Belum genap 100 hari sejak resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 24 Februari 2025, Badan Pengelola Investasi Danantara sudah menunjukkan taringnya. Di bawah kepemimpinan Rosan Roeslani, Danantara berhasil menjalin kesepakatan prestisius dengan Qatar Investment Authority (QIA) senilai US$4 miliar.
Acungan jempol layak diberikan. Tidak hanya karena keberhasilan mengamankan kemitraan investasi bernilai besar, tetapi juga karena keberanian Danantara untuk menyasar sektor-sektor strategis jangka panjang dan salah satunya adalah sektor yang sering dianggap sunyi dalam prioritas pembangunan: pariwisata.
Dalam lanskap global, pariwisata telah berevolusi menjadi experience economy, di mana nilai ekonomi bukan hanya berasal dari produk, tetapi dari cerita, makna, dan pengalaman. Danantara tampaknya memahami arah angin ini. Melalui rencana investasinya bersama QIA, hospitality, wellness tourism, serta sustainable destination development menjadi kata kunci yang mulai muncul dalam strategi investasi nasional.
Baca juga : Kolaborasi Lintasarta dan NVIDIA Percepat Adopsi AI di Indonesia
Apa maknanya bagi Indonesia?
Pertama, ini adalah peluang langka untuk mengangkat industri pariwisata Indonesia ke level baru dari sekadar destination-based tourism menjadi impact-based tourism, yang berkelanjutan, inklusif, dan menciptakan nilai tambah jangka panjang.
Kedua, kehadiran investor institusional seperti QIA dalam pengembangan sektor pariwisata menandakan meningkatnya global trust terhadap kapabilitas Indonesia dalam mengelola proyek-proyek investasi yang bankable dan berkelas dunia.
Baca juga : Diantar Raja Abdullah II, Prabowo Disambut Antusias Diaspora Indonesia
Apalagi, salah satu BUMN yang disuntikkan sahamnya ke Danantara adalah PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney). Artinya, Danantara kini memegang kendali strategis atas aset dan portofolio pariwisata nasional. Dari bandara, destinasi premium seperti Mandalika dan Labuan Bajo, hingga jaringan hotel dan atraksi, semua bisa dikembangkan dengan pendekatan investasi yang terukur dan profesional.
Namun seperti semua orchestra megah, diperlukan conductor yang memahami nada-nada halus sektor ini. Indonesia membutuhkan tim penggerak kebijakan yang tidak hanya paham teori, tetapi juga merasakan denyut nadi industri on the ground yang tahu membedakan antara visitor dan traveler, antara growth dan impact.
Dalam konteks inilah, saya meyakini bahwa Indonesia memerlukan lebih banyak pemikir dan pelaku yang mampu menjembatani kepentingan investasi dengan nilai-nilai luhur kepariwisataan nasional. Momentum yang dibuka oleh Danantara ini adalah panggilan bagi seluruh anak bangsa untuk bersinergi, berkontribusi, dan memastikan bahwa setiap dolar yang masuk juga membawa manfaat jangka panjang bagi masyarakat, lingkungan, dan identitas budaya kita. Karena pariwisata sejatinya bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan wajah peradaban yang kita tunjukkan kepada dunia.
Baca juga : MotoGP Qatar, Peco Makin Pede Gegara Ban
Bersama Danantara, saatnya Indonesia membuktikan bahwa pariwisata bukan hanya soal keindahan lanskap, tetapi juga tentang kekuatan tata kelola, inovasi finansial, dan keberanian mengambil peran strategis dalam peta dunia.
Kita tidak sedang menunggu keajaiban. Kita sedang menciptakannya.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.