Dark/Light Mode

Heboh Penampakan Bulan Kembar Di Langit, Ini Lho Fakta Dan Penjelasan BRIN

Rabu, 25 September 2024 14:16 WIB
Ilustrasi bulan. Foto: Freepik
Ilustrasi bulan. Foto: Freepik

RM.id  Rakyat Merdeka - Fenomena "bulan kembar" baru-baru ini ramai diperbincangkan di media sosial. Namun, Peneliti Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, meluruskan anggapan tersebut. 

Thomas menjelaskan, istilah "bulan kembar" tidak sepenuhnya tepat. Karena penampakan tersebut lebih disebabkan oleh asteroid yang sementara waktu tertangkap oleh gravitasi Bumi.

"Bulan adalah satu-satunya satelit alami Bumi yang besar dan terlihat dengan mata telanjang," ungkap Thomas dikutip laman resmi BRIN, Selasa (25/9).

Baca juga : Fikri Dan Daniel Trengginas

Namun, ia menambahkan bahwa pada periode tertentu, objek seperti asteroid dapat terperangkap oleh gravitasi Bumi dan disebut sebagai 'bulan mini' atau mini moon.

Salah satu asteroid yang kini menarik perhatian astronom adalah 2024 PT5, yang akan tertangkap oleh gravitasi Bumi mulai 29 September hingga 25 November 2024. 

"Asteroid ini bukan bulan kedua, tetapi karena sementara waktu mengelilingi Bumi, beberapa media menyebutnya 'bulan mini'," jelasnya lebih lanjut.

Baca juga : Pelindo Kenalkan Dunia Kepelabuhanan Ke Siswa SMK Pelayaran

Asteroid ini berukuran hanya 10 meter, jauh lebih kecil dibandingkan dengan Bulan. Thomas menekankan bahwa karena ukurannya yang kecil, asteroid tersebut tidak mungkin terlihat dengan mata telanjang dan tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi. 

Jika masuk ke atmosfer, asteroid ini akan terbakar dan sisa-sisanya kemungkinan jatuh di wilayah tanpa penduduk. "Asteroid seukuran itu pernah jatuh di perairan Bone, Sulawesi, pada 2009," tuturnya.

Meski demikian, fenomena asteroid ini menjadi objek menarik untuk para astronom. Akan tetapi, asteroid 2024 PT5 ini tidak dapat diamati dengan mata telanjang. Karena terlalu redup dan kecil untuk bisa dilihat tanpa bantuan alat khusus.

Baca juga : Turunkan Kemiskinan, Tingkatkan Kesejahteraan

"Observatorium di seluruh dunia sudah bersiap mengamati pergerakan asteroid ini dengan teleskop canggih," tambah Thomas.

Thomas meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan fenomena ini. Ia justru mengajak publik untuk melihatnya sebagai kesempatan belajar tentang objek-objek kecil di tata surya yang sering memberi kejutan.

 "Ini adalah fenomena yang menarik bagi dunia astronomi, meski bagi kebanyakan orang tidak akan terlihat," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.