Sebelumnya
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), lanjut Hanif, ancaman hidrometeorologi diperkirakan terus meningkat seiring dengan tingginya curah hujan. Sebab itu, dia mengimbau masyarakat tetap siaga, terutama dalam menjaga kesehatan lingkungan.
Sementara, Pejabat (Pj) Gubernur Jabar Bey Machmudin mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi izin tambang di Kabupaten Sukabumi.
Dia memastikan, Pemprov Jabar akan mencabut izin perusahaan yang tidak menjalankan atau melanggar aturan, termasuk yang tidak melakukan pelestarian kembali.
Baca juga : Petahana Tak Terima Kalah Melawan Artis
“Kenapa diberikan izin, apakah betul menjaga lingkungan? Kan bisa kami cek. Prinsipnya, kami akan menegakkan aturan. Kalau ada melanggar (aturan), ya kami cabut izinnya,” tegas dia.
Senada, Bupati Sukabumi Marwan Hamami mengungkapkan, pihaknya telah menginstruksikan para Kepala Desa agar lebih cermat sebelum memberikan rekomendasi kepada investor tambang. Dia pun akan melakukan pengecekan dan pengawasan aktivitas para perusahaan tambang yang ada di wilayahnya.
“Sebab, dasar awal perizinan untuk melakukan kegiatan itu, ada di desa. Rekomendasi yang muncul, baik ke gubernur maupun kementerian, setelah proses di bawah (desa),” cetusnya.
Baca juga : DPR: Langkah Yang Tepat Berantas Penyelewengan
Perbincangan tentang kerusakan lingkungan, akibat aktivitas tambang di Sukabumi ramai diperbincangkan netizen di media sosial X.
“Kalau mau bukti kerusakan lingkungan, cari saja tambang sekitar Geopark Ciletuh Sukabumi, dijamin anda-anda tercengang,” cuit akun @Risqimuslim.
“Inilah bukti keadaan sekitar sungai Cikaso, Sukabumi setelah banjir bandang. Banjir bandang yang menerjang Sukabumi di sebabkan oleh aktivitas pertambangan,” tulis akun @txtdarisukabumi, dengan menautkan video tentang kondisi wilayah DAS Cikaso pasca bencana.
Baca juga : Semua Kolong Tol Di DKI Bakal Disulap Jadi Taman
“Kalau melihat dari dekat bagaimana terjadinya bencana hidrometeorologi di Sukabumi, mulai dari banjir, longsor, sampai pergeseran tanah, kita akan sama-sama tahu, apa faktor utamanya? TAMBANG,” timpal akun @thoriqatuna.
Akun @Rizal010102 memiliki pendapat berbeda. Dia menilai, aktivitas tambang di Sukabumi, bukan satu-satunya pemicu bencana. Sebab, ada juga alih fungsi lahan untuk pemukiman.
“Kita harus lihat secara keseluruhan. Kalau kita perhatikan, daerah Sukabumi sampai Bogor, dulu mempunyai banyak lahan sawah atau ladang. Sekarang, lahan-lahan itu banyak yang disulap jadi rumah mewah atau vila,” imbuhnya. [SSL]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.