RM.id Rakyat Merdeka - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) kembali merebak di Ibu Kota. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menerjunkan ratusan kader juru pemantau jentik (jumantik) dan menggencarkan lagi pengasapan atau fogging.
Wali Kota Jakarta Selatan (Jaksel), Munjirin menyebutkan, sejak Januari hingga November 2021 tercatat 424 warga Jakarta Selatan dengan usia balita hingga dewasa terjangkit DBD.
Saat ini, Pemerintah Kota Jaksel melalui Suku Dinas Kesehatan tengah melakukan pelacakan warga terjangkit DBD. Setelah itu, pihaknya akan melakukan penyemprotan dan menggerakkan kader jumantik.
“Sekarang sudah level 1, jadi sudah bisa door to door untuk aktif kembali. Kalau kemarin waktu masih level 3 atau 4, kami mengandalkan jumantik mandiri,” katanya di Jakarta Selatan, Sabtu (13/11).
Munjirin mengimbau, warga yang ingin melakukan penyemprotan mandiri untuk dapat koordinasi dengan Suku Dinas Kesehatan Jaksel (Sudinkes Jaksel). Karena ada petunjuk-petunjuk yang harus diperhatikan saat fogging.
Baca juga : Greenpeace: Waspadai Dampak Migrasi Mikroplastik Galon Sekali Pakai
“Agar angka DBD ini tidak meningkat, kita harus tetap hati-hati. Karena DBD biasanya ada di air tergenang, sehingga harus dibuang. Apalagi sekarang masuk musim hujan,” tuturnya.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, M. Helmi menyebutkan, saat ini terdapat penurunan angka kasus penyakit DBD di wilayahnya.
Sepanjang 2020, kasus DBD di Jakarta Selatan mencapai 1.016 kasus dari total seluruh wilayah. Sementara, hingga 10 November 2021, angka kasus DBD tercatat sebanyak 424 kasus.
“Alhamdulillah, angka kasus DBD di Jakarta Selatan pada 2021 mengalami penurunan secara signifikan dibanding tahun 2020,” katanya.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat (Jakpus) juga mulai mengintensifkan penyemprotan insektisida untuk membunuh nyamuk meskipun kasus DBD relatif rendah.
Baca juga : SWI Ingatkan Masyarakat Kenali Dan Waspadai Pinjol Ilegal
Wakil Wali Kota Jakpus Irwandi memerintahkan Unit Perangkat Kerja Daerah (UKPD) Suku Dinas Kesehatan Jakpus meningkatkan fogging di musim penghujan.
Menurut Irwandi, saat ini perlu perubahan pola fogging di permukiman. Yakni, meningkatkan tindakan pencegahan sebelum ada warga terkena DBD.
“Dulu itu, jika ada temuan DBD baru kita fogging. Tapi sekarang, akan kami balik polanya. Sebelum ada temuan, akan kami fogging. Jangan sampai kena dulu, baru fogging. Kami ubah polanya,” katanya.
Irwandi mengimbau warga, agar tidak lengah terhadap penyebaran DBD. Sebab, jentik nyamuk DBD tidak hanya terdapat di wilayah kumuh, tapi juga di wilayah bersih. Dia menyebut angka kasus penyebaran penyakit DBD di Jakpus relatif rendah.
Hal itu, menurutnya, hasil sosialisasi yang gencar dilakukan Pemerintah agar selalu waspada. “Saya minta kader jumantik ini terus aktif jangan sampai kasus DBD naik,” pesan Irwandi.
Baca juga : Tempat Wisata Di Jakarta Mesti Ditutup Saat Nataru
Epidemiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Citra Indriani pun meminta masyarakat waspadai penyakit DBD.
“Ada potensi peningkatan kasus DBD saat musim hujan. Sebab, saat musim hujan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti sehingga penularannya juga semakin tinggi,” jelasnya.
Menurut Citra, upaya 3M yakni menguras, menutup, dan mengubur benda-benda yang dapat menampung air perlu segera dilakukan masyarakat, untuk mencegah DBD. [OSP]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.