BREAKING NEWS
 

Temuan FKI: Anak SD yang Anemia 3 Kali Berisiko Working Memory Rendah

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 22 Oktober 2024 23:42 WIB
Paparan hasil penelitian Fokus Kesehatan Indonesia (FKI). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sebuah studi yang dilakukan organisasi kajian nirlaba Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) pada 500 anak Sekolah Dasar (SD) di Jakarta menemukan bahwa anak-anak sekolah dasar yang kekurangan zat besi dan berisiko mengalami anemia, kekurangan energi, dan memiliki perawakan pendek terbukti berisiko gangguan kemampuan belajar. 

Penelitian yang dipimpin langsung Direktur Eksekutif FKI Prof Nila F Moeloek dan Koordinator Riset dan Kajian FKI Ray Wagiu Basrowi ini menyimpulkan, anak dengan kondisi kurang zat besi, kurang energi, dan perawakan pendek karena kurang gizi, berisiko hingga tiga kali lipat lebih tinggi mengalami gangguan memori kerja (working memory) dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki status gizi baik. 

Menurut Prof Nila Moeloek, temuan ini merupakan peringatan keras terhadap masa depan kesehatan dan pendidikan di Indonesia. Sebab, working memory adalah indikator sangat penting untuk keberhasilan belajar anak di sekolah. Working memory itu dibutuhkan agar anak bisa mengikuti instruksi guru, fokus pada tugas pelajaran, bahkan untuk menghafal dan menginterpretasikan informasi jangka pendek.

“Kalau skor working memory-nya rendah, maka proses dasar otak untuk belajar selama sekolah tidak akan berjalan dengan baik,” ungkap Menteri Kesehatan periode 2014-2019 ini.

Baca juga : Wali Kota Depok Idris Dilaporkan Ke Bawaslu

Ray Wagiu Basrowi menambahkan, penelitian FKI ini membuktikan bahwa fakta adanya kondisi kurang gizi, dan anemia defisiensi besi pada anak SD bisa mengancam prestasi akademik murid SD di kemudian hari.

“Dari evaluasi kami juga ditemukan bahwa murid SD kelas 3 hingga 5 di Jakarta hampir 30 persen anak yang anemia mengalami gangguan memori kerja. Gangguan ini secara langsung berdampak pada kemampuan mereka untuk konsentrasi, memproses dan menyimpan informasi saat belajar,” ungkap pendiri Health Collaborative Center (HCC) ini.

Adsense

Lebih dari 19 persen anak-anak dalam studi ini juga terbukti mengalami anemia, yang sebagian besar disebabkan kekurangan zat besi. Prof Nila Moeloek dan Ray Basrowi menjelaskan, anemia bukan hanya masalah kesehatan fisik tetapi juga sangat memengaruhi kemampuan kognitif anak-anak. Anak-anak dengan anemia memiliki skor memori kerja yang jauh lebih rendah, bahkan berdampak klinis yang sangat nyata

“Anemia kurang besi secara langsung membatasi kemampuan anak untuk menyerap informasi, berpikir logis, dan berpartisipasi aktif di kelas," ujar kedua inisiator Fokus Kesehatan Indonesia (FKI) ini.

Baca juga : Ungkap Kasus Penemuan 7 Mayat Di Kali Bekasi, Polda Tetapkan 15 Orang Tersangka

Prof Nila Moeloek menegaskan, penelitian ini menunjukkan bahwa kurangnya asupan zat gizi makro adalah penyebab mayor dari masalah ini. Sebanyak 28 persen anak-anak memiliki asupan energi yang tidak mencukupi, dan lebih dari 63 persen anak kekurangan karbohidrat.

Dia menegaskan, ini adalah fakta yang bisa dihubungkan secara medis bahwa anak-anak SD banyak yang tidak cukup makan, sehingga asupan gizi terutama gizi makro menjadi tidak cukup. “Padahal asupan gizi makro ini penting sekali karena langsung dipakai tubuh dan otak sebagai energi untuk aktivitas, berpikir, bermain, dan belajar, jadi kalau memang makan tidak cukup makan energinya juga tidak tersedia untuk belajar dan bermain di sekolah," terangnya.

Jika gangguan memori kerja ini tidak segera ditangani, dampaknya pada kualitas pendidikan di Indonesia akan semakin besar. Anak-anak yang memiliki gangguan memori kerja tidak hanya kesulitan belajar, tetapi juga akan mengalami kesulitan dalam mencapai potensi penuh mereka dalam kehidupan sosial dan karier di masa depan.

Menurutnya, ini bukan hanya masalah kesehatan individu, tetapi juga masalah ekonomi. “Yang ditemukan dalam penelitian ini adalah puncak gunung es, dan jika tidak ada intervensi segera, kita akan melihat generasi yang terjebak dalam lingkaran kekurangan gizi, pendidikan yang tidak baik, dan hilangnya kesempatan hidup berkualitas,” ucapnya.

Baca juga : Tingkatkan Literasi Anak, Orang Tua Harus Beri Contoh Sering Baca Buku

Dalam penelitian oleh tim yang diperkuat Tonny Sundjaya, Kianti Raisa, dan Eric Tjoeng ini, menegaskan pentingnya tindakan segera. Program intervensi gizi yang menyeluruh dan berkelanjutan harus menjadi prioritas utama pemerintah. Program pemberian makan siang bergizi di sekolah juga menjadi salah satu potensi solusi, asalkan dijalankan dengan baik dan memastikan makanan dikonsumsi secara habis di sekolah oleh semua murid.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense