BREAKING NEWS
 

Susul Aksara Jawa, Bali, Dan Sunda, PANDI Akan Daftarkan Aksara Lampung Dan Pegon Ke BSN

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Kamis, 9 Desember 2021 15:01 WIB
Foto: Dok. PANDI

 Sebelumnya 
Aksara Nusantara: Beradaptasi Atau Mati

Sekretaris Yayasan Budaya Nusantara Digital Dadan Sutisna yang sejauh ini ikut mengamati perkembangan digitalisasi Aksara Nusantara menuturkan jika tidak segera beradaptasi dengan teknologi digital, beberapa Aksara Nusantara berada di ambang kepunahan.

Aksara tersebut pernah hadir di masa lalu, akan tetapi tidak lagi digunakan oleh masyarakat digital dan hanya menjadi artefak.

Adsense

“Ada beberapa kekeliruan di masyarakat tentang digitalisasi aksara itu sendiri. Misalnya, dengan dapat digunakan untuk mengetik di perangkat lunak pemroses kata, Aksara tersebut dinyatakan sudah memenuhi digitalisasi. Padahal esensi digitalisasi bukan itu, melainkan ada standarnya sehingga dapat diterapkan di semua platform, termasuk bahasa pemrograman,” ungkap Dadan.

Baca juga : PANDI Apresiasi Komunitas Aksara Jawa, Sunda, Bali Dalam Mengusung SNI

Menurut Dadan, hal pertama yang perlu dilakukan menuju digitalisasi Aksara adalah mempersempit kontroversi di antara pemilik aksara tersebut.

Jika dalam satu aksara terdapat beberapa varian, maka harus dibakukan, salah satunya melalui hasil musyawarah di antara komunitas.

Kesepakatan bentuk Aksara merupakan modal penting untuk mencapai tahap awal digitalisasi.

"Saat ini ada 17 Aksara Nusantara yang berpotensi untuk didigitalisasikan. Beberapa di antaranya sudah memenuhi standar Unicode, misalnya Aksara Batak, Lontaraq dan Rejang. Namun masih memerlukan langkah berikut, yakni tahapan pembakuan pada papan ketik, transliterasi, selain tentunya bentuk fon aksara tersebut pada media digital," tambah Dadan.

Baca juga : PANDI: Tahun Depan Aksara Lampung Menyusul Pembakuan Digital

Bagi yang belum masuk dalam daftar di UNICODE, dituntut keseriusan dan kesepakatan dari berbagai pihak, terutama komunitas pegiat aksara, untuk segera didaftarkan. Aksara-aksara tersebut antara lain Pegon, Lampung, Serang, Kawi, Incung, Lota, Bima, Arab Melayu, Jontal, Buda, dan Palawa.

“Bagi Aksara yang berpotensi untuk didigitalitasikan, pendaftaran ke Unicode mesti menjadi prioritas. Unicode merupakan gerbang menuju digitalisasi, karena lama-kelamaan bukti-bukti keberadaan aksara tersebut dapat hilang,” ujar Dadan.

Menurut Dadan, hal lain yang cukup prinsip adalah persoalan adaptasi Aksara. Secara umum, Aksara Nusantara awalnya hanya digunakan untuk menuliskan bahasa setempat.

Oleh karena itu, Aksara Nusantara memiliki variasi huruf yang berbeda-beda. Namun, saat ini dunia digital sudah lintas bahasa. Hal ini akan menjadi kendala jika aksara dengan keterbatasan jumlah karakter tidak beradaptasi dengan kebutuhan dunia digital.

Baca juga : Aksara Sunda, Jawa Dan Bali Menuju Digitalisasi Baku, PANDI: Tahun Depan Aksara Lampung Menyusul

“Oleh karena itu, berkaitan dengan pengembangan aksara nusantara, sebenarnya kita hanya punya dua pilihan, mau beradaptasi atau mati dengan sendirinya,” pungkas Dadan. [SRI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense