Sebelumnya
“Dan minggu ini ada perang yang makin dekat ke negara kita. Nggak jauh ini, beberapa jam penerbangan sudah sampai di daerah konflik dua negara yang punya senjata nuklir. Perang makin dekat ke negara kita,” tutur Hasan.
Sekadar mengingatkan, Prabowo pernah memprediksi soal ancaman perang di dunia pada 2019. Hal itu terjadi saat debat calon presiden. Saat itu, Prabowo bilang, tidak boleh menganggap tidak akan terjadi perang.
Keyakinan Prabowo itu diperoleh berdasarkan pengalamannya. Kata dia, saat masih aktif di dinas kemiliteran tahun 1974, atasannya bilang tak akan ada perang dalam 20 tahun ke depan. Namun, 1975, pecah konflik bersenjata di Timor-Timur. Makanya, Pemerintah seharusnya memperkuat sektor pertahanan sebagai antisipasi.
Baca juga : Angkanya Terus Naik, Utang Warga Ke Pinjol Tembus 80 T
Pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyatakan, sebenarnya Presiden Prabowo menyampaikan peringatan serupa sejak bertahun-tahun lalu, bukan hanya 2019. Menurutnya, prediksi Prabowo soal potensi pecahnya konflik global memang bukan spekulasi kosong.
“Itu hasil kalkulasi strategis yang berbasis pada pembacaan cermat terhadap tren geopolitik, dinamika dan ketimpangan ekonomi global, serta kerentanan sistem multilateral, terutama yang telah menopang perdamaian pasca-Perang Dingin,” kata Khairul kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (10/5/2025).
Diingatkan, kini dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar. Berbagai kekuatan besar bersaing memperluas pengaruhnya, bukan hanya melalui kekuatan militer konvensional, tetapi juga lewat tekanan ekonomi, teknologi, bahkan disinformasi. Amerika Serikat, China, Rusia, India dan kekuatan besar lainnya, bersaing dalam berbagai dimensi dari militer, ekonomi, hingga teknologi.
Baca juga : Soal Kesederhanaan, Paus Leo = Paus Fransiskus
Dalam konteks inilah, sambungnya, prediksi Prabowo menjadi relevan dan terbukti akurat. Prabowo membaca arah angin strategis lebih awal.
Sehingga, tegas Khairul, dalam situasi seperti ini, kesiapsiagaan dan daya tahan nasional bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan militer saja secara terpisah, melainkan harus memperkuat kolaborasi seluruh sektor strategis. Dari ketahanan pangan dan energi, teknologi pertahanan, hingga kohesi sosial dan ketangguhan informasi.
Penekanan Prabowo selama ini, sambungnya, termasuk soal pentingnya swasembada, kemandirian industri pertahanan, dan pembangunan SDM strategis, menjadi relevan dalam kerangka ini. “Bahwa apa yang beliau sampaikan bukanlah omon-omon, melainkan peringatan dini yang lahir dari visi jangka panjang dan pengalaman dalam membaca dinamika ancaman,” ujarnya.
Baca juga : Kloter Pertama Tiba Di Makkah, Jemaah Haji Disambut Selawat
Diterangkan Khairul, kesiapan Indonesia menghadapi kemungkinan buruk konflik di kawasan sangat bergantung pada ketahanan nasional secara menyeluruh. Di sinilah urgensi membangun postur pertahanan yang modern, mandiri, dan responsif terhadap spektrum ancaman tradisional dan non-tradisional, konvensional dan non-konvensional, masa kini dan masa depan, yang selama ini telah menjadi perhatian utama Prabowo. [FAQ]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.