BREAKING NEWS
 

HOYAK TABUIK DI PADANG: PERAYAAN SYIAH DI TENGAH KOMUNITAS SUNNI

Writer : Fikrul Hanif Sufyan
Editor : MUHAMMAD RUSMADI
Rabu, 5 Juni 2024 22:57 WIB
Arak-arakan tabuik di Muaro Padang pada 1939. Sumber: KITLV A508

Teriakan Hayya-Hayya Hosein kerap terdengar dan mencapai puncaknya setiap 10 Muharram di Kota Pariaman. Pernahkah Anda mendengar perayaan dari Kelompok Syiah diselenggarakan di Padang? Tentu banyak yang menolaknya. Dalam catatan surat kabar dan arsip, perayaan tabuik terakhir dilakukan pada 1970-an.

Perhelatan tradisi tabuik di Padang, mampu menghadirkan ribuan wisatawan domestik dan mancanegara, di antaranya dari India dan Belanda. Perayaan Tabuik, tidak tiba-tiba hadir di pinggir Pantai Pariaman. Bahkan, tradisi yang telah berumur tiga abad itu, juga pernah hadir dan dirayakan dengan meriah di Kota Padang –terutama di masa Kolonial Belanda. 

Sebaran Awal Taboeik: India Tamil, Atau Persia? 

Kata taboet,tabuik berasal dari tabut yang dimaknai peti kayu (Assegaf, 2010). Tabut bila ditelusuri jauh ke belakang, berhubungan dengan kisah Nabi Musa. Menurut Musthafa Al-Maraghi dan Sayyid Qutb, kata tabut merujuk dalam Al-Qur’an untuk menggambarkan sebuah kisah yaitu kisah Nabi Musa AS dan Fir’aun. Dan, At-tabut adalah benda yang digunakan untuk keselamatan Nabi Musa dari musuhnya Fir’aun.

Tabuik juga dimaknai usungan jenazah yang dibawa selama prosesi acara dari tanggal 1-10 Muharram. Peristiwa Padang Karbala pada 10 Muharram 61 Hijriah adalah sebab dari tradisi ini diperingati oleh kalangan Islam Syi’ah (Brockelmann, 1956; Gibb, 1974). 

Narasi tabuik sendiri, bermula dari peperangan yang melibatkan Hussain dan Yazid. Hussain dan pasukannya tewas, kecuali beberapa perempuan dan anak-anak (Ahmad, 1972: 178). Perang yang tidak seimbang ini, dalam perspektif kesejarahan Syi’ah kerap disebut sebagai pembantaian terhadap Hussain dan rombongannya (Ronkel, 1914). Hussain bagi penganut Syi’ah, dianggap Imam ketiga, pasca wafatnya sang ayah, Ali bin Abi Thalib, dan kakaknya bernama  Hasan bin Ali.

Kematian imam ketiga ini, meninggalkan kolektif memori –terutama di kalangan Syi’ah untuk memperingati hari Asyura. Kebesaran nama Hussain diyakini komunitas Syi’ah di seluruh dunia. Untuk menyebarkan tradisi ini, tiap-tiap orang yang berada di luar lokus utama Persia, menyebarkan di ranah yang mereka tinggali. Inilah jalur yang dimanfaatkan oleh penganut Syi’ah dalam menyebarkan tradisi tabuik –yang bermula dari Benkoelen. 

Baca juga : Denny JA, Fernando Botero Dan Lukisan AI Di Mahakam 24 Residence

Narasi tabuik di Nusantara bermula dari tentara Inggris –berasal dari Tamil India yang kali pertama melaksanakan ritual tabuik pada abad ke-17 (Suryadi, 2010). Militer asal Tamil yang menganut Islam Syi’ah itu, menamakan perayaan Asyura itu dengan sebutan tabot (Sumatra Bode, 21 April 1902)Traktaat London 17 Maret 1824 memaksa Inggris menyerahkan Benkoelen kepada Kolonial Belanda. Sebagai imbalannya, Inggris menerima Tumasik Singapura –yang masih dijangkiti nyamuk malaria dan preador buaya rawa itu.

Militer asal Tamil itu pun berontak. Mereka lari ke bagian utara Pantai Barat Sumatra, tepatnya di Pariaman. Kawasan yang lebih dulu menerima tarekat Syattariyah yang dibawa Syekh Burhanuddin itu pada abad ke-17 itu, segera dikenalkan dengan tradisi tabuik –dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharram. Strategi kultural minoritas Tamil ini berhasil, dan diterima oleh mereka yang menganut Islam Sunni

Sebagai sebuah catatan penting, bahwa di akhir abad ke-19 penganut Syi’ah yang berasal dari India Tamil, sebagian kecil keturunannya menikah dengan perempuan Minang yang bermukim di pinggir Padang. Mereka umumnya bermata pencarian pengrajin, tukang cuci, tukang timah, tukang masak, dan lainnya. 

  

Adsense

Ritual Tabuik: Kesaksian T.F.A Delprat, Robohnya Tabuik Besar di Lautan 

Seorang jurnalis Sumatra Courant bernama Theodore Fransiscus A. Delprat, menjadi saksi sekaligus menulis reportase yang lengkap, mengenai tahapan-tahapan dalam perayaan tabuik. Artikel yang hampir satu halaman penuh itu, dinukilkan dari naskah bertulisan Arab Melayu berjudul, “Tertib Pelaksanaan Taboet Hassan dan Hussain,”.

Setahun sebelum ia menulis reportasenya, pada 1890 Residen Sumatra Westkust EA Taylor Weber melarang perayaan tabuik ini di Padang dan Pariaman. Ada beberapa alasan yang dilontarkan oleh Weber masa itu, di antaranya di Sumatra mayoritas Muslim adalah penganut Sunni dan kontra dengan Syi’ah;  perayaan tabuik memicu kegembiraan yang tidak bermoral; dan sebagian kecil kalangan masyarakat khawatir  perayaan memicu kekerasan.  

Baca juga : Cuaca Besok Jakarta Kamis 6 Juni 2024: Cerah Berawan Mendominasi, Hangat Menanti

Namun, pada Agustus 1890 kembali Weber mengizinkan kembali festival tabuik digelar. Setelah menerima masukan, bahwa ketakutan yang dilontarkan itu tidak terbukti. Karena sebagian besar orang Minang yang merayakan tabuik, menganggap festival ini sebagai kesempatan untuk bersenang-senang dan berpartisipasi. Artinya, bagi masyarakat di Padang dan Pariaman tidaklah berakhir pada keyakinan sebagai peribadatan, melainkan hanya menikmati tradisi yang penuh kegembiraan. 

Selebrasi tabuik di Pantai Barat Sumatra, menurut Delprat hampir sama dengan yang di tempat asalnya di Persia. Beberapa kelompok sibuk membuat replika kuburan (darga) Hussain, dalam bentuk keranda. Dan perayaan itu, dimulai pada 1 Muharram dan mencapai puncaknya pada 10 Muharram, atau bertepatan 10 September 1891 (Sumatra Courant, 11 September 1891). 

Perayaan tabuik pada hari kesepuluh sejak akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20, selalu meriah dan dihadiri ribuan orang di Padang. Tiap-tiap kampung berusaha menampilkan tabuik besar dengan dekorasi dan ornamen terbaik. Tabuik dengan bangunan berukir yang terbuat dari anyaman bambu dan rotan, meniru bangunan masjid, dimana di dalam tabuik  terdapat replika jari terpotong Hussain, patung buraq, dan lainnya –sebagai bentuk doktrin ajaran Syi’ah. 

Tabuah tassa yang dipukul keras, diiringi tabuhan rebana, dan suara seruling mengiringi jalannya tabuik besar menuju pantai Muaro Padang. Peserta yang mengusung tabuik berkeliling, ada yang melompat-lompat, di bawah deru suara yang memekakkan, “Hassan... Hussain..!” (Tjaja Sumatra, 12 Maret 1938). Suasana yang dimaknai dari seruan perang di Padang Karbala, dalam api keyakinan agama yang menyala-nyala, dan diiringi tangisan.

Di tengah Lautan Manusia, Kecopetan, Luka-luka, Hingga Dimakan Hiu

Di tengah perayaan tabuik yang meriah, ada beberapa kejadian yang menyebabkan kericuhan (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indièˆ, 10 Mei 1901).  Robohnya tabuik besar sore haari pukul 16.00 di Muaro Padang, diikuti ribuan penonton.  

Di tengah prosesi yang disaksikan lautan manusia itu, tiga orang pencopet masih sempat beraksi. Namun, malang nasib yang menimpanya. Belum sempat mengamankan hasil curiannya, pencopet yang tertangkap tangan itu diserang di antara kerumunan. Satu orang pencopet ditangkap, dan seorang lainnya dipukuli. Satu orang pencopet lainnya yang tertangkap di tepian pantai dihajar massa dan mereka dipaksa masuk ke dalam air (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indièˆ, 10 Mei 1901).

Baca juga : Jokowi Resmikan Bendungan Sepaku Semoi, Akmal Malik: Suplai Kebutuhan Air IKN

Ketika tujuh tabuik besar  masing-masing dirobohkan, seorang anak laki-laki Belanda –yang menyaksikan tabuik besar Seorang anak laki-laki Eropa, yang melihat dihanyutkannya tabuik, segera masuk ke air bersama-sama dengan penonton lainnya. Namun, si anak tidak menyadari ketika ujung bambu yang tajam dari tabuik besar itu, menghantam kakinya dengan sangat keras. Akibatnya, si anak harus dibawa pulang dengan luka dan pendarahan hebat. 

Peristiwa yang terjadi pada 12 Maret 1938, bahkan memakan korban jiwa. Ketika ratusan orang penonton berebut bagian-bagian dari tabuik besar, dan mandi di lautan, dua orang penonton diseret dan dimakan oleh ikan hiu. Persitiwa ini, sontak membuat penonton lainnya bergegas berenang ke tepian Pantai Muaro Padang (de Sumatra Post, 12 Maret 1938). (*)



Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense