliar.
Baca juga : Eks Stafsus Menteri Agama Dicecar Soal Kerugian Negara
“Karena ini proyeknya tidak bersifat jangka pendek, tetapi jangka menengah, sehingga kebutuhannya pasti dinamis. Tapi untuk Februari saja kita butuh Rp 132 miliar dan itu sudah disetujui,” kata Pramono, Kamis (29/1/2026).
Menurut Pramono, normalisasi Kali Cakung Lama menjadi prioritas untuk mengurangi genangan, terutama di wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara. Namun, ia mengakui masih terdapat bottleneck utama di wilayah Cilincing.
Selain itu, Pemprov DKI memutuskan lahan yang sudah dibebaskan di sepanjang sungai segera dibersihkan dan dilanjutkan dengan pembangunan turap.
Pemprov DKI juga menyepakati pembangunan embung atau Waduk Polor di Bendung Polor, Kali Angke, untuk menahan debit air hujan agar tidak langsung mengalir ke Cengkareng Drain. [BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.