BREAKING NEWS
 

Eksklusif Dengan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar

“Saya Belum Pernah Menyaksikan Suksesi Kepemimpinan Sehalus Seperti Sekarang Ini”

Reporter : BAMBANG TRISMAWAN
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 16 Agustus 2024 08:00 WIB
Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Nasaruddin Umar. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Banyak momen bersejarah dalam perayaan HUT Kemerdekaan ke-79 RI. Selain perayaannya digelar di dua tempat: di Istana Merdeka, Jakarta dan Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, HUT RI kali ini berbarengan dengan transisi kepemimpinan dari Presiden Joko Widodo-Wakil Presiden Ma’ruf Amin ke Presiden terpilih Prabowo Subianto-Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka.

Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. KH Nasaruddin Umar kagum dengan suksesi kepemimpinan saat ini. “Saya belum pernah menyaksikan suksesi kepemimpinan sehalus seperti suksesi kepemimpinan saat ini,” kata Prof Nasar, dalam wawancara eksklusif dengan Rakyat Merdeka, di ruang kerjanya, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (7/8/2024).

Kepada Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Riki Handayani, Pemimpin Redaksi RM Digital/RM.id Firsty Hestyarini, Reporter Bambang Trismawan dan Fotografer Khairizal Anwar, Prof Nasar juga bicara soal makna kemerdekaan. Prof Nasar juga cerita kesiapan Istiqlal menyambut kedatangan pemimpin umat Katolik dunia, Paus Fransiskus, ke Indonesia, 3-6 September nanti. Berikut petikan wawancara selengkapnya:

Prof, kita akan merayakan kemerdekaan Indonesia, kebetulan kita berada di Masjid Istiqlal, yang merupakan simbol dari kemerdekaan itu sendiri. Bagaimana kita memaknai kemerdekaan yang sudah berusia 79 tahun ini?

Baca juga : Indonesia Ajak ASEAN Berantas Kasus TPPO

Kemerdekaan itu perlu dievaluasi secara terus-menerus, karena maknanya sangat luas. Bagi saya, kemerdekaan bukan hanya tentang politik, tetapi juga kebebasan berpikir, berekspresi, berkarya, berpendapat, dan menunjukkan kreativitas.

Menurut Prof, apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Jika melihat perkembangan saat ini, kita sudah mengarah pada kemerdekaan sejati. Kita semakin hari, semakin merasakan kemerdekaan itu, meski penilaian orang bisa berbeda-beda. Saya pribadi melihat ada kematangan dalam bernegara dan berbangsa di Indonesia. Meskipun tentu belum sempurna. Namun, tidak ada negara yang sempurna. Kita tidak perlu mengidolakan negara lain sebagai contoh demokrasi sempurna, karena setiap negara punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Indonesia juga begitu, ada kelebihan, tapi juga ada kekurangan, dan itu adalah pekerjaan rumah kita bersama.

Prof, dalam Islam ada konsep ideal negara, yaitu baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan penuh pengampunan Tuhan). Menurut Prof, apakah kita sudah men dekati ke arah itu?

Baca juga : KPPU Harus Pro-Kepentingan Nasional

Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur itu, harus diukur dari dua dimensi: vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal mencakup hubungan kita dengan Tuhan, sementara dimensi horizontal mencakup hubungan kita dengan sesama manusia. Tidak cukup hanya mengukur dari dimensi vertikal saja, seperti seberapa dekat kita dengan Tuhan. Dimensi horizontal juga harus diperhatikan. Kita adalah negara Pancasila yang berlandas kan pada Ketuhanan Yang Maha Esa, tapi kita juga negara yang mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kedua dimensi ini harus seimbang.

Prof, di Timur Tengah masih terus bergejolak, di Eropa ada perang. Negara kita, Alhamdulillah, stabil. Apa daya rekat yang harus kita bangun agar tetap bersatu?

Kita sebenarnya diuntungkan oleh faktor geografis sebagai negara kepulauan. Masyarakat kepulauan itu memiliki apa yang saya istilahkan sebagai maritime culture atau budaya maritim. Budaya maritim ini mudah menciptakan kohesi sosial karena sifatnya yang egaliter. Sebaliknya, negara-negara kontinental memiliki stratifikasi sosial yang lebih kompleks. Selain itu, kita juga diuntungkan oleh ajaran Islam yang egaliter, yang tidak mengenal warisan kerajaan. Dalam Islam, yang paling bertakwa di mata Allah adalah yang paling mulia, bukan karena keturunan atau nenek moyangnya. Ini sejalan dengan budaya maritim kita yang egaliter. Ditambah lagi, mayoritas umat Islam di Indonesia menganut Ahlussunnah Wal Jamaah, yang secara kultural lebih mudah dipimpin. Indonesia juga diuntung kan oleh sejarah penjajahan. Pengalaman dijajah membuat kita, sebagai masyarakat, lebih akrab satu sama lain, termasuk dengan umat agama lain seperti Kristen, Hindu, dan Buddha. Persamaan senasib sepenanggungan ini membantu kita menyatu sebagai bangsa.

Prof, perayaan kemerdekaan sekarang ini merupakan yang terakhir dalam masa jabatan Presiden Jokowi, dan sebentar lagi akan ada pergantian kepemimpinan dari Pak Jokowi ke Pak Prabowo. Apa yang ingin Prof sampaikan?

Adsense

Baca juga : Pemerintahan Prabowo Mau Bikin Badan Karbon

Saya ingin menyampaikan apresiasi. Saya tidak memiliki afiliasi dengan parpol, dan tidak terdaftar sebagai anggota parpol, tetapi saya tetap memiliki hak politik sebagai warga negara. Dalam pandangan saya, ada tanda-tanda positif dalam proses peralihan kekuasaan ini. Peralihan kekuasaan berlangsung dengan sangat lancar, dan menurut saya, ini adalah kondisi yang ideal. Jika kita melihat sejarah masyarakat Jawa kuno, setiap kali terjadi suksesi kekuasaan, seringkali diwarnai konflik berdarah. Sejarah Jawa penuh dengan kisah kudeta, baik antar keluarga maupun pihak-pihak lain yang terlibat. Hal yang sama juga terjadi di beberapa negara Timur Tengah, di mana suksesi sering kali disertai dengan kudeta. Namun, di Indonesia, situasinya berbeda. Peralihan kekuasaan yang kita alami sekarang sangat mulus. Saya melihat kepemimpinan Pak Jokowi memberikan kesempatan kepada presiden terpilih untuk beradaptasi dengan baik. Saya belum pernah melihat situasi suksesi di Indonesia yang berlangsung sehalus ini. Langkah-langkah yang diambil saat ini mempersiapkan presiden yang akan datang agar tidak menghadapi beban yang bersifat mengganggu atau distortif. Hal ini membuat peralihan kekuasaan menjadi lebih efisien dan efektif, karena presiden yang baru tidak harus memulai dari nol.

Apakah proses transisi ini bisa jadi model bagi transisi di masa yang akan datang?

Orang mungkin memiliki pendapat yang berbeda-beda, tetapi ini adalah pandangan pribadi saya. Saya berharap, proses peralihan kepemimpinan di masa depan akan tetap seperti ini, siapa pun yang terpilih dan dari partai mana pun. Mari kita jalankan estafet kepemimpinan tanpa ada distorsi yang bisa menyedot energi masyarakat. Meskipun proses ini belum final, saya berharap kedepannya, peralihan kekuasaan akan selalu berjalan dengan lancar, efisien, dan tidak membebani masyarakat secara berlebihan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense