RM.id Rakyat Merdeka - Masa kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tinggal menghitung hari. Selanjutnya, estafet pemerintahan beralih ke pemimpin baru, yaitu Prabowo Subianto.
Sesuai jadwal, pada 20 Oktober 2024 mendatang, Prabowo-Gibran akan dilantik sebagai Presiden dan Wapres terpilih periode 2024-2029.
Satu dekade kepemimpinan Jokowi, pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia terus dipacu, sejalan dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ekonomi yang terus mencatatkan pertumbuhan secara berkelanjutan, juga diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, World Bank mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di atas 5 persen dengan tingkat inflasi sebesar 2,58 persen.
Baca juga : Jokowi Sukses Jaga Stabilitas Ekonomi, Pengamat: Sangat Luar Biasa!
Selain itu, World Bank juga mengapresiasi sejumlah program yang telah dilakukan pemerintah Indonesia.
“World Bank merasa program yang dilakukan oleh Indonesia adalah program yang sifatnya masif dan skala besar,” tuturnya.
Diharapkan, Indonesia bisa menjadi percontohan bagi negara-negara lain di dunia.
“World Bank juga mengatakan pentingnya untuk pengembangan transmisi infrastruktur, dan ini menjadi prioritas yang perlu dilakukan oleh pemerintah,” ujar Airlangga.
Pengamat Ekonomi dari Universitas Indonesia Athor Subroto menyatakan, komitmen pemerintah Jokowi merangkul seluruh komponen politisi, memberi sinyal kepada pengusaha dan masyarakat bahwa politik Indonesia sudah dewasa.
Baca juga : Dukung Kemandirian Pangan, JHL Ajak Pengusaha Kembangkan Agribisnis
Dengan begitu, banyak aktor ekonomi merasa percaya diri untuk melakukan aktivitas ekonomi di Indonesia.
“Komitmen adanya transisi yang halus dari pemerintah Jokowi ke Prabowo adalah hal baik, sehingga quick win pemerintahan mendatang bisa berjalan dengan cepat, karena itu hal yang harus disegerakan untuk dilaksanakan,” kata Athor, di Jakarta.
Sementara itu, Pengamat Politik Ekonomi dari Universitas Bung Karno, Faisyal Chaniago mengatakan pertumbuhan ekonomi era Presiden Jokowi bisa dilanjutkan oleh pemerintahan Prabowo.
Seperti halnya peningkatan peran BUMN, yang harus dipikirkan oleh pemerintah selanjutnya.
“Pemerintah selanjutnya harus menjalankan hilirisasi karena ini akan menjadi income terbesar nanti. Jangan sampai ada penurunan kelas menengah karena itu akan mengguncang negara,” ingat Faisyal.
Baca juga : FESyar Jawa Dorong Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah
Terkait dengan pangan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengkomparasi capaian swasembada pangan di era Presiden Jokowi dengan Presiden Soeharto, yang sama-sama luar biasa dan mampu memenuhi kecukupan pangan rakyat.
"Swasembada di era Presiden Jokowi, tiga kali 2017-2019 dan 2020 tidak ada impor beras medium dengan perbandingan penduduknya 200 juta (jiwa). Artinya, upaya kita luar biasa kalau kita mau mengkomparasi dengan tahun 1984. Saya kira kebijakan pangan Pak Harto hebat dan pemerintahan sekarang juga hebat," ujar Amran.
Dia menegaskan, keberhasilan sektor pertanian selama satu dekade terakhir tidak lepas dari kerja keras para petani, yang menjadi pilar utama dalam pembangunan pertanian. Selain itu, kontribusi para kepala daerah dan pemangku kepentingan lainnya juga turut berperan penting.
Semua ini, kata dia, adalah hasil dari kerja keras dan dedikasi para petani di seluruh Indonesia.
"Bapak Presiden Jokowi sangat mengapresiasi mereka, dan saya sebagai Menteri Pertanian juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh petani, termasuk para gubernur, bupati, dan semua pemangku kepentingan,” ungkapnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.