RM.id Rakyat Merdeka - Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) berkomitmen untuk turut serta mengamati perkembangan isu iklim di Indonesia, mengadvokasikan aksi perjuangan iklim yang lebih konkrit serta berkontribusi mencapai net-zero emission.
Berangkat dari tujuan tersebut, FPCI bekerjasama dengan lebih dari 100 partner yang terdiri dari organisasi, universitas, dan berbagai komunitas peduli lingkungan berhasil menyelenggarakan “Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2023” di di Djakarta Theatre, Sabtu (24/6). Program ini merupakan program tahunan yang sebelumnya dilaksanakan secara online sejak tahun 2021.
INZS 2023 merupakan konferensi iklim tahunan yang diadakan oleh FPCI sebagai ruang pertemuan bersama yang unik bagi menteri, pejabat, diplomat, pemuda, masyarakat sipil, musisi, selebriti dan berbagai kalangan lainnya untuk membicarakan isu iklim, khususnya di Indonesia. Inisiatif ini dimaksudkan untuk menghimpun dan mengukuhkan komitmen Indonesia dalam menyelamatkan masa depan bangsa dari krisis iklim.
Tahun 2021 lalu, FPCI menyelenggarakan “Indonesia Net-Zero Summit” secara daring untuk pertama kalinya dengan tema “Selamatkan Indonesia Emas 2045 dari Ancaman Darurat Iklim”. Bersama dengan 152 kelompok pegiat iklim dan pemuda dari seluruh Indonesia, FPCI menyuarakan aspirasi serta harapan bagi Indonesia untuk mewujudkan langkah konkrit menuju pencapaian net-zero emission nasional.
Baca juga : Ganjar Sejati Gelar Pelatihan Pembuatan Ikat Kepala Khas Cirebon
Indonesia Net Zero Summit 2023 ini merupakan sebuah wadah berdiskusi yang dihadiri lebih dari 9000 peserta. Acara dibuka oleh sambutan dari pendiri Foreign Policy Community of Indonesi, Dr. Dino Patti Djalal, kemudian dilanjutkan oleh Maudy Ayunda dan Menko Luhut Panjaitan. Sesi opening ditutup dengan epik melalui pembacaan “Deklarasi Generation ‘NZ’ Net-Zero”. Pembacaan ini dilakukan oleh 40 orang Generation ‘NZ’ Indonesia yang terdiri dari siswa SD, SMP, dan SMA dari penjuru Indonesia.
Selanjutnya, acara diskusi dilakukan secara paralel. Pembicara merupakan para tokoh, pemimpin daerah, menteri, pengusaha dan ketua umum partai.
FPCI juga mengadakan Climate Hero Award yang dianugerahkan kepada tokoh-tokoh dan kelompok-kelompok masyarakat yang berjasa dalam memperjuangkan ambisi, komitmen, dan aksi iklim Indonesia. Melalui Climate Hero Award ini, FPCI ingin menghargai kepemimpinan dan ketekunan para tokoh ini dalam advokasi aksi iklim mereka yang ambisius dan progresif. Climate Hero Award ini adalah pengakuan tinggi terhadap kontribusi signifikan para tokoh untuk bangsa Indonesia dan masa depan net-zero dunia.
Penghargaan pertama dianugerahkan kepada Mercy Barends, selaku Ketua Kaukus Ekonomi Hijau DPR dan Anggota Komis VII di bidang energi, riset dan teknologi, serta lingkungan. Mercy telah mengabdikan diri sebagai wakil rakyat selama hampir 1 dekade. Sebagai perwakilan rakyat, Mercy secara konsisten mengadvokasikan kebijakan yang pro-lingkungan dan pro-iklim. Mercy terus memperjuangkan dan menciptakan lingkungan politik dan kebijakan Indonesia yang bisa mendukung masa depan hijau bagi kita semua.
Baca juga : Adakah Standar Suksesi Politik Dalam Islam?
Climate Hero Award berikutnya dipersembahkan kepada kelompok terpenting yang merupakan garda terdepan penjaga alam dan pelindung ekosistem untuk keberlangsungan hidup umat manusia, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Masyarakat Adat Indonesia di seluruh penjuru tanah air. Salah satunya, Komunitas Adat Marena yang mengimplementasikan nilai-nilai kearifan lokal "Aluk Tanah" dalam pengelolaan hutan dan sumber daya alam – yaitu kepercayaan bahwa karena manusia berasal dari tanah, maka sudah sepantasnya juga tanah harus dijaga.
Penghargaan selanjutnya diberikan kepada none other than Prof. Emil Salim atas kepemimpinan, dedikasi tinggi serta konsistensi perjuangannya terhadap advokasi iklim Indonesia. Prof. Emil Salim adalah menteri lingkungan hidup pertama Indonesia dan juga adalah satu - satunya veteran pendekar iklim yang telah malang melintang dalam sejarah terpanjang bangsa Indonesia, lintas tiga generasi.
“Climate Hero Award dianugerahkan kepada tokoh-tokoh yang berjasa dalam memperjuangkan aksi iklim untuk Indonesia,” kata Pendiri FPCI, Dino Patti Djalal.
Menurut dia, Prof. Emil terpilih menjadi salah satu penerima penghargaan Climate Hero Award karena kepemimpinan dan ketekunannya yang secara terus-menerus lakukan advokasikan aksi iklim yang konkrit, ambisius, dan progresif. “Ini adalah pengakuan tinggi terhadap kontribusi signifikan Prof. Emil untuk bangsa Indonesia,” katanya.
Baca juga : PTAR Ajak 123 Mahasiswa Peduli Keanekaragaman Hayati
Sementara, Mercy terpilih menjadi salah satu penerima penghargaan “Climate Hero Award”. “Climate Hero Award”dianugerahkan kepada tokoh-tokoh yang berjasa dalam memperjuangkan aksi iklim untuk Indonesia. “Saya terkesan dengan kepemimpinan dan ketekunan Bu Mercy dalam mengadvokasikan aksi iklim yang konkrit, ambisius, dan progresif. Ini adalah pengakuan tinggi terhadap kontribusi signifikan Bu Mercy untuk bangsa Indonesia,” katanya.
Setelah berdiskusi panjang mengenai isu isu perubahan iklim sehari penuh, para pengunjung disuguhkan sajian penutup berupa Konser Musik untuk iklim, dimana Band Kotak dan D’masiv yang akan membawakan lagu-lagu hits mereka.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.