BREAKING NEWS
 

Gegara Varian Omicron Merajalela

Yah...Baru Aja Kehidupan Agak Normal, Eh Sudah Dibatasi Lagi

Reporter : ALFIAN SIDIK
Editor : ABDUL SHOMAD
Rabu, 19 Januari 2022 06:25 WIB
Ilustrasi Micro Lockdown. (Foto: Istimewa).

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mulai melakukan berbagai cara untuk mencegah Covid-19 varian Omicron semakin menyebar. Salah satunya, menerapkan micro lockdown.

Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, Pemerintah tidak bisa menerapkan lockdown total. Pemerintah akan memilih micro lockdown dalam upaya menekan persebaran Omicron.

“Artinya, menghentikan kegiatan sementara,” kata Nadia saat dialog secara virtual.

Nadia mengungkapkan, micro lockdown sudah pernah diterapkan ketika Omicron pertama kali ditemukan di Wisma Atlet Jakarta. Pada waktu satu kasus positif Omicron, saat itu langsung 7 hari dilakukan isolasi atau lockdown sementara dari Wisma Atlet.

Baca juga : Waspadai Omicron, Kepala Daerah Dilarang Pergi Ke Luar Negeri

Selain Wisma Atlet, kata Nadia, Kelurahan Krukut, Jakarta juga melakukan micro lockdown. Kebijakan micro lockdown efektif karena penanganannya bisa lebih cepat.

“Jadi, betul-betul sesuai targetnya. Ini akan lebih cepat menyelesaikan masalah,” kata Nadia.

Dia berharap, penerapan micro lockdown bisa efektif mencegah penyebaran varian Omicron semakin meluas. Micro lockdown membuktikan keberdayaan melokalisir dan mencegah klaster baru bermunculan.

“Micro lockdown akan menyesuaikan kasus di tingkat daerah yang berbeda-beda. Waktu itu mungkin ada daerah yang sebenarnya kasusnya hanya 1, 2 kasus, di daerah lain ada yang 40 atau 50. Nah, tentunya ini akan berbeda, tidak bisa disamaratakan,” katanya.

Baca juga : Tuh Kan Omicron Merajalela, Ayo Pake Maskernya!

Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, penerapan protokol kesehatan (prokes) dalam menghadapi Omicron harus lebih diutamakan dibandingkan micro lockdown. Dia juga tidak merekomendasikan kenaikan status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

“Saya kira dijaga saja pada Level 2, tidak mesti langsung 3, tapi sesuai dengan konteks indikator epidemiologisnya,” katanya.

Dicky menyarankan Pemerintah dapat mengeliminasi aktivitas masyarakat yang mengumpulkan banyak orang dan membuat kerumunan.

Netizen khawatir penerapan micro lockdown untuk menekan persebaran Covid-19 justru berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat.

Baca juga : Bumil Juga Dianjurkan Divaksin Booster

“Baru saja mulai agak normal nih kehidupan. Sudah mau dibatasi lagi. Disiplin prokes lagi yuk gaes,” ajak @ari_dabs.

Adsense

Akun @AstrianaNingrum setuju penerapan micro lockdown dilakukan sesuai kondisi daerah masing-masing. Jawa Timur lebih memilih menerapkan PPKM mikro usai menemukan kasus Omicron.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense