BREAKING NEWS
 

Bulan Kesadaran Limfoma Hodgkin: Kenali dan Deteksi Sejak Dini

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 26 September 2024 23:01 WIB
PT Takeda Indonesia menyelenggarakan acara bertajuk Kenali Limfoma Hodgkin, di Jakarta, Kamis (26/9/2024). (Foto: Dok. Takeda)

RM.id  Rakyat Merdeka - Memperingati Bulan Kesadaran Limfoma yang jatuh pada September setiap tahunnya, PT Takeda Indonesia menyelenggarakan acara bertajuk “Kenali Limfoma Hodgkin”, di Jakarta, Kamis (26/9/2024). Acara ini untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Limfoma Hodgkin, sebuah penyakit yang seringkali tidak terdiagnosis dengan tepat hingga mencapai stadium lanjut.

Acara yang mengangkat tema “Saatnya Kita Bicara Jujur tentang Apa yang Kita Rasakan” ini bertujuan tidak hanya untuk mengedukasi publik mengenai pentingnya deteksi dini. Tetapi juga memberikan dukungan bagi para pasien yang tengah berjuang melawan kanker ini dengan menyediakan wadah untuk menyuarakan kebutuhan tatalaksana serta harapan mereka.

Limfoma adalah salah satu jenis kanker yang menyerang sistem limfatik, bagian penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Ada dua jenis utama limfoma, yaitu Limfoma Hodgkin dan non-Hodgkin.

Limfoma Hodgkin, meskipun lebih jarang ditemukan, memiliki ciri khas sel Reed-Sternberg dan sering kali menyerang orang dewasa muda serta mereka yang berusia di atas 55 tahun.

Di Indonesia, kesadaran mengenai Limfoma Hodgkin masih sangat rendah. Gejala-gejalanya yang tidak spesifik sering kali membuat penyakit ini sulit dikenali, dan banyak pasien baru mengetahui bahwa mereka mengidap kanker setelah penyakitnya mencapai tahap lanjut.

Menurut data Globocan 2022, di wilayah Asia Tenggara, tercatat 12.308 kasus baru Limfoma Hodgkin dan 4.410 kematian. Di antara negara lain di Asia Tenggara, Indonesia mencatatkan 1.294 kasus baru dengan kematian sebanyak 373 kasus. Angka ini naik dari data Globocan di tahun 2020 yang mencatat 1.188 kasus baru dengan 363 kematian.

Pakar hematologi-onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, menjelaskan bahwa kondisi Limfoma Hodgkin di Indonesia masih kurang terdiagnosis dengan baik. Banyak pasien baru datang ke dokter setelah penyakit mereka sudah memburuk. Tidak jarang, mereka juga mengalami salah diagnosis karena gejalanya yang tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit lain.

Baca juga : Sebut Tan Paulin Tak Kenal Rita Widyasari, APBMI: Dia Berbisnis Sesuai Aturan

Masyarakat perlu mewaspadai beberapa gejala seperti munculnya benjolan di area kelenjar getah bening, yang dapat disertai dengan gejala sistemik yang kita sebut sebagai B symptoms yang meliputi demam lebih dari 38 derajat celcius tanpa penyebab yang jelas, keringat berlebihan di malam hari, serta penurunan bobot badan lebih dari 10 persen dalam 6 bulan berturut-turut tanpa disertai diet dan penyakit lain. 

“Apabila mengalami gejala seperti itu, segera temui dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang menyeluruh. Karena semakin cepat Limfoma Hodgkin didiagnosis, semakin besar peluang untuk memulai pengobatan yang tepat, dan semakin tinggi angka kelangsungan hidup pasien,” ucap Andhika.

Saat ini, lanjutnya, marak pengobatan herbal dan berbagai pengobatan alternatif yang overclaim dapat mengobati kanker, mengobati benjolan dan lain sebagainya. Padahal, tidak ada pengobatan yang tidak melalui clinical trial atau pengujian klinis.

“Untuk itu, masyarakat harus lebih waspada, serta kritis dengan segala bentuk pengobatan herbal dan sejenisnya yang belum terbukti melalui pengujian klinis,” saran Andhika.

Pentingnya kesadaran terhadap gejala awal juga disampaikan para pasien yang berbagi cerita mereka dalam acara ini. Intan Khasanah, seorang penyintas Limfoma Hodgkin, menceritakan betapa panjang dan sulitnya perjalanan yang ia tempuh sebelum akhirnya mendapatkan diagnosis yang tepat.

"Awalnya, saya didiagnosis TB setelah melalui pemeriksaan biopsi. Saat itu ada 2 benjolan seukuran kelereng yang muncul di leher kanan saya persis setelah saya terkena demam tinggi selama 3 hari,” ucapnya.

Adsense

Akhirnya, selama 8 bulan dia rutin minum obat sembari melakukan kontrol ke RS. Namun, semakin lama kondisinya malah semakin parah, hingga koma dan masuk ICU. Ternyata, ketika melakukan pengecekan ulang di dokter dan RS berbeda, diagnosis yang muncul adalah Limfoma Hodgkin, dan saat itu sudah terlanjur stadium 4.

Baca juga : Ini Beda Liga 1 Dan Liga Spanyol Versi Gelandang Persija

“Mungkin terdengar aneh, tapi saya justru merasa lega saat dapat diagnosis itu. Yang ada di pikiran saya, akhirnya misteri terpecahkan,” ceritanya.

Perjuangan melawan salah diagnosis juga dialami Ias, seorang pasien Limfoma Hodgkin lainnya. Ia berbagi kisah bagaimana awalnya ia didiagnosis saraf terjepit, karena gejalanya mirip. 

“Saya merasakan sakit punggung, demam tinggi, keringat berlebih, dan berat badan turun drastis. Bahkan setelah menjalani MRI, tidak ditemukan sel kanker. Saya juga sempat dicurigai TB,” ucapnya.

Setelah biopsi dan pemeriksaan PET-CT scan, dia mengetahui menderita Limfoma Hodgkin, yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya. “Tantangan terberat yang saya alami adalah panjangnya proses pengobatan,” ceritanya.

Menanggapi tantangan tersebut, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, menekankan pentingnya kolaborasi multi-sektoral untuk memperkuat sistem kesehatan Indonesia. Kementerian Kesehatan sangat menyambut baik kolaborasi lintas sektor dalam memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia.

Kata dia, Pemerintah menyadari tidak dapat bekerja sendirian. Pemerintah sangat memerlukan dukungan dari para pemangku kepentingan terkait, mulai dari sektor swasta, organisasi pasien, hingga masyarakat luas.

“Dengan kerja sama yang baik, kita dapat memberikan perawatan yang lebih baik bagi para pasien, termasuk mereka yang  menderita Limfoma Hodgkin,” jelas dr. Nadia.

Baca juga : Sudah Jadi Epidemi, Kenali dan Waspadai Jenis-jenis Cyberbullying di Dunia Maya

Perjalanan panjang para pasien untuk mendapatkan diagnosis yang benar dan menjalani pengobatan yang tepat menyoroti tantangan besar yang dihadapi oleh mereka yang berjuang melawan kanker, tidak hanya dari segi fisik tetapi juga secara finansial dan mental. Beban psikologis ini tidak hanya dirasakan pasien, tetapi juga keluarga dan orang-orang di sekitar mereka. Oleh karena itu, dukungan yang kuat dari lingkungan sangatlah penting.

Ketua umum Cancer Information and Support Center (CISC), Aryanthi Baramuli Putri, yang juga seorang penyintas kanker, turut menyampaikan pentingnya dukungan bagi pasien kanker.  Kata dia, berbagai tantangan dihadapi pasien kanker, khususnya akses terhadap diagnosis dan pengobatan seperti masalah psikologis, informasi dan keuangan.

“Itulah mengapa CISC didirikan sebagai sebuah organisasi pasien, guna memberikan informasi dan dukungan psikososial. Dari sekitar 3.000 anggota CISC, terdapat sekitar 250 rekan-rekan penyintas Limfoma (termasuk Hodgkin dan non-Hodgkin),” terangnya.

Head of Patient Value Access PT Takeda Indonesia, Shinta Caroline, menegaskan komitmen Takeda dalam mendukung penanganan Limfoma Hodgkin di Indonesia. Takeda berkomitmen untuk terus meningkatkan tatalaksana Limfoma Hodgkin di Indonesia melalui penyediaan obat-obatan yang inovatif, dan lebih dari itu, melalui upaya kolaboratif bersama semua pihak terkait untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia seputar Limfoma Hodgkin.

“Kami tidak hanya ingin menjadi penyedia solusi kesehatan yang tepercaya, tetapi juga mitra jangka panjang bagi pemerintah, organisasi pasien, asosiasi medis, sektor swasta, dan masyarakat luas,” ucapnya.

Fokus utama Takeda, kata dia, selalu pada kepentingan pasien. Yaitu bagaimana bisa memberikan perawatan yang terbaik, meningkatkan kualitas hidup mereka, dan mendukung perjalanan mereka melawan penyakit ini. “Kami percaya bahwa melalui kolaborasi yang kuat, kita dapat menciptakan dampak positif yang nyata bagi pasien Limfoma Hodgkin di Indonesia,” tutup Shinta.

Melalui acara edukasi media ini, PT Takeda Indonesia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini Limfoma Hodgkin, serta memberikan dukungan bagi para pasien yang berjuang melawan kanker ini.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense