Sebelumnya
Dengan kata lain, agama seharusnya menjadi sumber belas kasih (compassion), bukan faktor yang dapat memecah belah umat. Iman yang benar selalu paralel dengan persatuan dan kecintaan kepada Tanah Air, karena Pancasila yang disepakati bersama telah selaras dengan nilai-nilai inti agama. “Ini harus terus digelorkan, agar semua warga negara dari berbagai latar belakang agama, etnis dan suku bekerja sama untuk membangun Indonesia,” tegasnya
Bagi Sukidi, perintah merawat kebinekaan merupakan amanah Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci umat Muslim, bahwa Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda agar dapat saling mengenal dan menghargai satu sama lain. “Pesan Tuhan itu bunyinya, li ta’aarafuu, in order for you to kwon one another. Untuk mengenal satu sama lain,” tegasnya. “Jadi, bukan untuk saling membenci atau saling menebar hoaks.” Tetapi untuk membangun harmoni.
Baca juga : Ngaku Kena Kanker Demi Dapat Sumbangan
Karena telah menjadi hukum Tuhan, masyarakat mesti menerima kebinekaan dengan sikap positif dan optimis. Optimisme dalam memandang kebinekaan sangat penting, karena dapat menjadi modal sosial untuk membangun negeri.
Dengan spirit kebinekaan, setiap warga bukan hanya dituntut untuk saling mengenal satu sama lain, melainkan harus bersedia terlibat aktif dan bergotong royong untuk membenahi berbagai persoalan kebangsaan, terutama menghilangkan rasa curiga dan benci terhadap yang lain, serta memutus mata rantai hoaks di masyarakat. “Kesediaan untuk terlibat aktif sangat penting dalam menegakkan kebinekaan,” tambahnya.
Baca juga : Subsidi Tepat Sasaran Atasi Gejolak Harga Minyak Tinggi
Apalagi, menyitir pendapat Bung Karno, partisipasi aktif semua warga negara akan mampu mengikis egoisme bernegara.
Sukidi meyakini, tegaknya persatuan di tengah kebinekaan hanya mungkin terjadi karena karakter utama para pendiri bangsa yang berasal dari berbagai agama, etnis, dan asal-usul yang berbeda. Hal ini perlu digelorakan terus menerus agar warga negara dan para pemimpin sekarang memiliki kesadaran penuh untuk menjiwai spirit dan warisan luhur para pendiri bangsa.
Baca juga : Degradasi & Kepunahan Tanah Jadi Bom Waktu Krisis Pangan
Dalam Kuliah Umum bertajuk “Menegakkan Persatuan dalam Kebinekaan” itu hadir pula Kepala Pusat Studi Kebangsaan Indonesia, Hassan Wirajuda, sebagai penanggap. Diskusi dimoderatori oleh A Puspo Kuntjoro, pengajar di Universitas Prasetiya Mulya. [RSM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.