RM.id Rakyat Merdeka - Ada beberapa Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait Makan Bergizi Gratis (MBG). Per 12 Mei 2025, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat 17 KLB keracunan di 10 provinsi.
Namun, tidak serta merta MBG disebut gagal total atau bisa dihentikan secara gegabah. Pandangan itu disampaikan Guru Besar Ekonomika-Bisnis dan Pasca Sarjana Ilmu Ketahanan Nasional UGM, Gunawan Sumodiningrat.
"Jika ada kelemahan atau masalah, fokus utama pada perbaikan dan penyempurnaan mekanisme program. Bukan langsung menghentikannya," kata Gunawan dalam keterangannya, Sabtu (17/5/2025).
Mengenang pengalaman bakti kerjanya, eks Deputi Kepala Bappenas dan Dirjen Pemberdayaan Sosial Kemensos itu melihat kemiripan realita program serupa dalam pemberdayaan pedesaan. Memang MBG butuh waktu, proses, dan evaluasi yang panjang.
"Iblis seringkali bersembunyi dalam detail. Keberhasilan MBG yang niatnya bagus itu sangat ditentukan oleh perencanaan cermat, pelaksanaan yang bersih dan efisien, pengawasan ketat, serta kemampuan beradaptasi dan melakukan perbaikan berkelanjutan berdasarkan evaluasi di lapangan," beber Gunawan.
Baca juga : PLBN Serasan Didorong Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Perbatasan
Menurut inisiator gerakan 'Membangun Indonesia Dari Desa, Berbasis Ekonomi Kreatif' itu, jika MBG dihentikan secara tiba-tiba akan berdampak luas secara sosial, ekonomi, dan politik kenegaraan.
"Penghentian MBG akan menurunkan kepercayaan masyarakat. Pemerintah akan terkesan tidak serius dalam perencanaan dan pelaksanaan program untuk masyarakat," tandas Gunawan.
"Terutama bagi mereka yang sudah merasakan manfaatnya atau bagi UMKM yang sudah terlibat," imbuhnya.
Untuk meminimalisir kasus keracunan massal, Gunawan mendukung pemerintah dan mitra terkait senantiasa menjaga konsistensi kualitas, variasi menu, dan standar gizi di ribuan titik penyediaan.
"Termasuk tantangan memastikan pasokan bahan baku lokal berkualitas dan berkelanjutan. Juga mencari solusi keterbatasan tenaga terampil untuk memasak, mengelola, dan mengawasi program di pelosok daerah," tutur eks Sekretaris Komite Penanggulangan Kemiskinan itu.
Baca juga : Luhut: Perlambatan Ekonomi Hal Wajar, MBG Bisa Jadi Motor Penting
Lebih jauh, lanjut Gunawan, MBG bakal jauh lebih efektif jika diintegrasikan dengan program-program lain. Seperti edukasi gizi, layanan kesehatan, sanitasi dan air bersih, parenting dan pemberdayaan ekonomi keluarga.
"MBG harus disertai upaya untuk mendorong perubahan perilaku menuju pola hidup sehat dan makan bergizi secara mandiri di masyarakat," tandasnya.
Sebelumnya, Kepala BPOM Taruna Ikrar membeberkan penyebab 17 KLB keracunan karena kontaminasi pada bahan mentah serta perkembangan bakteri akibat suhu kondisi makanan.
"Dengan sumber kontaminasi bahan mentah lingkungan pengelola penjamin. Kita belajar supaya berikutnya tidak terjadi lagi," ujar Ikrar di DPR, Kamis (15/5/2025).
"Yaitu kita juga mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan akan bakteri bagi suhu, kondisi makanan, proses," tambahnya.
Baca juga : Ikutan Lari Marathon Pakai Gaun Pengantin
Dari 17 temuan itu, beberapa makanan diketahui dimasak terlalu cepat tapi lambat untuk didistribusikan. Akibatnya, makanan itu sampai ke siswa dalam keadaan yang tidak segar lagi.
"Kemudian ada hal yang perlu kita perhatikan betul tentang kegagalan pengendalian keamanan pangan yang hubungannya dengan higienis dan sanitasi," terang Ikrar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.