Sebelumnya
Widyastuti menambahkan, dalam melakukan tracing, timnya terbantu oleh keterampilan teman-teman di puskesmas yang sudah lebih dulu memiliki pengalaman pada saat era flu burung dan difteri.
"Begitu ada laporan informasi kasus positif dari rumah sakit ke Dinas Kesehatan, secara sistem, kami menyampaikan ke teman-teman kami di Puskesmas. Sehingga, mereka tahu, siapa dan di mana warga yang perlu di-tracing,” tambahnya.
Baca juga : Memalukan! Banyak Orang Kaya Masih Pakai Tabung Gas Melon
Namun sayangnya, gencarnya upaya tracing itu masih belum diimbangi persepsi yang baik dari masyarakat. Mayoritas masih menganggap, Covid-19 bukan ancaman.
Hal ini antara lain terindikasi dari tingginya angka pelanggaran protokol penggunaan masker.
Baca juga : Warga Kurang Peduli, Pakai Masker Cuma Buat Aksesoris
“Pelanggaran soal pemakaian masker sudah luar biasa. Denda uang sudah terkumpul lebih dari Rp 2 miliar dari pelanggaran. Selain itu, juga ada denda sanksi sosial dengan membersihkan lingkungan sekitar, sambil memakai rompi bertuliskan pelanggar PSBB,” terang Widyastuti.
"Kami terus mengajak setiap individu menjadi agen perubahan terhadap lingkungan sekitarnya. Pastikan, jangan sampai tertular, dan jangan menjadi sumber penularan bagi orang lain maupun orang-orang tersayang di sekitar," imbuhnya. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.