BREAKING NEWS
 

Modifikasi Cuaca Efektif Kurangi Intensitas Hujan Ekstrem

Reporter : DIDDY RIDJADI
Editor : FAZRY
Kamis, 13 Maret 2025 19:28 WIB
Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan dengan menyebarkan bahan khusus ke awan yang berpotensi menurunkan hujan lebat. (Foto:Diskominfo Jabar)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan BMKG dan TNI AU terus menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 20 Maret 2025.

Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di tengah meningkatnya curah hujan ekstrem di wilayah tersebut.

Menurut Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Jawa Barat Edwin Zulkarnain, beberapa daerah seperti Bogor dan Bekasi telah menetapkan status tanggap darurat akibat curah hujan tinggi.

BMKG juga memprediksi hujan dengan intensitas menengah hingga lebat masih akan berlangsung sepanjang Maret.

"Melalui OMC, kami berharap dapat mengurangi intensitas hujan ekstrem, sehingga wilayah rawan bencana lebih siap menampung curah hujan tanpa mengalami dampak yang parah," ujar Edwin, Kamis (13/3).

Bagaimana OMC Bekerja?

Baca juga : Modifikasi Cuaca Di Jakarta Berhasil Kurangi Curah Hujan Sampai 80 Persen

OMC dilakukan dengan menyebarkan bahan khusus ke awan yang berpotensi menurunkan hujan lebat.

Penyemaian ini dilakukan menggunakan pesawat yang terbang ke titik-titik tertentu berdasarkan pemantauan radar dan citra satelit.

Ketua Tim Teknik OMC BMKG Pusat Bayu Prayoga menjelaskan, bahan yang digunakan dalam penyemaian umumnya berupa natrium klorida (garam) atau bahan higroskopis lainnya.

Bahan ini mempercepat pembentukan butiran air dalam awan, sehingga hujan turun lebih cepat atau di lokasi yang lebih aman, seperti di laut.

Adsense

"OMC ini bukan untuk menghilangkan hujan sepenuhnya, karena itu membutuhkan daya yang sangat besar. Namun, melalui penyemaian yang tepat, kita bisa mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah rawan banjir dan longsor," kata Bayu.

Hasil Awal dan Evaluasi OMC

Baca juga : Jakarta Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca Guna Kurangi Curah Hujan

Sejak operasi dimulai, pesawat telah melakukan penyemaian awan tiga kali sehari.

Hasilnya, hujan berhasil dialihkan ke laut, sehingga curah hujan yang turun di daratan berkurang intensitasnya.

BMKG berperan dalam menentukan titik pertumbuhan awan yang menjadi target penyemaian, sementara pilot dan tim teknis dari TNI AU memastikan bahan semai tersebar secara optimal.

Bayu juga menegaskan bahwa air hujan hasil OMC tidak berbahaya bagi lingkungan maupun manusia.

"Air hujan yang dihasilkan dari OMC sama dengan hujan alami. Kami juga rutin melakukan uji laboratorium untuk memastikan hal ini," jelasnya.

Baca juga : Kebangkitan Koperasi Indonesia dan Kemandirian Ekonomi Desa

Menanggapi kekhawatiran masyarakat mengenai potensi banjir rob akibat OMC, Bayu menegaskan bahwa banjir rob lebih dipengaruhi oleh faktor astronomis, seperti pasang naik air laut, bukan oleh hujan hasil penyemaian.

"OMC tidak menyebabkan banjir rob, karena hujan yang turun di laut tersebar di area yang luas. Banjir rob terjadi karena siklus alami pasang surut air laut," tuturnya.

Sinergi untuk Mitigasi Bencana

Hingga hari ketiga pelaksanaan, tim di Posko Komando Husein Sastranegara terus memantau dan mengevaluasi hasil penyemaian secara real-time.

Setiap hari, setelah penerbangan terakhir, tim melakukan analisis dan menyusun strategi penyemaian untuk hari berikutnya.

"Ini adalah wujud nyata kerja sama lintas sektor dalam mengantisipasi dampak bencana. Kami harap masyarakat dapat memahami bahwa OMC adalah salah satu solusi mitigasi risiko di tengah tingginya curah hujan," pungkas Bayu.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense