RM.id Rakyat Merdeka - Eksponen Gerakan Mahasiswa 1998 Haris Rusly Moti memandang, pembubaran paksa diskusi yang diselenggarakan Forum Tanah Air (FTA) di Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (28/9/2024), adalah upaya serius kelompok "residu Pilpres". Haris Rusly curiga, kelompok itu merekayasa persepsi seakan-akan keadaan Indonesia tidak normal, gaduh, dan anti-demokrasi.
“Saya menduga kelompok residu Pilpres yang bermain merekayasa situasi gaduh itu bisa saja bergandengan dengan kepentingan geopolitik yang tidak sejalan dengan Presiden terpilih Prabowo,” ucapnya, Senin (30/9/2024)
Apalagi, lanjut Haris Rusly, kabarnya diskusi tersebut dihadiri sejumlah tokoh nasional dan para diaspora Indonesia dari berbagai negara. Kata dia, dapat dianalisa, para pelaku dan dalangnya berharap, melalui jempol para diaspora dari berbagai negara itu, "aksi premanisme" itu viral dan menjadi perhatian warganet di lima benua.
Baca juga : Kasus Pembubaran Diskusi di Kemang, Polisi Tetapkan 2 Tersangka
Karena itu, dia menduga ada tangan gelap yang terus bekerja untuk merekayasa persepsi negatif secara berkelanjutan ke arah pemerintahan saat ini dan pemerintahan berikutnya sebagai pemerintahan yang anti-demokrasi, pemerintahan yang memakai cara-cara preman dalam menyikapi perbedaan.
“Setelah gagal mengadu domba Prabowo dengan Jokowi dan Gibran melalui rumor dan intrik terkait akun fufufafa, isu matahari kembar dalam pemerintahan Prabowo hingga berita palsu apel pasukan berani mati Jokowi, nampaknya mulai ada rekayasa peristiwa premanisme sebagai upaya lanjutan untuk membentuk persepsi negatif,” ucapnya.
Narasi yang bakal digoreng, kata Haris Rusly, bisa sangat tendensius dan menyudutkan seakan-akan Pemerintahan Prabowo-Gibran yang akan dilantik pada 20 Oktober 2024 adalah pemerintahan yang anti-kritik, anti-dialog, anti-demokrasi.
Baca juga : Sukses Digelar, Pemda Dan Kemenag Apresiasi Pelaksanaan Porsadin Ke-6
“Saya mencurigai ada upaya terus-menerus untuk menciptakan suasana gaduh untuk mengganggu stabilitas politik nasional dalam menyambut pelantikan Presiden 20 Oktober 2024 serta Pilkada langsung yang digelar November 2024,” ucapnya.
Karena itu, Haris Rusly mendukung upaya pihak Kepolisian untuk mengungkap dan menindak tegas pelaku dan dalang di balik peristiwa pembubaran diskusi yang digelar FTA di Kemang tersebut.
Dalam menyambut Pelantikan Presiden dan Wapres terpilih 2024, Haris Rusly berharap, para pemangku kepentingan, khususnya pihak keamanan dan penegak hukum, dapat menciptakan cooling system untuk menjaga iklim politik yang kondusif dan demokratis.
Baca juga : Heboh Penampakan Bulan Kembar Di Langit, Ini Lho Fakta Dan Penjelasan BRIN
“Pak Prabowo sangat menghormati perbedaan pandangan yang berkembang di tengah masyarakat, dan selalu mengedepankan dialog dalam mencapai sebuah kesepakatan minimum,” terangnya.
Dalam berbagai kesempatan, kata Haris Rusly, Prabowo, sebagaimana Bung Karno di era perjuangan kemerdekaan 1945, berjuang melalui berbagai sarana politik untuk meyakinkan seluruh elemen dan komponen bangsa agar bersatu padu mengelola negara.
“Karena memang betul, kunci utama tumbuhnya sebuah peradaban bangsa sangat terletak pada persatuan dan kerjasama antarunsur yang beragam di dalam sebuah bangsa. Peradaban bangsa runtuh di antaranya karena pertikaian antarunsur yang beragam yang hidup di dalam bangsa itu,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.