Perjalanan saya mengenal Prof. Burhanuddin Abdullah ( Prof BA ) dimulai ketika kami sama-sama tergabung dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran. Beliau, sebagai Ketua Dewan Pakar, dan saya sebagai salah satu anggotanya.
Dari setiap diskusi dan pertemuan, saya mendapati sosok yang bukan sekadar seorang ekonom ulung, tetapi juga seorang pemimpin yang mengedepankan kebijaksanaan, keteguhan prinsip, dan kerendahan hati.
A. Jejak Panjang di Dunia Ekonomi
Prof. Burhanuddin Abdullah lahir di Garut, Jawa Barat, pada 10 Juli 1947. Sejak muda, beliau telah menunjukkan kecakapan intelektual yang membawanya menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, sebelum akhirnya melanjutkan studi magister di bidang Ekonomi di Michigan State University, Amerika Serikat.
Kariernya di Bank Indonesia dimulai dari jenjang bawah hingga akhirnya mencapai posisi puncak sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2003–2008.
Di luar perannya di bank sentral, beliau juga pernah dipercaya sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di era Presiden Abdurrahman Wahid.
Baca juga : Alhamdulillah, Erick Tegaskan BUMN Tak PHK Pegawai Meski Efisiensi Anggaran
Ini menegaskan kapasitasnya sebagai seorang teknokrat dengan pemahaman ekonomi makro yang solid, serta seorang negarawan yang memahami kompleksitas pembangunan ekonomi dalam bingkai kebangsaan.
B. Pemimpin yang Inklusif dan Mengayomi
Dalam setiap kesempatan, Prof. Burhanuddin Abdullah selalu menampilkan gaya kepemimpinan yang inklusif. Ia bukan tipe pemimpin yang sekadar berbicara dan mengarahkan, tetapi lebih banyak mendengar, mencerna, dan meramu gagasan dari berbagai pihak untuk melahirkan kebijakan yang strategis dan aplikatif.
Di dalam Dewan Pakar TKN, saya menyaksikan langsung bagaimana beliau membuka ruang diskusi bagi berbagai perspektif, termasuk dari kalangan muda yang mungkin belum memiliki pengalaman panjang, tetapi kaya akan inovasi dan semangat pembaruan.
Sikap ini menunjukkan bahwa baginya, kepemimpinan bukan sekadar soal usia atau hierarki, melainkan soal kesediaan untuk belajar dari siapa pun demi kebaikan bersama.
Prinsip ini tercermin dalam salah satu kutipan favoritnya: "Pemimpin yang baik bukanlah yang paling pandai berbicara, melainkan yang paling mau mendengar."
Baca juga : Mendikdasmen: Budaya Baca dan Kecakapan Literasi Bangun Peradaban Bangsa
Sebagai anggota Dewan Pakar, saya merasakan atmosfer kerja yang tidak hanya penuh dengan pemikiran kritis, tetapi juga dihiasi dengan ketulusan untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa.
C. Gagasan Besar untuk Kemajuan Ekonomi
Dedikasi Prof. Burhanuddin Abdullah terhadap pembangunan ekonomi nasional tidak hanya berhenti di tataran konsep.
Beliau aktif menggagas berbagai inisiatif strategis, salah satunya melalui pendirian BA Centre, sebuah wadah tempat berkumpulnya para pakar lintas disiplin yang bertujuan melahirkan gagasan-gagasan terbaik bagi kemajuan bangsa.
Kedekatannya dengan Presiden Prabowo Subianto juga menandakan besarnya kepercayaan terhadap pemikirannya. Dalam berbagai kesempatan, beliau kerap menjadi arsitek kebijakan ekonomi, termasuk dalam perancangan Danantara, sebuah badan pengelola investasi yang dirancang untuk mengoptimalkan aset negara dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Danantara bukan sekadar ide di atas kertas, tetapi sebuah visi besar yang ingin membawa Indonesia keluar dari pola lama dalam manajemen pengelolaan BUMN, menuju era di mana aset negara dikelola secara profesional dan produktif untuk kepentingan rakyat.
Baca juga : Pengecer Berubah Jadi Sub Pangkalan, DPR: Tujuannya Baik, Agar Bisa Dikontrol
Melalui berbagai langkah dan inisiatifnya, Prof. Burhanuddin Abdullah menunjukkan bahwa ekonomi bukanlah sekadar angka dan statistik, tetapi sebuah instrumen untuk menciptakan keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.
D. Penutup: Seorang Guru dalam Kepemimpinan
Bagi saya, Prof. Burhanuddin Abdullah bukan hanya seorang ekonom atau teknokrat, tetapi juga seorang mentor dalam kepemimpinan. Keberanian, ketulusan, dan kejernihan visinya menjadi pelajaran berharga yang patut dicontoh oleh generasi penerus.
Di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang, sosok seperti beliau menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang sejati bukan hanya tentang bagaimana kita memimpin, tetapi juga bagaimana kita memberdayakan orang lain untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.