Dewan Pers

Dark/Light Mode

Degradasi & Kepunahan Tanah Jadi Bom Waktu Krisis Pangan

Rabu, 22 Juni 2022 12:12 WIB
Kampanye save soil. (Foto: Istimewa)
Kampanye save soil. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Degradasi dan ancaman kepunahan tanah adalah masalah serius yang butuh perhatian seluruh dunia terutama di Indonesia.

Pengamat hukum dan regulasi, Melli Nuraini Darsa mengatakan, Indonesia perlu memperkuat komitmen politik untuk menghadapi ancaman kepunahan tanah. Meski sekarang pemanasan global menjadi isu sentral, namun urgensi dan bahaya dari degradasi tanah dan kepunahan tanah belum menjadi perhatian utama pemerintah.

Berita Terkait : Jimmy & Fadlin Siap Bawa AKPI Jadi Lokomotif Hukum Kepailitan

"Banyak hasil penelitian telah menunjukan degradasi tanah dan resiko kepunahan tanah adalah bom waktu, dikaitkan dengan perubahan iklim yang dampaknya bisa menguncang pasokan pangan dunia," jelas Melli dalam keterangan persnya, dikutip Rabu (22/6). B

erdasarkan data, 95 persen makanan yang dikonsumsi berasal dari tanah karena tanah merupakan dasar dari ekosistem darat. Menurut UN Food & Agriculture Organization, saat ini tanah telah terdegradasi sebesar 52 persen.

Berita Terkait : Pemerintah DorongĀ IKM Jadi Basis Perekonomian Rakyat

Penelitian yang belum lama dilakukan olek Institut Pertanian Bogor (IPB) uga  mengungkapkan bahwa 72 persen dari tanah pertanian di Indonesia sat ini sedang “sakit” karena kekurangan bahan organik akibat penggunaan pupuk kimia yang masih tinggi.

Melli lebih lanjut menjelaskan bahwa tanah adalah elemen yang hidup, dimana tanah terdiri dari jutaan jasad renik yang hidup di setiap jengkalnya. Diperkirakan bahwa tanah di bumi hanya mampu bertahan hingga 60 tahun kedepan. Penipisan tanah yang terjadi, akan berpengaruh pada penurunan nutrisi pada makanan yang dikonsumsi.

Berita Terkait : Di Istana, Jokowi Bicara Krisis Pangan & Energi

"Ini sudah terjadi di banyak negara. Apalagi kita tau saat ini di Eropa sedang terjadi ketegangan antara Ukraina dan Rusia yang sedikit banyak telah mempengaruhi pasokanndan harga gandum hingga ke Indonesia," jelasnya.
 Selanjutnya